Oleh : Muslimin. M
Di atasnya hanya dua daerah.
DKI Jakarta
dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Banyak orang mungkin menganggap itu hanya angka biasa.
Bagi saya tidak.
Itu angka yang luar biasa.
Ini provinsi yang dulu dikenal karena hutan.
Karena tambang.
Karena minyak.
Bukan karena manusianya.
Apalagi pendidikan nya.
Sekarang ceritanya mulai berubah.
IPM itu bukan hanya soal angka biasa.
Angka itu dihitung dari tiga hal penting yaitu
Pendidikan.
Kesehatan.
Daya beli (ekonomi).
Sederhananya bahwa manusia di daerah itu semakin berkualitas hidupnya. Semakin baik kualitas pendidikan. Semakin berkualitas derajat kesehatan nya.
Saya lalu teringat Kaltim tiga puluh tahun lalu.
Jalan masih panjang dan sepi. Kota-kotanya tidak ramai. Jarak antar kampung cukup berjauhan.
Itu dulu.
Sekarang ?
Bandara sibuk.
Kampus-kampus bertambah terus. Sekolah-sekolah unggulan sudah cukup banyak.
Rumah sakit makin lengkap.
Apalagi sejak ibu kota negara baru dibangun disini.
IKN
Ibu Kota Nusantara menjadi magnet baru. Orang-orang pada berdatangan.
Ide datang.
Harapan juga datang.
Namun, tidak dipungkiri bahwa angka nomor tiga ini juga membawa pertanyaan besar.
Apakah kualitas manusianya sudah merata ?
Atau baru terkumpul di kota-kota besar seperti
Balikpapan,
Samarinda,
dan Bontang ?
Karena pembangunan manusia itu seperti air.
Harus mengalir.
Sampai ke desa.
Sampai ke kampung.
Sampai ke daerah yang jauh dari lampu kota.
Kalau tidak maka angka itu hanya akan menjadi kebanggaan statistik.
Bukan kenyataan sehari-hari.
Namun satu hal pasti. Bahwa nomor tiga bukan posisi akhir.
Hanya pengingat.
Bahwa daerah yang dulu terkenal karena sumber daya alamnya, kini mulai dikenal karena kualitas manusianya.
Dan itu jauh lebih penting.
Karena tambang bisa habis.
Minyak bisa kering.
Namun manusia yang berkualitas akan selalu menemukan cara untuk bertahan.
Capaian dan tantangan
Dalam berbagai literatur bahwa Indeks Pembangunan Manusia atau IPM merupakan salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur kualitas pembangunan manusia disuatu wilayah. Konsep ini diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) dan mengintegrasikan tiga dimensi dasar pembangunan yaitu kesehatan, pendidikan dan standar hidup layak.
Dalam konteks pembangunan nasional, capaian IPM menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan kebijakan pembangunan daerah. Salah satu provinsi yang menunjukkan performa signifikan adalah Kaltim yang menempati peringkat ketiga secara nasional setelah DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Posisi ini menempatkan Kaltim sebagai salah satu wilayah dengan kualitas pembangunan manusia terbaik ke tiga tahun 2025/2026 di Indonesia.
Artinya bahwa struktur ekonomi Kaltim yang didukung oleh sektor pertambangan, energi dan industri ekstraktif memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat pendapatan masyarakat. Hal ini secara langsung berdampak pada peningkatan daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
Tidak sulit menjelaskan mengapa IPM Kaltim relatif tinggi. Provinsi ini sudah sejak lama menjadi salah satu pusat ekonomi berbasis sumber daya alam
di tanah air. Minyak, gas dan batu bara menjadikan pendapatan daerah ini relatif kuat dibanding banyak provinsi lain.
Pendapatan regional yang tinggi mendorong daya beli masyarakat. Infrastruktur kesehatan dan pendidikan juga berkembang lebih cepat. Kota-kota seperti Balikpapan, Samarinda dan Bontang menunjukkan wajah urban yang cukup maju di kawasan timur Indonesia.
Kemudian ada momentum pembangunan ibu kota baru (IKN). Proyek ini tentu meningkatkan arus investasi, pembangunan infrastruktur dan mobilitas tenaga kerja terdidik.
Tentu saja secara statistik semua faktor ini mendorong kenaikan IPM. Namun satu hal penting bahwa statistik juga sering menyembunyikan detail penting salah satunya masalah ketimpangan.
Di beberapa kota akses pendidikan dan layanan kesehatan relatif baik.Tetapi kondisi yang sama belum tentu terjadi di daerah pedalaman apalagi wilayah perbatasan. Sebagian wilayah kabupaten masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan menengah, tenaga medis, serta infrastruktur dasar.
Artinya bahwa kualitas pembangunan manusia masih belum sepenuhnya merata. Tentu ini bukan masalah kecil.
Pembangunan manusia seharusnya tidak hanya meningkatkan angka provinsi, tetapi juga mempersempit kesenjangan antarwilayah.
Ekonomi Kaltim masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif. Ketika harga batu bara tinggi, ekonomi daerah ikut melonjak.
Ketika harga komoditas turun dampaknya langsung terasa pada pertumbuhan ekonomi regional.
Model ekonomi seperti ini membuat kesejahteraan masyarakat rentan terhadap fluktuasi pasar global.
Dan dalam jangka panjang, kualitas pembangunan manusia tidak bisa hanya ditopang oleh sektor pertambangan.
Diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak.
Dalam konteks itu, investasi pada pendidikan tinggi, inovasi teknologi dan sektor jasa modern harus menjadi prioritas jika Kaltim ingin mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pembangunan manusianya.
Lalu, bagaimana dengan pembangunan IKN ?
Pembangunan Ibu Kota Nusantara memberi peluang besar.Tetapi disisi lain membawa tantangan baru. Masuknya investasi dan tenaga kerja dari berbagai daerah berpotensi menciptakan kesenjangan baru jika pemerintah daerah tidak menyiapkan sumber daya manusia lokal secara serius.
Pembangunan manusia tidak boleh hanya menghasilkan angka statistik yang tinggi.
Namun harus memastikan bahwa masyarakat lokal juga memperoleh manfaat nyata dari transformasi ekonomi yang sedang terjadi.
Bahwa peringkat ketiga IPM nasional adalah capaian penting bagi pemerintah provinsi Kaltim. Dan capaian itu seharusnya dilihat sebagai titik awal, bukan garis akhir. Pekerjaan besar masih menunggu. Bagaimana memperkecil ketimpangan wilayah, mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif dan menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi perubahan ekonomi yang lebih kompleks.
Angka IPM boleh tinggi. Tetapi kualitas pembangunan manusia yang sesungguhnya hanya bisa dinilai dari satu hal.
Apakah kesejahteraan dan kesempatan hidup yang lebih baik benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat kaltim.
Bukan hanya oleh yang tinggal di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
Tetapi merata ke pelosok pelosok-pelosok kampung.
Dan tentu saja ke depannya penguatan sektor pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, serta diversifikasi ekonomi menjadi faktor kunci dalam memastikan bahwa capaian pembangunan manusia di kaltim tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga merata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Kalimantan Timur secara umum.(*)
