Sumbu Borneo

MEMBACA SEMESTA, MENYEMBELIH EGO: REFLEKSI TENTANG LITERASI DAN IDUL QURBAN

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muh. Arsalin Aras

Pendahuluan

Idul Qurban dan literasi adalah dua entitas yang bertemu dalam dimensi spiritualitas dan kesadaran manusia, keduanya menuntut manusia untuk membaca (membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan) dan rela mengorbankan ego kebinatangan demi mencapai derajat kemanusiaan yang tertinggi. Permenungan filosofis mengenai makna keduanya adalah membaca semesta dan menyembelih Ego adalah refleksi filosofis dan antropologi tentang Literasi dan Idul Qurban.

Literasi sebagai Daya Membaca Ayat Qauliyah dan Qauniyah

Dalam bentangan sejarah peradaban manusia, literasi tidak boleh sekadar dimaknai sebagai kepiawaian mengeja aksara di atas kertas.
Lebih dalam, literasi adalah daya spiritual untuk membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (qauliyah) maupun ayat-ayat yang terhampar di semesta (kauniyah).
Ketika manusia membaca kehidupan dengan kacamata literasi yang hakiki, ia akan menemukan bahwa hakikat eksistensi adalah sebuah proses pencarian makna.
Di sinilah Hari Raya Idul Qurban hadir sebagai puncak dari literasi spiritualitas manusia, sebuah ritus yang mengajarkan Kita untuk tidak sekadar membaca perintah-Nya, tetapi membacanya dengan penuh penyerahan.

Qurban, Metafora Penyembelihan Ego

Secara etimologis, kata “qurban” berasal dari bahasa Arab qaruba – yaqrubu, yang bermakna dekat atau mendekatkan diri (taqarrub). Sementara hari raya itu sendiri disebut Idul Adha, yang berakar dari kata adha, bermakna pengorbanan. Secara filosofis, ibadah ini adalah sebuah metafora agung tentang bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui penyembelihan ego.

Dalam kacamata antropologi agama, ritual penyembelihan hewan kurban bukanlah sekadar seremonial transaksional antara manusia dan Tuhan. Ia adalah simbolisasi dari penaklukan nafsu hewani (bahimiyyah) yang ada di dalam diri manusia, seperti sifat serakah, egois, dan kejam. Daging dan darah hewan yang dikurbankan tidak akan pernah sampai kepada Allah; melainkan ketakwaan yang menjadi esensi utamanya. Ketakwaan inilah yang menjadi titik temu antara literasi dan qurban.

Ujian Literasi Tertinggi

Mari Kita selami jejak antropologis dan teologis dari peristiwa monumental Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS. Perintah untuk mengorbankan anak yang telah dinantikan sekian puluh tahun adalah ujian literasi tertinggi.
Ibrahim membacanya bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai sebuah kebenaran mutlak dari wahyu Ilahi. Ismailpun, dengan kedalaman spiritualnya (literasi batin), membenarkan perintah itu dan menyerahkan dirinya dengan penuh keikhlasan. Peristiwa ini mendidik kita bahwa literasi tertinggi adalah ketika manusia mampu membaca kehendak Tuhan di balik setiap cobaan yang terasa pahit di permukaan.
Ini adalah proses dialektika antara akal, wahyu, dan hati nurani.

Antitesis Terhadap Berhala Modern

Dalam dimensi filosofis eksistensialisme religius, manusia modern sering kali terperangkap dalam “penyembelihan” terhadap nilai-nilai kemanusiaannya sendiri demi membesarkan berhala-berhala modern seperti materialisme, popularitas, dan kekuasaan.

Idul Qurban datang sebagai antitesis terhadap budaya konsumerisme ini. Ibadah qurban menuntut manusia untuk merelakan sebagian harta bendanya—yang dicintainya—untuk dibagikan kepada sesama yang membutuhkan.

Dari kacamata antropologi sosial, ini adalah praktik filantropi yang merajut kembali kohesi sosial, menghapus jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin, serta menumbuhkan rasa empati yang mendalam.

Berbagi adalah bentuk literasi sosial, yakni kemampuan untuk “membaca” realitas penderitaan orang lain di sekitar kita.

Membaca dan Menulis Di atas Kanvas Kehidupan

Ibadah qurban mengajarkan kita pada bentuk “membaca” dan “menulis” yang sesungguhnya di atas kanvas kehidupan.

“Membaca” bahwa segala kenikmatan di dunia ini hanyalah titipan, dan “menulis” makna kehidupan melalui tindakan cinta kasih serta kerelaan berkorban demi kemaslahatan umat.

Sebagaimana dikisahkan dalam lembar literatur Islam klasik, qurban adalah jalan mendaki menuju kesempurnaan cinta kepada Allah. Apalah arti ilmu dan literasi jika ia hanya memenuhi kepala manusia tanpa menggerakkan tangannya untuk berderma dan berkurban bagi sesama ?.

Penutup

Pada akhirnya, Hari Raya Idul Qurban menyadarkan Kita bahwa agama dan budaya pengorbanan adalah sistem nilai kultural yang menjaga kewarasan peradaban.

Melalui literasi, Kita membaca sejarah pengorbanan Ibrahim dan Ismail, dan melalui Idul Qurban, Kita mempraktekkan nilai-nilai tersebut dalam realitas kehidupan nyata.

Semoga momentum agung ini mampu membebaskan batin Kita dari belenggu ego, menjadikan kita manusia yang lebih literat, lebih peka secara sosial, dan senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada Sang Maha Kasih. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!