Sumbu Borneo

Jejak Kemerdekaan di Lorong-Lorong Gunung Rumbia

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh: Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi & Kebudayaan

Kemerdekaan Indonesia, yang kini telah menua dalam hitungan tahun, bukan sekadar deretan upacara dan lomba meriah di pusat kota. Ia sejatinya hidup di lorong-lorong sempit, di gang-gang perkampungan, di bukit-bukit sunyi tempat rakyat kecil merajut nasibnya. Di sanalah makna kemerdekaan paling jernih dapat dipotret: dari wajah-wajah sederhana yang menyimpan harapan.

Adalah Dr. H.M. Jamal Amin, M.Si., dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Mulawarman, yang mencoba membaca denyut itu melalui perjalanan kemerdekaan di pelosok. Pagi sekitar pukul sembilan, ia berlari kecil menapaki jalan setapak berkelok menuju Gunung Rumbia, di gang 2 Jalan Rumbia, Kompleks Unmul, Samarinda. Jalan sepanjang dua ratus meter itu menanjak, membawanya melewati rumah-rumah warga Buton yang sudah puluhan tahun menetap di tanah rantau ini.

Di puncak kecil itu, ia bertemu seorang perempuan renta: Wa’ Munda. Lahir di Buton tahun 1957, merantau ke Samarinda sejak 1976, dan sejak itu menetap di lereng gunung yang dahulu masih hutan belantara. Dengan suara lirih, ia mengenang:

“Dulu kami tebang semak, pikul kayu, buka jalan sendiri. Tidak ada listrik, tidak ada air. Pelan-pelan kami bangun rumah, lalu jadi kampung. Sekarang anak cucu sudah bisa sekolah, bisa ngaji. Itulah merdeka bagi saya, Nak—hidup aman dan anak-anak bisa belajar.”

Wa’ Munda adalah potret nyata rakyat kecil yang ikut menghidupi kemerdekaan, bukan dengan senjata, melainkan dengan ketekunan menaklukkan hutan demi ruang hidup keluarga. Kemerdekaan baginya sederhana: rumah yang berdiri kokoh, suara adzan yang terdengar, dan anak-anak yang berani bermimpi.

Tak jauh dari sana, Dr. Jamal menyaksikan anak-anak keturunan Buton merayakan 17 Agustus. Mereka membawa bendera kecil, menyanyi riang, meski dengan fasilitas sederhana. Pemandangan itu bagai oase: kemerdekaan tetap hidup di puncak Gunung Rumbia.

Ia pun bertanya: “Nak, apa cita-citamu?”
Satu per satu anak menjawab: ingin jadi dokter, tentara, polisi, guru. Wajah-wajah mungil itu memancarkan keyakinan meski jalan menuju cita-cita panjang dan terjal.

Dengan senyum, Dr. Jamal berpesan: “Harus rajin belajar, rajin mengaji, dan jangan lupa shalat ya, Nak. Semoga terkabul cita-citamu.” Kata-kata itu menjadi doa yang menancap di hati mereka, doa yang mungkin kelak membimbing mereka menuju masa depan.

Momen kecil itu merekam hakikat kemerdekaan: setiap anak bangsa berhak bermimpi, berhak bercita-cita, dan mendapat kesempatan yang adil untuk meraihnya. Merdeka bukan sekadar simbol, melainkan janji yang harus ditepati: bahwa rakyat kecil di lorong-lorong, di bukit sunyi, di kampung pinggiran pun punya hak sama untuk sejahtera.

Dari kacamata ilmu pemerintahan, Gunung Rumbia adalah pekerjaan rumah besar bangsa. Negara merdeka tidak cukup menjamin kedaulatan politik, tetapi juga harus menghadirkan keadilan sosial. Anak-anak di kampung Buton itu butuh akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan untuk orang tua, dan ruang aman untuk tumbuh.

Namun perjalanan ini juga menunjukkan keteguhan rakyat. Meski hidup sederhana, mereka tidak kehilangan optimisme. Wa’ Munda, yang puluhan tahun lalu menebas hutan demi rumah, kini tersenyum melihat cucunya menyanyikan lagu kemerdekaan. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata:

“Saya tidak minta apa-apa, Nak. Cukup kalau anak cucu saya bisa sekolah tinggi, punya masa depan, tidak susah seperti kami dulu. Kalau itu tercapai, itulah merdeka yang sebenar-benarnya.”

Kalimat itu menggema jauh melampaui bukit kecil Samarinda. Ia adalah doa, ia adalah refleksi, dan ia adalah tuntutan moral bagi bangsa ini.

Kemerdekaan, pada akhirnya, bukan peristiwa yang selesai pada 17 Agustus 1945. Ia terus hidup di jalan setapak Gunung Rumbia, di suara anak-anak yang bercita-cita, di doa orang tua yang ingin melihat generasi penerusnya lebih baik.

Gunung Rumbia hanyalah bukit kecil di Samarinda. Namun dari puncaknya, kita bisa membaca cakrawala besar bangsa: cita-cita anak-anak yang tak boleh patah, harapan rakyat kecil yang harus diperjuangkan, dan janji kemerdekaan yang mesti terus ditepati.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!