Oleh : Muslimin.M
Malam itu dia masih tersenyum. Menyambut tamu di rumah dinasnya. Pesta kecil. Musik pelan. Sesekali di iringi dengan tawa dari para tamunya.
Paginya sudah di gedung KPK. Dengan rompi oranye. Sepertinya sudah lama diawasi.
Uang miliaran ditemukan di ruang kerjanya. Kardus-kardus penuh. Ada yang disembunyikan di laci. Ada yang ditumpuk di kamar. Seperti toko kelontong yang baru saja panen raya.
Namanya sudah sering disebut. Orang-orang di daerahnya tahu. Bahwa dia pejabat yang dermawan. Rajin membantu acara-acara warga. Rajin membagi sembako. Rajin menyumbang masjid. Bahkan rajin membantu anak anak yatim.
Tapi ternyata bukan dari gajinya. Bukan dari usahanya.
Dari uang proyek. Ya dari uang suap proyek.
Proyek itu memang tetap selesai.Jalan tetap dibangun. Gedung tetap berdiri. Tapi kualitasnya ? Separuh. Karena separuh anggarannya sudah disedot.
Saya ingat satu kalimat yang dia ucapkan setelah ditangkap, “Saya hanya mengikuti tradisi.” Tradisi ? Ya, tradisi setoran. Tradisi fee proyek. Tradisi amplop.
Kata-katanya jujur. Dan menohok. Korupsi bukan lagi soal individu. Tapi sistem. Sistem yang dibuat-buat oleh kawanannya.
Yang lebih ironis, ada kelompok yang masih membelanya. “Pak itu orang baik. Suka membantu.” Bahkan ada yang bilang, “Biar saja yang penting dia bagi-bagi.”
Itulah tragedi kita.
Korupsi sudah menjadi bagian dari budaya. Bagian dari tradisi baru.
Bukan lagi aib.
Kita boleh marah ke pejabat itu. Tapi kalau jujur, kita pun ikut membiarkannya. Kita menutup mata karena mendapat sedikit cipratan.
Apakah korupsi bisa hilang ?
Jawabannya, bisa.
Asalkan kita semua berhenti pura-pura tidak tahu. Berhenti membelanya.
*Pejabat dan Uang*
Saya kadang heran melihat kelakuan para koruptor ini. Gajinya sudah besar. Fasilitas lengkap. Mobil dinas ada. Rumah dinas ada. Sopir dinas ada. Uang perjalanan ada.
Lalu, mengapa masih mencuri ?
Jawabannya sederhana karena bisa. Karena tamak. Karena mental sudah bobrok.
Negeri ini terlalu ramah kepada koruptor. Ditangkap, dipenjara, keluar, masuk lagi ke panggung politik. Bahkan disambut meriah. Seperti pahlawan pulang perang.
Kita juga aneh. Yang ditangkap kita hujat. Yang baru ditangkap, kita tonton. Tapi yang lama, kita pilih lagi. Benar-benar aneh negeri ini.
Korupsi sudah menjadi tontonan rutin. Seperti sinetron. Ada episode baru tiap bulan. Ada tokoh baru. Tapi ceritanya sama. Endingnya juga sama.
Kita sudah bosan. Tapi tetap menonton.
Koruptor itu lihai. Mereka tahu cara membungkus diri. Rajin tersenyum. Pandai berpidato. Pandai juga berbagi ketika menjelang pemilu. Itulah kelebihannya.
Rakyat pun silau. Lupa bahwa uang yang dibagi itu uang mereka sendiri.
Saya pernah membaca slogan, *Korupsi musuh bersama.* slogan ini bagus, meskipun realitasnya korupsi malah menjadi rezeki bersama.
Lihatlah. Hampir semua proyek ada *fee*. Hampir semua izin ada *biaya*. Hampir semua anggaran ada *potongan*. Itu bukan rahasia lagi. Itu rahasia umum.
Bedanya dengan negara maju, disana orang kaya karena inovasi. Disini, orang kaya karena korupsi.
Kita tidak perlu heran dan kaget kalau kita sulit maju dan berkembang. Energi bangsa ini habis untuk memperkaya pejabat.
Dan jangan tanya kapan korupsi berakhir. Selama rakyat masih memilih pencuri dengan sengaja, jawabannya jelas, sangat sulit bahkan mungkin tidak akan pernah.(*)
