Oleh: Muliadi Saleh
Di sebuah percakapan hangat dalam grup WhatsApp, saya menemukan kembali mutiara kearifan lama yang terasa begitu relevan untuk hari ini. Seorang sahabat menulis dengan jernih, “Masiri tingere dio di tangngana to kasi asi.” Secara sederhana, ungkapan itu dapat diterjemahkan: “Malu bersendawa di tengah orang miskin.”
Sebuah kalimat sederhana, tapi dalam sekali artinya. Bayangkan: bahkan suara sendawa, tanda kekenyangan, sudah cukup untuk menimbulkan rasa malu jika dikeluarkan di hadapan orang-orang yang sedang lapar. Apalagi jika seseorang mempertontonkan kemewahan dan pamer kelimpahan di tengah masyarakat yang masih berjuang mengisi perutnya sehari-hari.
Nilai ini adalah napas panjang dari kebudayaan Bugis-Makassar yang dikenal dengan “Siri’ na Pacce”, atau dalam nilai orang Mandar disebut “Siri’ anna Lokko’.” Siri’ bukan sekadar rasa malu, melainkan harga diri, martabat, dan kesadaran etis terdalam. Pacce atau Lokko adalah rasa malu terdalam, rasa pedih ketika melihat harga diri direndahkan, nilai diinjak-injak. Keduanya berpadu menjadi pilar kepribadian: menjaga diri dari perilaku memalukan sekaligus hadir dengan rasa peduli pada penderitaan sesama.
Namun, kini kita hidup di era yang semakin jauh dari rasa malu itu. Kita menyaksikan orang berlomba pamer kekayaan di media sosial, menayangkan meja makan mewah di saat banyak orang hanya bisa menatap kosong piring yang tak terisi. Kita melihat orang mengendarai mobil super mewah, sementara di sisi jalan masih ada anak-anak berdesakan menjual tisu demi menukar rupiah untuk sesuap nasi.
Fenomena flexing kekayaan, yang dijadikan tren gaya hidup, sungguh kontras dengan filosofi masiri tingere dio di tangngana to kasi asi. Jika sendawa saja dianggap memalukan di hadapan orang miskin, bagaimana dengan parade kemewahan, pesta pora, dan pamer barang-barang mewah yang seolah dipertontonkan untuk memancing rasa iri atau kagum?
Bangsa ini sedang diuji: bukan hanya oleh tantangan ekonomi, tapi juga oleh krisis empati. Kita mengalami apa yang bisa disebut sebagai era nir-empati, sebuah zaman ketika kesadaran akan penderitaan orang lain semakin menipis. Kita bisa dengan mudah bersorak menyaksikan hiburan di layar ponsel, tapi hati kita tak lagi terusik oleh wajah-wajah murung yang mengantri bantuan beras. Kita berfoto dengan latar meja penuh hidangan, tapi lupa bahwa di luar sana, ada keluarga yang tak tahu apa yang akan dimakan besok pagi.
Kebudayaan Nusantara sesungguhnya telah mengajarkan nilai-nilai luhur tentang keseimbangan ini. Siri’ na Pacce menanamkan bahwa martabat sejati manusia tak hanya diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari bagaimana ia menjaga diri dan merasakan pedihnya derita orang lain. Dalam masyarakat Bugis-Makassar, orang yang tidak punya siri’ dianggap kehilangan kemanusiaannya. Siri’ membuat seseorang tidak berani melakukan hal-hal yang mempermalukan dirinya, keluarganya, atau komunitasnya. Pacce melengkapi dengan kepekaan sosial: tidak tenang jika ada tetangga kelaparan, tidak tidur lelap jika masih ada saudara yang kesusahan.
Dari sinilah kita belajar bahwa kemajuan sebuah bangsa bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi atau pencapaian infrastruktur, melainkan juga seberapa dalam empati yang hidup di dalam jantung warganya. Sebab bangsa yang kehilangan rasa malu akan dengan mudah menormalisasi korupsi, menertawakan ketidakadilan, dan merayakan kesenjangan.
Mari kita bayangkan jika nilai “malu bersendawa di tengah orang miskin” benar-benar hidup di ruang publik kita. Para pejabat akan merasa malu menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, karena sadar rakyat masih menjerit oleh harga kebutuhan pokok. Para pemimpin akan merasa perih melihat warga mengantri bansos, sehingga tak mungkin tega memamerkan jam tangan ratusan juta. Para selebriti pun akan menahan diri dari parade glamor yang menutup mata atas realitas sosial.
Di titik itulah, bangsa ini bisa menemukan kembali keseimbangannya. Kemewahan bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk berbagi. Kekayaan bukan untuk mengukuhkan status, tetapi untuk menebar manfaat. Bahkan sendawa pun disembunyikan, sebab kita sadar bahwa kebahagiaan sejati tak pernah lahir dari kelebihan pribadi, melainkan dari kebersamaan yang saling menguatkan.
Sejatinya, nilai “masiri tingere dio di tangngana to kasi asi” bukan sekadar ungkapan lokal, tetapi pesan universal. Dunia hari ini, dengan kesenjangan yang semakin lebar, membutuhkan kesadaran malu yang lahir dari empati. Malu jika kita terlalu berlebihan ketika orang lain kekurangan. Malu jika kita pamer kenyamanan di tengah penderitaan. Malu jika kita menutup mata dari luka sosial.
Mari kita kembalikan rasa malu itu, agar bangsa ini tetap punya wajah yang manusiawi. Sebab tanpa rasa malu, kita akan hidup di dunia yang kehilangan hati.(*)
