Oleh : Muslimin. M
Pagi itu saya bertemu seorang guru. Dia datang naik motor bebek tua. Joknya sudah sobek, ditambal lakban hitam yang mulai mengelupas. “Sudah tiga kali saya ganti lakban, mas,” katanya sambil tertawa.“Tapi honor masih belum naik.”
Saya ikut tertawa.
Bukan karena lucu, tetapi karena itu satu-satunya cara menghindari marah.
Guru itu adalah representasi statistik yang jarang mau kita hadapi. Sekitar 36–40% guru di negeri ini masih berstatus honorer.
Banyak yang menerima gaji
dibawah UMR, sebagian bahkan dibawah satu juta rupiah. Namun kepada para guru itu negara menitipkan pendidikan karakter.
Karakter macam apa yang ingin kita ajarkan, jika aktor utamanya saja hidup dari tambalan ?
Guru itu bercerita tentang kelasnya.
Tentang murid yang sering datang tanpa sarapan.
Tentang murid yang menangis diam-diam karena rumahnya menjadi tempat pertengkaran orang dewasa.
Tentang murid yang kecanduan game online.
Tentang murid yang tak pernah mendapat pelukan
di rumah.
“Di kelas, saya bukan mengajar mas,” katanya. “Saya menenangkan murid-murid.”
Prof. James Heckman, ekonom peraih Nobel,
“Character skills are formed through stable, emotionally supportive relationships.”
Keterampilan karakter terbentuk melalui hubungan emosional yang stabil dan suportif.
Bagaimana guru mau menciptakan stabilitas emosional, jika hidupnya sendiri tidak stabil ?
Lalu ada penelitian Harvard Center on the Developing Child yang menyimpulkan bahwa hubungan guru murid yang hangat memiliki dampak lebih besar pada pembentukan karakter dibanding metode dan kurikulum apa pun.
Kita mempunyai kurikulum baru. Modul baru. Pelatihan baru. Rapor karakter. Aplikasi pendidikan moral. Tetapi kita lupa memperkuat yang paling dasar yaitu manusianya. Gurunya.
Di sisi lain, beban administratif guru makin absurd.
Mengajar 24 jam seminggu hanyalah istilah manis di brosur kebijakan.
Input penilaian sikap,
unggah bukti pembelajaran,
rapor karakter,
asesmen diagnostik,
pelaporan daring,
supervisi,
observasi,
“Sekolah sekarang lebih sibuk mengurus dokumen daripada mengurus murid,” kata Prof. Suyanto, pakar pendidikan karakter.
Kalimat itu bukan opini, itu kenyataan faktual.
Lalu, muncul pertanyaan yang membuat saya penasaran.
Apakah negara benar-benar peduli pada pendidikan karakter ?
Ataukah karakter hanya dipakai sebagai tameng moral untuk menutupi kegagalan sistem ?
Retorika karakter memang menarik.
Mudah dijual.
Mudah disampaikan dalam pidato.
Dan tidak memerlukan anggaran besar.
Namun, untuk memperbaiki kesejahteraan guru ?,
Itu selalu dianggap wacana jangka panjang, butuh proses, menunggu regulasi dan semua kalimat lunak yang sebenarnya berarti tidak ada kemauan politik.
Riset OECD, kualitas guru berkontribusi lebih dari 30% terhadap hasil belajar jangka panjang, termasuk karakter. Bukan gedung baru. Bukan seragam baru.
Bukan kurikulum baru setrap lima tahun.
Dan kita justru mengorbankan bagian yang paling menentukan.
Saya teringat satu teori klasik *Emile Durkheim*, pendidikan bukan proses mentransfer nilai, tetapi proses meniru perilaku sosial yang dianggap ideal.
Jika guru hidup dalam sistem yang tidak manusiawi, apakah murid akan meniru karakter yang sehat ?
Jika guru bekerja dalam ketidakpastian, apakah murid akan belajar tentang keteguhan ?
Jika guru dihargai serendah itu, apakah murid akan tumbuh menghargai proses belajar ?
Karakter tidak tumbuh dari ceramah moral, dia tumbuh dari lingkungan yang masuk akal.
Ketika guru itu kembali menghidupkan motor tuanya, suaranya keras, lebih keras dari retorika karakter yang sering kita dengar di televisi.
Di kepulan asap motor tua itu, saya melihat ironi yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Kita menuntut guru membentuk karakter bangsa, sementara karakter negara terhadap guru masih menunggu dibentuk.
Guru dan retorika karakter
Ditengah gencarnya kampanye pendidikan karakter, guru adalah aktor utama yang mestinya menjadi landasan moral sistem pendidikan, justru berada dalam kondisi paling rentan.
Di banyak sekolah negeri, terutama di daerah pelosok, pendidikan karakter kini lebih sering terdengar sebagai tuntutan administratif daripada proses pembentukan nilai yang hidup di kelas.
Data Kementerian Pendidikan (2023) menunjukkan bahwa sekitar 37% guru di Indonesia masih berstatus honorer dengan pendapatan yang dalam banyak kasus tidak mencapai 60% dari Upah Minimum Regional.
Pada saat yang sama, negara menuntut para guru menanamkan disiplin, integritas, etika, empati dan tanggung jawab pada generasi muda.
Kontras ini bukan sekadar ironi. Ini menunjukkan persoalan struktural yang selama bertahun-tahun tidak disentuh secara serius oleh pengambil kebijakan.
Riset UNESCO (2022) menegaskan bahwa kualitas pembentukan karakter sangat bergantung pada stabilitas emosional dan kesejahteraan guru. Sementara studi Harvard’s Graduate School of Education menunjukkan bahwa hubungan personal guru–murid menyumbang hingga 30% terhadap perkembangan karakter dan kompetensi sosial siswa, lebih besar daripada pengaruh modul atau asesmen moral.
Namun realitasnya, guru justru dibebani pekerjaan administratif yang terus meningkat.
Survei Federasi Serikat Guru Indonesia (2023) memperlihatkan bahwa lebih dari 55% waktu kerja guru terserap pada tugas non-pengajaran seperti pengisian aplikasi, verifikasi data, pelaporan digital, evaluasi berjenjang, hingga orientasi kebijakan baru. Dalam situasi seperti ini, karakter murid terancam menyempit menjadi sekadar kolom yang harus diisi pada rapor.
Lebih dari itu, sistem pendidikan belum menyediakan ruang bagi guru untuk menjalankan fungsi utamanya sebagai pendidik nilai. Sebaliknya, guru tunduk pada tekanan kebijakan yang lebih administratif daripada pedagogis.
Pendidikan karakter akhirnya diperlakukan sebagai slogan politik yang sering dikutip, tetapi tidak didukung oleh struktur kebijakan yang memadai.
Pada tataran kebijakan, perhatian pemerintah lebih banyak diarahkan pada perubahan kurikulum.
Dalam 20 tahun terakhir, negeri ini telah lebih dari 11 kali mengubah kurikulum, namun perbaikan kesejahteraan guru berjalan jauh lebih lambat.
Bahkan implementasi kurikulum berbasis karakter tidak diiringi investasi yang proporsional pada peningkatan kapasitas guru. Data World Bank (2023) menunjukkan bahwa belanja pendidikan masih didominasi oleh infrastruktur fisik dan administrasi, bukan peningkatan kualitas tenaga pendidik.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar. Bagaimana mungkin guru diminta membentuk karakter bangsa, ketika negara sendiri belum mampu menunjukkan karakter keberpihakan pada guru ?
Ketika insentif ekonomi tidak memadai, dukungan psikologis minim dan beban birokrasi menumpuk, guru dipaksa menjalankan peran moral dalam sistem yang kadang kurang bermoral padanya. Pendidikan karakter berubah menjadi instruksi, bukan praktik kewajiban, bukan keteladanan jargon.
Pendidikan karakter hanya dapat tumbuh jika guru diposisikan sebagai pusat ekosistem pendidikan, bukan sebagai pelaksana teknis.
Negara harus berpindah dari paradigma mengatur guru menuju memampukan guru. Tuntutan bahwa guru harus menjadi teladan hanya bisa dipenuhi jika guru bekerja dalam lingkungan yang memberi ruang martabat, stabilitas dan penghargaan.
Sampai hari ini, guru masih berada di tengah retorika besar tentang karakter, tetapi berdiri di pinggir dalam kebijakan pendidikan. Selama ketidakseimbangan ini terus berlangsung, pendidikan karakter tidak akan menjadi gerakan nasional, melainkan sekadar bunyi yang menggema dalam pidato dan dokumen resmi.
Sistem pendidikan kita membuat guru harus kuat sekaligus harus sabar.
Kuat menghadapi birokrasi. Sabar menghadapi hidup.
Dan kalau semua beban ini terus ditumpuk, akan lahir dua tipe guru di masa depan, yaitu :
Pertama. Guru hebat yang cepat pindah pekerjaan.
Kedua Guru bertahan yang pelan-pelan kehilangan semangat.
Keduanya sama-sama buruk bagi masa depan bangsa.
Karakter bangsa tidak bisa dibangun di atas kelelahan yang dijadikan kebiasaan.
Saya selalu percaya satu hal.
Jika negara sungguh ingin membangun karakter, bangunlah dulu manusia yang mengajarkannya.
Beri ruang.
Bukan laporan.
Beri martabat.
Bukan slogan.
Beri waktu mengajar.
Bukan tombol untuk terus diklik.
Karakter tidak lahir dari aturan.
Karakter lahir dari teladan.
Dan teladan itu bernama. Guru.
Selama guru tidak dimanusiakan dengan baik, pendidikan karakter hanya akan menjadi retorika yang mengisi sambutan para pejabat.
Mengisi slide presentasi.
Mengisi spanduk acara pelatihan.
Dan tidak pernah mengisi hati murid-murid nya.(*)
