Sumbu Borneo

20%, ANTARA ANGKA DAN REALITA

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Itu adalah angka yang selalu diulang-ulang pemerintah setiap kali berbicara soal pendidikan. Dua puluh persen APBN tahun ini atau setara lebih dari 700 triliun.

Tapi murid di pelosok masih duduk di lantai. Guru masih bingung dengan administrasi.
Dan orang tua masih harus membeli perlengkapan anaknya.

Saya sering mendengar pejabat bangga mengucapkan angka itu. Tapi jarang yang mau turun langsung ke sekolah kecil
di pelosok. Untuk melihat bagaimana kapur tulis masih dipotong menjadi dua agar lebih hemat. Bagaimana meja patah diikat dengan tali rafia.

Pendidikan kita memang mendapat anggaran terbesar.Tapi kenapa kualitasnya paling kurus ?

Saya pernah lewat di salah satu sekolah dasar di kampung kecil. Gedungnya baru dicat.Tapi muridnya hanya setengah kelas. Sebagian berhenti sekolah. Alasannya sederhana, biaya transportasi, jarak rumah terlalu jauh.

Apa gunanya anggaran besar kalau akses tidak ada ?
Apa gunanya membangun gedung baru kalau muridnya tak bisa datang ?

Itulah masalah kita bahwa uang banyak, tetapi tidak sampai ke tempat yang benar.
Kebanyakan berhenti di birokrasi.
Kebanyakan habis di rapat, perjalanan dinas, dan program-program yang lebih suka dilaporkan ketimbang dirasakan.

Harusnya kita belajar. Anggaran pendidikan bukan soal berapa banyak, tapi
kemana larinya.
Kalau keruang rapat, hasilnya laporan.
Kalau keruang kelas, hasilnya masa depan.

*Gemuk, kualitas kurus*

Setiap tahun anggaran pendidikan kita selalu naik dan tahun ini mendapatkan anggaran terbesar lebih dari 700 triliun.

Tapi kualitasnya ?
Masih kurus.

Ranking PISA kita tetap seirama
di bawah.
Murid-murid
di pedalaman masih belajar di ruang kelas yang setengah roboh.Guru masih sibuk mengisi laporan, bukan mengajar.

Di sisi lain, sekolah di kampung kecil masih memakai papan tulis pecah. Meja patah. Kapur tulis dibagi dua.

Ironis.
Anggaran pendidikan kita seperti tubuh yang gemuk. Tapi, gizinya salah. Banyak lemak, sedikit protein. Banyak seremonial, sedikit kualitas.

Mengapa begitu ?
Karena anggaran terlalu banyak singgah di meja birokrasi.
Di laporan-laporan.
Di rapat-rapat.

Saya teringat Jepang. Anggaran pendidikannya mungkin tidak sebesar kita, kalau dibandingkan persentase GDP.Tapi hasilnya beda jauh. Mengapa ?
Karena setiap yen digunakan langsung untuk murid. Untuk guru. Untuk penelitian.

Di kita, guru masih gaji minim. Banyak yang harus nyambi. Murid masih harus beli buku sendiri.

Dan yang sering saya dengar, “Tapi kan sudah 20% APBN untuk pendidikan ?”

Betul. Angka itu besar. Tapi jangan lupa angka tidak otomatis menjadi kualitas.

Kalau uang hanya jalan
di kertas, tidak masuk ke kelas, murid kita akan tetap ketinggalan.

Sampai kapan?
Sampai kita berani memangkas birokrasi pendidikan. Sampai kita berani menaruh uang langsung ke tangan guru. Sampai kita berhenti mengukur keberhasilan dengan jumlah gedung dan rapat, tapi dengan kualitas murid yang pulang dari sekolah dengan mata berbinar.

Itu baru pendidikan. Pendidikan berkualitas untuk rakyat.Tapi kapan ?.

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!