Oleh : Muslimin.M
Namanya Andik. Lulusan kampus negeri yang cukup terkenal. Nilai IPKnya tidak buruk, bahkan diatas rata-rata. Sepatunya pantofel, rambutnya klimis.Tapi sudah dua tahun ini kerja tetapnya cuma satu yaitu *menunggu*.
Bukan menunggu panggilan kerja.Tapi menunggu waktu lewat,
di warung kopi, sambil scroll lowongan kerja yang tiap hari makin mirip undian, langka dan entah benar atau tidak.
“Saya bisa desain. Bisa tulis. Bisa jadi admin juga,” katanya.
Tapi entah kenapa, selalu kalah dari syarat, “Minimal pengalaman 2 tahun.”
Pengalaman.! Sesuatu yang hanya bisa didapat kalau diberi kesempatan. Tapi tak pernah diberi karena belum berpengalaman. Seperti ayam dan telur versi dunia kerja.
Orang tua Andik mulai resah. Bukan karena dia tidak mencoba.Tapi karena tetangga mulai bertanya, “Masih nganggur ?”
Lebih menyakitkan dari ditolak perusahaan adalah ditertawakan oleh yang tidak tahu perjuangan.
Dan ini bukan hanya Andik, Ini ratusan ribu Andik. Di seluruh negeri. Anak-anak muda yang tumbuh dengan janji, *Sekolah yang tinggi, kerja yang pasti*, Tapi setelah wisuda, justru tenggelam dalam ketidakpastian.
Ada yang banting setir jadi kurir. Ada yang buka jasa print di rumah. Ada juga yang kembali ke desa, bukan karena idealis, tapi realistis, lebih murah hidup tanpa sewa dan macet.
Kita punya jutaan pemuda. Tapi tanpa kerja nyata, mereka hanya jadi angka. Dan angka tidak bisa membangun negara, yang bisa hanya manusia yang diberi kesempatan.
Realitas yang menyedihkan
Saya sering mendengar kalimat, “Anak sekarang malas, maunya instan, kerja maunya enak.” Saya tidak menampik bahwa mungkin ada sebagian yang seperti itu, tapi rasanya tidak adil jika semua anak muda yang sedang menganggur langsung dicap gagal dan tidak berusaha.
Saya melihat banyak anak muda yang sudah lulus kuliah, punya gelar sarjana, tapi tetap sulit mendapat pekerjaan. Bukan karena tidak pintar, tidak mau bekerja, tapi karena memang lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja.
Apalagi sekarang, lowongan di pemerintahan ( CPNS) sangat terbatas, perusahaan banyak yang mencari karyawan berpengalaman. pertanyaannya, kapan bisa mulai jika semua lowongan butuh pengalaman ?
Saya menilai bahwa sistem pendidikan kita juga kurang mempersiapkan untuk dunia kerja nyata. Lebih banyak menghafal teori, tapi kurang diajarkan keterampilan praktis, soft skills seperti komunikasi, berpikir kritis, cara menghadapi wawancara kerja. Akibatnya, saat terjun ke dunia kerja, banyak yang bingung harus mulai dari mana.
Saya juga memahami bahwa di era digital ini, sebetulnya ada banyak peluang baru, seperti content creator, freelance, jualan online, atau membangun startup.Tapi tidak semua anak muda punya akses ke modal, perangkat, koneksi yang mendukung.
Dan jujur saja bahwa tidak semua orang cocok menjadi pengusaha. Kadang kita hanya ingin bekerja, mendapat penghasilan tetap dan hidup mandiri, sesederhana itu sebetulnya.
Menyalahkan anak muda sepenuhnya atas masalah pengangguran itu tidak adil. Masalah ini kompleks, rumit dan tanggung jawabnya bukan hanya di pundak anak muda saja, tapi juga pemerintah, dunia pendidikan dan dunia industri. Kita butuh ekosistem yang mendukung, bukan justru meremehkan.
Anak muda bukan malas, bukan tidak mau bekerja, bukan tidak pintar, tapi butuh kesempatan, butuh perhatian serius dari negara.(**)
