Sumbu Borneo

LENTERA LITERASI : IQRA’ SEBAGAI NAFAS PERADABAN

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muh. Arsalin Aras

Pendahuluan 

Sebelum peradaban membangun menara dan kota, langit telah lebih dahulu menurunkan satu kata : Iqra’. Bacalah, karena dari situlah manusia belajar menjadi manusia, dan peradaban belajar untuk tidak mati.

Di tengah hiruk pikuk zaman yang mengejar kecepatan, ada satu cahaya yang tetap tenang namun tak tergantikan, tidak bersuara, tetapi menyalakan akal, tidak terlihat, tetapi menghidupkan kalbu. Itulah literasi.

Literasi adalah suluh yang mengusir gulita kebodohan, lebih dari sekadar membaca dan menulis, literasi adalah napas peradaban, literasi merajut dialektika akal dan kalbu, membentuk manusia paripurna yang mampu merenungi hakikat keberadaan, serta membumikan nilai-nilai ilahiah dalam harmoni kehidupan semesta.

Dalam keheningan malam perenungan, filsafat kehidupan mengajarkan bahwa manusia laksana tabularasa—kertas putih yang menanti untuk dilukis oleh pena pengalaman dan ilmu.

Tabularas yang dipahat Literasi

Di ufuk fajar peradaban, sebelum zaman menuliskan takdirnya, jiwa manusia laksana kanvas putih yang senyap, sebuah tabularasa murni yang terbentang tanpa goresan, lahir tanpa dogma bawaan, Kita adalah entitas yang rapuh namun sarwa-potensial.

Dalam sunyi epistemologi empiris sebagaimana digagas oleh John Locke, panca indera adalah jendela yang meneteskan realitas ke dalam ruang kesadaran, perlahan merangkai kepingan-kepingan pengalaman menjadi pemahaman utuh tentang semesta, namun, kanvas kosong itu tidak dibiarkan memudar seiring waktu.

Kehadiran literasi—dalam arti luas, yakni seni membaca tanda, mengeja dunia, dan menafsir realitas—datang sebagai pahat yang mengukir tabularasa.

Literasi adalah proses transendental yang mengubah manusia dari sekadar penerima kesan indrawi yang pasif, menjadi arsitek bagi jiwanya sendiri.
Melalui aksara, ribuan tahun pengetahuan, penderitaan, dan kebijaksanaan masa lalu disalurkan, bertransformasi menjadi tinta yang menghujani lembaran sunyi.

Dalam dimensi antropologi, literasi bukan sekadar kecakapan mekanis mengurai abjad, ia adalah manifestasi tertinggi dari sistem gagasan, tindakan, dan karya manusia, literasi sebagai penjaga ingatan kolektif kebudayaan, sebuah artefak simbolik yang merekam ritus, mitos, dan tata nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Saat tabularasa tersentuh pahat literasi, budaya menulis dan membaca membangun jembatan antar-waktu dan antar-ruang, membebaskan manusia dari keterbatasan lokalitas, memungkinkan seorang pembaca di pelosok Nusantara untuk turut merasakan denyut nadi pemikiran filsuf Yunani Kuno, penderitaan kolonialisme, atau keindahan spiritualitas timur.

Literasi memberikan bahasa pada emosi yang tak terkatakan, dan memberikan struktur pada moralitas yang abstrak.
Lebih dari itu, literasi menjadi instrumen emansipasi kebudayaan, karena tanpa pahat literasi, ingatan akan luntur tertelan zaman.

Manusia yang tidak tersentuh literasi seringkali terasing dari sejarahnya sendiri, terperangkap dalam siklus kebodohan yang membutakan. Sebaliknya, ketika literasi menorehkan jejaknya pada jiwa manusia yang kosong, ia membuka cakrawala kritis.

Manusia tidak lagi menerima dunia apa adanya, melainkan mampu mempertanyakan, merenungkan, dan mengubah takdirnya.

Proses ini laksana pahatan yang membenturkan palu pengalaman dengan paku pengetahuan. Setiap buku yang dibaca, setiap narasi yang dipahami, dan setiap gagasan yang dituliskan adalah guratan-guratan yang memperkaya tekstur jiwa.

Pada tahap ini, literasi memberi manusia kedalaman eksistensial, menjadikan kertas kosong tersebut sebuah mahakarya hidup yang sarat makna, yang akhirnya, sintesis antara filsafat tabularasa dan antropologi literasi melahirkan sebuah kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang terus-menerus dikonstruksi oleh proses belajar, jiwa Kita mungkin terlahir kosong, namun tangan Kitalah—yang digerakkan oleh hasrat untuk terus membaca dan menulis sejarah—yang memahat kekosongan itu menjadi sebuah peradaban yang bernyawa.

Literasi adalah pahat yang menyingkap tabir ketidaktahuan, mengubah kanvas putih tabularasa menjadi lukisan paling agung tentang arti menjadi manusia.

Literasi Sebagai Jembatan Makrifat

Literasi adalah alat pahat jiwa yang mengubah bongkahan batu ketidaktahuan menjadi mahakarya kebijaksanaan. Tanpanya, manusia akan terperosok dalam labirin kesesatan berpikir dan dangkalnya pemahaman.

Membaca bukan sekadar mengeja kata, bukan sekedar menguntai kalimat, melainkan menyelami kedalaman makna semesta, menangkap hikmah dari setiap kejadian, dan melatih nalar untuk terus berpikir kritis, adalah proses transendental dimana akal budi manusia diperkaya oleh ide-ide besar para pemikir, memampukan Kita melihat melampaui batas ruang dan waktu.

Melalui pendekatan religius, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca—Iqra’. Ini bukanlah seruan linguistik semata, melainkan mandat kosmik seru sekalian alam.

Perintah membaca ini mencakup dua dimensi agung: membaca ayat-ayat Qauliyah ( firman Tuhan yang tertulis dalam kitab suci ) dan membaca ayat-ayat Kauniyah ( tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terhampar di alam semesta ).

Literasi dalam pandangan spiritual adalah jembatan menuju makrifat ( pengenalan sejati kepada Sang Pencipta ).

Melalui peradaban Islam klasik, dunia telah membuktikan bagaimana tradisi literasi melahirkan ilmuwan dan filosof yang memadukan akal ( filsafat ) dan wahyu ( agama ) untuk mencerahkan dunia.

Merawat Lentera Peradaban Di Bumi Nusantara

Ketika tulisan dan literasi dipadukan dengan keindahan bahasa kesusasteraan, akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat untuk menyentuh hati nurani.

Bahasa sastra mampu membungkus kebenaran moral dengan kelembutan metafora, menjadikan ajaran agama dan nilai kemanusiaan meresap tanpa terasa menggurui.

Sastra dan literasi paduan yang menjaga peradaban agar tidak kehilangan ruh kemanusiaannya di tengah gempuran materialisme dan modernisasi.

Oleh karena itu, lentera peradaban tidak akan pernah menyala dengan sendirinya, padanya harus terus disuplai oleh minyak kebijaksanaan dari samudera literasi.

Menulis adalah ikhtiar keabadian; ide-ide akan terus hidup melintasi zaman, sementara sang Penulis telah kembali keharibaan-Nya.

Di tengah tantangan dunia modern di wilayah Majene, Sulawesi Barat, dan Nusantara pada umumnya, mari jadikan budaya literasi sebagai tameng spiritual dan intelektual, karena dengan merawat tradisi membaca, menulis, dan merenung, Kita tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghaluskan budi pekerti bangsa, memancarkan cahaya terang benderang yang menuntun peradaban menuju kemuliaan abadi.

Penutup

Lentera peradaban tidak akan pernah menyala dengan sendirinya, literasi peradaban butuh minyak kebijaksanaan dari samudera nan luas.
Menulis adalah ikhtiar keabadian, ide akan hidup melintasi zaman, mengarungi horizon peradaban.

Di Majene, di Sulawesi Barat, di Nusantara ini, mari jadikan literasi sebagai tameng spiritual dan intelektual, dengan merawat tradisi membaca, menulis, dan merenung, Kita tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghaluskan budi pekerti bangsa, merawat keabadian bertahtahkan lautan literasi yang kuasa menembus jagad.

Jangan biarkan lentera ini padam, suplailah dengan kebiasaan membaca, menulis, dan merenung, karena bangsa yang besar tidak diukur dari seberapa banyak gedungnya, tetapi dari cahaya literasi yang terus menyala di dalam jiwa warganya dalam setiap geliat peradaban.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!