Oleh : Muslimin.M
Saya tidak pernah bercita-cita mendapatkan Bintang Jasa.
Saya bahkan tidak tahu bentuknya seperti apa, sampai pagi itu saat seorang protokol menelepon, menyampaikan bahwa nama saya masuk dalam daftar penerima.
Saya kira itu semacam kesalahan. Atau mungkin, sekadar formalitas.Tapi beberapa hari kemudian, saya menerima undangan resmi. Ada lambang negara di sudut surat dan nama saya tertulis jelas.
Saya diam.
Yang saya pikirkan bukan seragam dan protokoler. Tapi, siapa yang mencalonkan ? dan lebih heran lagi apakah saya pantas ?
Upacara itu khidmat. Presiden berdiri tegak. Lagu kebangsaan diputar. Nama saya dipanggil.
Saya maju.
Dada saya ditapuk ringan. Medali berbentuk bintang disematkan.
Saya mendengar tepuk tangan.Tapi jujur saja yang saya rasakan justru sunyi. Seperti ada suara kecil di dalam hati yang bertanya.
“Apa benar kamu sudah berjasa ?”
Saya tidak sedang merendah. Saya hanya tahu, bahwa diluar sana ada banyak orang-orang yang berjasa, tapi tidak pernah tercatat.
Petani yang tidak pernah absen menanam.
Guru di pelosok yang tidak pernah viral.
Perawat yang tidak sempat cuti saat pandemi.
Mereka mungkin tidak mendapat bintang.Tapi sesungguhnya merekalah cahaya yang tidak terlihat.
Saya simpan medali itu, bukan sebagai lambang pencapaian, tapi sebagai pengingat. Bahwa apa pun yang sudah saya lakukan, belum tentu cukup. Bahwa berjasa bukan soal diberi tanda, tapi soal tetap bekerja, bahkan saat tidak ada yang melihat.
Bintang itu sekarang tergantung di lemari saya. Tidak terlalu mencolok. Tapi cukup untuk mengingatkan saya setiap hari.
” Seperti itulah mungkin alur ceritanya jika saya benar-benar dianugerahi bintang jasa, apalagi sekelas bintang Mahaputra”. Gumam saya dalam hati serius.
*Betulkah negara hadir*
Setiap perayaan hari kemerdekaan, negara menganugerahkan medali. Salah satunya Bintang Mahaputra.
Adalah penghargaan tinggi. Disematkan atas nama republik, sebagai bentuk pengakuan atas jasa luar biasa seseorang terhadap negara dan bangsa.
Tapi dalam diam, kita semua tahu penghargaan se agung apa pun bentuknya, tidak pernah sesederhana itu.
Sebab jasa bukan hal yang bisa ditimbang dengan medali. Kadang justru yang paling berjasa, tidak pernah sempat hadir diruang penghargaan.
Saya tidak meragukan integritas institusi yang memberikan Bintang itu. Tapi saya ingin mengajak kita melihat lebih dalam,
Apa makna sebenarnya dari penghargaan negara ?
Karena ketika sebuah negara memberi medali, maka sebenarnya sedang membingkai sejarah, sedang berkata kepada rakyat, “Orang ini layak dikenang. Layak diteladani.”
Dan dititik itulah tanggung jawab itu berpindah dari negara kepada penerima. Bahwa mulai hari itu, namanya tak hanya milik pribadi, tapi juga milik kolektif bangsa.
Apakah semua penerima benar-benar layak dijadikan panutan ? Apakah medali itu menjadi simbol keteladanan atau sekadar hadiah karena kedekatan ?
Tentu, tidak adil menggeneralisasi. Banyak penerima Bintang Jasa adalah pribadi luar biasa. Mereka berjuang dalam diam. Memberi tanpa meminta. Bekerja tanpa ekspektasi penghargaan.
Tapi kita juga tahu, medali bisa diberikan karena loyalitas politik, bukan pengabdian rakyat. Kadang negara lebih cepat memberi bintang kepada yang dekat kekuasaan, daripada yang dekat rakyat.
Di sinilah seharusnya penghargaan negara menjadi refleksi, bukan hanya bagi penerima, tapi bagi seluruh bangsa. Bahwa penghargaan semacam ini bukan sekadar seremoni, tapi pernyataan moral dan sejarah.
Dan bagi yang menerimanya, medali itu seharusnya bukan akhir dari pengabdian.Justru itu adalah titik awal untuk membuktikan bahwa pantas dikenang, bukan karena bintang didada, tapi karena cahaya yang dibawa untuk orang lain.
Bintang bisa diberikan. Tapi maknanya harus dibuktikan, setiap hari, dalam kerja, dalam sikap, dalam keputusan-keputusan kecil yang menyentuh hidup orang lain.
Ketika negara memberi bintang, harapannya bukan hanya pada penerima.Tapi juga pada rakyat, agar tetap kritis, tetap ingat
bahwa jasa tak selalu bersuara.Tak selalu viral. Tak selalu mendapat panggung.(**)
