KUKAR.SUMBU BORNEO.ID– Memasuki kawasan Kapak Prabu atau disingkat dengan nama Kampung Kopi Luwak, mata langsung dimanja dengan hamparan kopi yang rimbun. Suasana terasa nyaman dan sejuk.
Kawasan Kapak Prabu yang terletak di Desa Prangat Baru Kecamatan Marangkayu Kutai Kertanegara, Kaltim, merupakan Kawasan perkebunan kopi. Kawasan ini berjarak kurang lebih 60 Km jalan trans Samarinda – Bontang.
Di depan pintu masuk kawasan nampak pintu gerbang bertuliskan kampung Kopi luwak. Di kawasan ini ada sekira 30 ha hamparan pohon kopi liberika.
Bahkan dalam pengembangan masterplan kawasan Kapak Prabu bisa mencapai 60 ha
Ditemani secangkir kopi luwak bersama sang ouwner perkebunan kopi, Rindoni mengurai cerita tentang awal mula perkebunan kopi tersebut.
Rindoni mengatakan, kapak prabu merupakan kawasan kopi terpadu yang dikembangkan oleh Kelompok Tani Kopi di Desa Prangat Baru pada tahun 2020.
Kawasan ini, kata Rindoni dikembangkan atas kolaborasi PT.Pertamina Hulu Kalimantan Timur ( PHKT) melalui program corporate social responsibility( CSR ).
” Kampung Kopi luwak ini mampu memproduksi kopi luwak liberika yang bisa dipasarkan ke luar Kaltim,” ujar Rindoni, Selasa, 7 Oktober 2025.
Suasana cair saat Rindoni mengurai kisah perjuangannya. Cita-cita yang mulia ingin mengubah kawasan Kapak Prabu menjadi agrowisata berbasis komoditi kopi terpadu menjadi impiannya sejak lama.
Kepada tim Sumbu Borneo Rindoni membeberkan resep dalam meracit kopi. Bahkan,menurutnya produksi kopi liberika setiap musim (6 bulan) bisa menghasilkan 1 kilogram.
” Berbeda dengan kopi luwak sebab bergantung pada jumlah keluaran biji kopi dari luwak liar yang ada,” kata Rindoni.
Ternyata jenis kualitas kopi dan harga yang diproduksi kelompok tani Prabu Kapak ini berbeda – beda.
Misalnya kopi liberika fullwash proses, rata – rata harganya Rp.60 ribu/100 gr. Liberica honey proces, Rp.75 ribu/ 100 gr. Liberica natural proces, Rp.80 ribu/100 gr. Sedangkan kopi luwak liberika harganya lebih mahal Rp450 ribu/100 gr.

Rencana Pengembangan Kapak Prabu
Kurang lebih 2 jam tim Sumbu Borneo bincang hangat tentang kopi, sesekali rasa khas kopi luwak makin lengket dilidah. Rasa yang khas itu makin memantapkan selera bagi penikmat kopi.
Desa Prangat Baru ini, ujar Rindoni, akan dikembangkan dengan konsep di dalamnya ada wahana wisata, seperti children Playground, flaying fox, paint ball, arena ATV, dan kolam pemancingan, serta pengembangan UMKM centre dan restoran.
Ada sekira 29 ha telah disiapkan dalam pengembangan kawasan kopi luwak di Desa Prangat Baru. Tiga ha di Desa Prangat Selatan, dan 6 ha di Desa Makarti.
Rindonipun bersemangat mengulas satu – satu rencana tersebut. Bahkan kampung Kopi luwak ini sering dikunjungi orang – orang l penting( pejabat ) dari dalan maupun luar Kaltim.
Kelompok Tani Prabu Kapak ini beberapaki mengikuti ekspo di tingkat nasional dan sederet penghargaan telah diraihnya. Hingga jelang magrib, tim Sumbu Borneo menutup perbincangan dengan sang pemilik perkebunan kopi luwak di kampung Kopi luwak itu.(tim/sb)
