Sumbu Borneo

KETIKA DEDAUNAN TAK LAGI BERTASBIH

Oplus_131072
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh: Muh. Arsalin Aras

QS. Al-Isra’: 44
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.”

QS. An-Nur: 41
“Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah bertasbih apa yang di langit dan di bumi serta burung-burung dengan mengembangkan sayapnya ?”.

Bahwa kedua ayat Al-Qur’an ini memiliki makna ontologis atas eksistensi hidup dan benda yang memiliki kesadaran spiritualnya sendiri sebagai ciptaan Allah SWT, termasuk daun, batu, dan air yang bertasbih kepada-Nya, baik secara metafisik maupun eksistensial.

Tasbih dalam kedua ayat tersebut adalah pengakuan keagungan dan kekuasaan Allah SWT.
Semua makhluk di alam, termasuk langit, bumi, dan segala isinya tunduk dan bertasbih kepada Allah SWT dengan cara mereka sendiri.

Tasbih juga sebagai bentuk ibadah yang dilakukan oleh semua makhluk di alam semesta yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT, dan mereka melakukan ibadah sesuai dengan kemampuan dan sifat mereka, dengan menekankan keterkaitan antara alam dan Allah SWT. Alam semesta dan segala isinya adalah makhluk ciptaan yang semua tunduk kepada-Nya serta mengakui keagungan dan kekuasaan Allah SWT melalui tasbihnya agar manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan alam semesta.

EKOTEOLOGI DAN ONTOLOGI ALAM

Ekoteologi adalah suatu pendekatan teologis yang memfokuskan perhatian pada hubungan antara agama dan lingkungan hidup. Ekoteologi memahami dan menafsirkan ajaran agama dalam konteks pelestarian lingkungan dan keadilan sosial, hubungan antara agama dan lingkungan hidup, dengan tujuan untuk menggugah kesadaran kedirian dan tindakan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Ekoteologi menekankan keterkaitan antara manusia dan lingkungan hidup, serta antara manusia dan Tuhan untuk meningkatkan kesadaran spiritual tentang pentingnya menjaga alam.

Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang keberadaan, hakikat, dan sifat dasar dari sesuatu yang ada dengan pertanyaan fundamental tentang apa yang ada, bagaimana sesuatu ada, dan bagaimana sesuatu dapat diketahui.
Sebagai studi tentang keberadaan dan hakikat sesuatu, maka ontologi bertujuan untuk memahami keberadaan dan hakikat atas sesuatu.

Dengan demikian, ekoteologi dan ontologi bertujuan untuk memahami sesuatu, mengidentifikasi konsep, dan membangun pengetahuan, membantu memahami hakikat keberadaan dan realitas alam serta hubungannya dengan lingkungan sekitar sebagai hakikat keberadaan dan struktur dasar alam tanpa menafikan keberadaan agama sebagai kesadaran spiritual.

SPIRITUALITAS DAN ALAM

Spiritualitas dan alam memiliki hubungan yang erat dalam banyak tradisi dan filosofi.
Alam semesta sering dianggap sebagai manifestasi dari kehadiran Ilahi atau kekuatan yang lebih besar dari diri manusia.
Alam dapat menjadi sumber pengalaman spiritual bagi banyak orang, membantu terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Spiritualitas sering menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dengan alam, serta dengan diri sendiri dan sesama manusia.
Banyak tradisi spiritual mengajarkan penghormatan dan penghargaan terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan atau sebagai bagian dari kesatuan yang lebih besar.
Dalam konteks ini, spiritualitas dan alam adalah sumber inspirasi, refleksi, dan pertumbuhan pribadi seseorang dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan ekosistem sekitar.

TASBIH ALAM SEBAGAI PENGAKUAN

Jika alam mengalami kerusakan atau “dedaunan tak lagi bertasbih,” maka dapat memiliki implikasi spiritual dan filosofis yang mendalam. Maka manusia telah kehilangan kesadaran spiritual akan kehadiran Allah SWT dan keterkaitan antara manusia dengan alam semesta.
Kerusakan alam adalah sebagai tanda bahwa manusia telah melupakan atau mengabaikan hubungan mereka dengan Allah SWT.

Kerusakan alam dapat menjadi konsekuensi dari tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak memperhatikan keseimbangan alam.
Kerusakan alam dapat menjadi panggilan bagi manusia untuk merefleksikan tindakan mereka akan ketertundukannya kepada Allah SWT untuk melakukan perubahan dalam menjaga keseimbangan alam dan meningkatkan kesadaran spiritual.

Dalam konteks ini, “dedaunan tak lagi bertasbih” adalah metafora untuk kerusakan alam dan kehilangan kesadaran spiritual yang dapat terjadi jika manusia tidak memperhatikan keseimbangan alam dan hubungan penghambaan-Nya.

KESADARAN SPIRITUAL ADALAH KENISCAYAAN

Kerusakan alam dan ekosistem kehidupan adalah akibat ulah manusia. Dalam perspektif “dedaunan tak lagi bertasbih,” merupakan konsep yang menggambarkan bagaimana kerusakan lingkungan dapat diartikan sebagai tanda bahwa alam tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai penghubung antara manusia dan Sang Pencipta.
Eksploitasi sumber daya alam berlebihan tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan dan kurangnya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dapat menyebabkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
Kerusakan lingkungan dapat menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati serta gangguan kesehatan manusia.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan menghindari kerusakan alam.

Tasbih alam adalah pengakuan transendental dan ketertundukan manusia kepada Allah SWT dengan merujuk pada konsep bahwa alam semesta dan segala isinya mengakui keagungan dan kekuasaan-Nya melalui gerakan, fungsi, dan keberadaannya.

Tasbih alam sebagai pengakuan juga dapat meningkatkan kesadaran spiritualitas manusia akan keterkaitannya dengan alam semesta dan Allah SWT sebagai keniscayaan sarana refleksi spiritual bagi manusia untuk meningkatkan kesadaran akan kehadiran-Nya berdasar nilai-nilai ontologis bahwa seluruh eksistensi hidup dan benda memiliki kesadaran spiritualnya sendiri sebagaimana :

QS. Ar-Rahman : 6
“Dan tumbuh-tumbuhan serta pepohonan, semuanya tunduk (bersujud).”

Dan QS. Al-Hadid : 1 serta QS. Al-Hasyr : 1 adalah tasbih kosmik seluruh makhluk ikut memuji keagungan Allah SWT.

PENUTUP

Alam semesta adalah tajalli (penampakan) dari wujud Ilahi.
Bila dedaunan berhenti bertasbih, itu berarti manusia kehilangan kemampuan menangkap tajalli.

Semua makhluk memiliki gerak substansial (harakah jawhariyyah) menuju kesempurnaan. Ketika alam dirusak, gerak menuju kesempurnaan itu terhenti — maka metafora “dedaunan tak lagi bertasbih” menjadi simbol keterputusan eksistensi dengan Sang Ada.

Krisis ekologi modern bermula ketika manusia memisahkan diri dari kesucian alam.
Alam adalah tanda (ayat) yang hidup dari Allah, hilangnya kesadaran ini menjadikan dunia “bisu.”
Realitas alam adalah cermin akan kekuasaan Allah SWT yang ada pada setiap helai dedaunan, awan, dan angin yang mengandung makna kosmik.
Krisis eksistensial manusia modern terjadi karena melupakan being (Ada) — sejalan dengan kehilangan kesadaran spiritual terhadap alam.
Simbol dedaunan adalah alam semesta yang tak lagi hidup secara spiritual karena manusia memutus komunikasi fisiknya, membuat manusia kehilangan kesadaran tauhid ekologis.

Rekonsiliasi filsafat dan Al-Qur’an niscaya mampu menghidupkan kembali kesadaran kosmik bahwa setiap daun adalah ayat-ayat Allah SWT, atau bahwa kerusakan lingkungan, krisis iklim, eksplorasi dan eksploitasi yang berlebihan adalah wujud hilangnya nilai-nilai spiritual manusia dengan alam.

Wassalam.

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!