Sumbu Borneo

PARADOKS MUTU GURU

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin. M

Saya selalu percaya satu hal bahwa kalau kita ingin melihat masa depan Indonesia.
Jangan lihat gedung-gedungnya.
Lihatlah ruang kelasnya. Lihatlah guru-gurunya.

Sebab banyak ruang kelas hari ini seperti panggung yang pemain utamanya tidak pernah benar-benar diberi naskah.
Guru diminta tampil hebat.
Diharapkan menginspirasi.
Dituntut kreatif.
Tetapi tidak pernah diberi waktu cukup untuk bernapas.

Apakah ini kesalahan guru ?.
Bukan.
Bukan salah gurunya. Sistemnya yang memang cerewet.
Sebab guru yang lebih sering mengajar dokumen

Saya pernah bertemu seorang kepala sekolah dengan bangga sekali menunjukkan laporan-laporannya. Tebalnya hampir seperti skripsi mahasiswa.
Semua rapi,
lengkap penuh stempel.

Di momen itu saya teringat kalimat John Hatti (2003), peneliti pendidikan yang terkenal dengan Visible Learning dengan lugas mengatakan bahwa kualitas guru adalah faktor paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, lebih besar dari kurikulum, teknologi, bahkan fasilitas sekolah itu sendiri..

Dan saya melihat sendiri kebenarannya, murid tenang bukan karena dinding dicat baru, bukan karena proyektor mahal, tetapi karena ada guru yang mencoba menghadirkan dirinya sepenuhnya.

Suatu waktu saya pernah berdiskusi dengan seorang guru, ketika itu jam pelajaran sudah selesai, guru itu mengajak saya duduk
di ruang guru. Lalu, membuka laptop dan memperlihatkan sederet file administrasi, program semester, modul ajar, supervisi, evaluasi kinerja, laporan penilaian dan daftar kehadiran yang harus diisi dua versi digital dan kertas.

“Saya mengajar 24 jam seminggu,” katanya. “Tapi administrasinya bisa lebih 40 jam sendiri.”

Pada titik ini saya lalu teringat pada teori goal displacement dari Robert Merton (1968), ketika prosedur lebih dikejar daripada tujuan inti, organisasi bergeser dari substansi ke formalitas.
Guru ini bukan tidak bisa mengajar, hanya saja tidak diberi ruang cukup untuk menjadi guru.

Saya pernah membaca teori motivasi Herzberg (1959). menyebutkan bahwa ada dua faktor kerja :
Pertama hygiene factors (gaji, kondisi kerja, keamanan ekonomi)
Kedua motivator factors (prestasi, perkembangan, penghargaan).

Herzberg menegaskan bahwa tanpa faktor dasar terpenuhi, motivasi tidak akan stabil.
Bagaimana mungkin kita berbicara mutu guru jika kehidupan pribadi gurunya belum stabil ?

Dalam sekolah yang lain, saya pernah juga bertemu seorang kepala sekolah yang agak berbeda, tidak banyak bicara soal laporan. Lebih suka turun ke kelas, berdiskusi dengan gurunya, memberikan umpan balik langsung.

Saya sempat bertanya tentang bagaimana guru-gurunya. Katanya, guru-gurunya tampak percaya diri, murid-murid tampak lebih hidup. Ada semacam energi positif yang mengalir di sekolahnya.

Barulah saya memahami teori *instructional leadership dari Hallinger & Murphy (1985)*, bahwa seorang kepala sekolah yang efektif bukan sekadar manajer administrasi, tetapi pemimpin pembelajaran.

Dan saya mengerti bahwa kadang mutu guru menjadi naik bukan karena pelatihan, tetapi karena pemimpin yang berpihak pada pengajaran, bukan pada dokumentasi.

Mutu guru dan masa depan pendidikan

Mutu guru telah lama menjadi topik yang tidak pernah selesai dibicarakan dalam diskursus pendidikan Indonesia. Sejak era kolonial hingga Kurikulum Merdeka hari ini guru selalu ditempatkan sebagai aktor sentral sekaligus tumpuan harapan.

Namun untuk memahami mutu guru secara utuh, kita harus memandangnya bukan hanya sebagai rumus kompetensi pada dokumen resmi yang hanya viral dibicarakan. Sebab mutu guru adalah denyut kehidupan sekolah. Sesuatu yang hidup, bergerak, berkembang, bahkan kadang terengah-engah menghadapi dinamika zaman.

Secara konseptual mutu guru dapat diukur melalui empat kompetensi utama : pertama, pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Rumus itu rapi, logis dan ilmiah. Namun, mutu guru bukan sekadar daftar kompetensi sebab hal itu cerminan kemampuan bertahan ditengah keterbatasan, mengajar sambil belajar, membimbing sambil dibimbing kenyataan.

Di banyak sekolah, terutama di daerah pinggiran apalagi yang terisolir, guru bekerja dalam kondisi yang tidak ideal dimana rasio murid yang tinggi, fasilitas terbatas, jaringan internet yang sering hilang-timbul, dan beban administrasi yang tidak pernah putus.
Mutu guru dalam konteks ini bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang kemampuannya menghasilkan pembelajaran bermakna meski kondisi tidak selalu mendukung.

Kedua, kompetensi Profesional, dimana Ilmu bertemu praktik
Kompetensi profesional guru sering dipahami sebagai penguasaan materi ajar. Tetapi itu baru separuh cerita.
Guru profesional bukan hanya mengerti konsep, tetapi mampu memecah konsep itu menjadi potongan-potongan kecil yang bisa dicerna oleh murid usia tujuh tahun yang baru belajar fokus selama sepuluh menit.

Ketiga, kompetensi Pedagogik, yaitu seni mengelola keragaman
Tidak ada kelas yang benar-benar seragam.
Ada siswa yang cepat menangkap konsep.
Ada yang perlu waktu lebih lama. Ada yang pendiam. Ada yang hiperaktif.
Ada yang suka menggambar diam-diam dan ada yang sibuk bertanya hal-hal yang bahkan tidak dipikirkan gurunya.

Seorang guru bermutu bukan hanya mengajar, tetapi mengelola keragaman itu menjadi energi positif. Memahami psikologi perkembangan, gaya belajar, dan strategi diferensiasi. Dan tahu kapan harus tegas dan kapan harus lentur, mengerti bahwa memarahi anak tidak sama dengan mendidik anak.

Tidak ada seminar yang benar-benar bisa mengajarkan empati seperti itu. Tetapi itulah inti pedagogik bahwa kemampuan membaca situasi dan menyesuaikan diri.

Keempat, kompetensi Sosial, guru sebagai agen komunitas. Guru sering menjadi figur paling berpengaruh di komunitasnya.
Guru bukan hanya pendidik, tetapi komunikator, mediator bahkan motivator.
Ketika orang tua tidak paham teknologi, guru menjadi penjelas.

Ketika anak mengalami kesulitan, guru menjadi penengah. Ketika masyarakat bingung tentang arah pendidikan, guru menjadi rujukan.

Mutu sosial guru terlihat dari kemampuannya menjalin hubungan sehat dengan siswa, orang tua dan sesama guru.

Kompetensi sosial bukan kemampuan ramah-ramah saja, tetapi kemampuan menciptakan kolaborasi yang mendukung perkembangan murid.

Saya pernah bertanya kepada guru matematika disalah satu sekolah SMP, “Bapak mengajar sudah berapa tahun?” guru itu diam sebentar, lalu tersenyum. “Saya tidak hitung, mas. Yang saya tahu, setiap hari saya belajar.”

Kerendahan hati seperti ini tidak tercantum dalam buku teori mana pun. Tetapi justru inilah yang membuat mutu guru terasa nyata.

Mutu guru tidak berdiri sendiri. Mutu guru dipengaruhi kebijakan,
kultur sekolah dan tekanan administratif.
Beberapa tantangan besar yang sering saya amati, antara lain :
a. Beban Administrasi yang Berlebihan
Guru menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membuat laporan, rencana pembelajaran, penilaian, instrumen observasi, jurnal kelas, portofolio digital, hingga laporan kegiatan pembinaan.

Ketika laporan lebih tebal daripada hasil pembelajaran, mutu guru tidak akan naik, yang naik justru stres kerja.

b. Ketimpangan Kualitas Pelatihan
Pelatihan guru sering bersifat top-down, generik, dan tidak sesuai konteks. Banyak pelatihan yang menjanjikan formulasi instan, padahal setiap kelas membutuhkan pendekatan berbeda. Seminar kilat tidak membuat guru tiba-tiba ahli pedagogik.

c. Tidak meratanya distribusi guru berkualitas. Banyak sekolah kelebihan guru, sementara sekolah lain kekurangan.
Daerah pinggiran dan daerah pelosok justru sering mendapatkan guru tidak tetap, padahal tantangannya lebih berat.
Mutu guru tidak akan merata jika distribusinya tidak adil.

Bahwa mutu guru merupakan faktor fundamental dalam peningkatan kualitas pendidikan. Namun, peningkatan mutu guru tidak dapat disederhanakan sebagai peningkatan kompetensi individu.

Mutu guru merupakan hasil interaksi antara kapasitas personal dan ekosistem pendidikan.

Oleh karenanya, perbaikan mutu harus dilakukan melalui strategi sistemik yang mencakup penguatan kompetensi, penyederhanaan administrasi, reformasi budaya sekolah, peningkatan kesejahteraan, dan kepemimpinan pendidikan yang efektif.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!