BONTANG.SUMBU BORNEO.ID- Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, meninjau pembangunan hunian di kawasan Bontang Lestari, Jumat, 27 Maret 2026.
Neni mengungkapkan bahwa prototipe hunian yang dibangun sebelumnya belum seragam, sehingga ke depan diperlukan standar yang sama untuk setiap unit rumah.
“Ingin mengevaluasi yang 2025 itu seperti apa, ternyata prototipenya tidak sama. Ini tadi ada yang besar, ada yang kecil,” ungkap Neni, dilansir Portal resmi Pemkot Bontang
Wali Kota menginginkan rumah- rumah subsidi yang murah, namun tetap memiliki tampilan yang seragam.
Saat ini, di kawasan Bontang Lestari terdapat 12 unit rumah yang menjadi bagian dari program pembangunan hunian tersebut. Meski di tengah keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Pemerintah Kota Bontang tetap berupaya mengoptimalkan pembangunan melalui dukungan program dari pemerintah pusat dan provinsi.
“Jadi kita memanfaatkan dengan APBD kita yang turun ini, kita berupaya maksimal untuk minta program-program pusat. Memang kalau pemerintah pusat itu hanya atap lantai dinding yang nilainya hanya 20 juta. Tidak apa-apa, nanti itu akan diseragamkan bagaimana modelnya supaya bisa bagus,” ujarnya.
Segedar diketahui, tahun ini Pemkot Bontang mengusulkan pembangunan sebanyak 300 rumah layak huni kepada pemerintah pusat, serta 80 unit kepada pemerintah provinsi.
Selain itu, melalui anggaran daerah, pemerintah juga mengalokasikan sekitar Rp600 juta untuk pembangunan 30 rumah.
Neni menambahkan bahwa aspek sanitasi menjadi fokus utama dalam program tersebut, dengan menekankan pentingnya penyediaan jamban keluarga sebagai upaya pencegahan stunting, sehingga kualitas kesehatan masyarakat dapat terus ditingkatkan.
“Wc nya haru ada, saya tidak ingin ada yang buang air besar sembarangan. Makanya tadi fokus di jamban keluarga. Karena sanitasi penting untuk mencegah stunting,” pungkasnya. (ADV)
