Oleh : Safardy Bora
Di sudut-sudut kampung jalan Ali yang sunyi Lamasariang, sejarah besar tumbuh tanpa bunyi. Ia lahir bukan dari ruang-ruang mewah, melainkan dari dapur sederhana yang dipenuhi aroma keringat dan doa-doa panjang seorang ibu. Dari tangan yang saban hari menakar dedak, dan dari kemudi pete-pete yang mengantar penumpang menembus panas jalanan, Wonomulyo- Tinambung, lahir anak yang mampu menaklukkan dunia ilmu pengetahuan.
Begitulah kisah Zakiah Al Munawwarah, putri Mandar yang tumbuh dari rahim kesederhanaan di Lamasariang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Ia bukan anak dari lingkaran kekuasaan, bukan pula pewaris kemapanan. Ia dibesarkan oleh sepasang orang tua yang menggantungkan hidup pada pekerjaan yang kerap dipandang kecil oleh mata sosial yang gemar mengukur martabat dari kemewahan.
Ibunya, Suhuria, menjajakan dedak halus untuk pakan ternak. Ayahnya, Hasan, menggenggam setir pete-pete demi menyambung kehidupan keluarga. Dari penghasilan yang tidak selalu pasti itu, keduanya menanam harapan pada anak-anak mereka: agar pendidikan menjadi jalan pembebasan dari lingkaran keterbatasan.
Di rumah sederhana itulah Zakiah belajar memahami arti perjuangan sejak usia belia. Ia tumbuh bersama kenyataan bahwa hidup tidak selalu menyediakan kemudahan. Namun justru dari keadaan yang keras itu, lahir ketekunan yang tidak mudah dipatahkan. Baginya, ilmu bukan sekadar gelar, melainkan jalan untuk memuliakan pengorbanan orang tua.
Perjalanan akademiknya berjalan di atas lorong panjang yang tidak selalu terang. Biaya pendidikan, tekanan hidup, hingga tatapan merendahkan dari sebagian orang pernah menjadi bagian dari ujian yang harus dihadapinya. Dalam masyarakat yang kadang terlalu cepat mengukur kemampuan seseorang dari latar keluarganya, Zakiah memilih menjawab semuanya dengan kerja keras dan ketekunan intelektual.
Ia memahami satu hal penting: bahwa kemiskinan mungkin dapat membatasi fasilitas, tetapi tidak pernah mampu membelenggu cita-cita manusia yang tekun memelihara harapan.
Puncak dari seluruh perjalanan itu hadir pada Senin, 11 Mei 2026, di Gedung Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Di ruang akademik yang khidmat, Zakiah mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji dengan keluasan argumentasi dan kedalaman analisis yang memukau. Hari itu bukan sekadar forum ilmiah, melainkan panggung tempat sejarah kecil sebuah keluarga sederhana menemukan kemuliaannya.
Ia dinyatakan lulus dengan predikat Cum Laude—gelar tertinggi akademik yang diraih dengan kehormatan. Sebuah capaian yang tidak lahir dalam semalam, tetapi ditempa oleh tahun-tahun panjang pengorbanan, disiplin, dan kesabaran.
Namun sesungguhnya, momen paling mengharukan bukanlah ketika palu sidang diketukkan. Melainkan ketika kedua orang tuanya menyaksikan putri mereka berdiri sebagai doktor. Di wajah yang mulai dimakan usia itu, tampak kebahagiaan yang sulit diterjemahkan kata-kata. Barangkali untuk pertama kalinya, seluruh letih mereka terasa lunas dibayar oleh takdir.
Air mata haru pecah tanpa suara.
Dedak yang dulu dijual demi membeli kebutuhan sekolah, dan pete-pete yang saban hari melintasi jalanan kota, mendadak berubah menjadi simbol kehormatan. Hari itu, dunia seolah dipaksa memahami bahwa kemuliaan manusia tidak pernah ditentukan oleh jenis pekerjaannya, melainkan oleh ketulusan perjuangan yang dijalani.
Kisah Zakiah Al Munawwarah bukan sekadar cerita tentang keberhasilan akademik. Ia adalah cermin sosial tentang daya hidup masyarakat kecil yang terus bertahan di tengah kerasnya zaman. Dari tanah Mandar, lahir seorang perempuan muda yang membuktikan bahwa anak daerah tidak ditakdirkan menjadi penonton dalam peradaban ilmu.
Prestasinya adalah kabar baik bagi generasi muda di pelosok-pelosok kampung: bahwa mimpi tidak mengenal kasta ekonomi. Bahwa jalan menuju ilmu memang terjal, tetapi selalu menyediakan tempat bagi mereka yang sanggup berjalan dengan sabar.
Di tengah zaman yang sering memuja kemewahan dan garis keturunan, Zakiah hadir membawa pelajaran sederhana namun mendalam—bahwa sejarah besar kerap lahir dari rumah-rumah kecil yang dipenuhi ketabahan.
Dan dari debu dedak serta deru pete-pete itu, lahirlah seorang doktor cum laude.(***)
