Sumbu Borneo

PURBAYA MENGGUNCANG POLITIK NEGERI

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Purbaya tidak marah, tapi langkahnya membuat banyak orang marah.Tidak juga menabuh genderang perang, tapi negeri ini terasa berguncang setelah keputusannya akan memangkas anggaran tahun depan.

Dia menyebutnya rasionalisasi.
Politikus menyebutnya pemangkasan.
Media menamainya guncangan. Dan memang terguncang. Bukan karena jumlah uangnya.Tapi karena siapa yang disentuh.

Bertahun-tahun APBN hidup seperti tubuh yang gemuk, tapi lemah. Makan banyak, tapi tidak sehat. Duit disalurkan ke banyak pos proyek daerah, pokir DPR, bantuan sosial yang kadang sosialnya hanya di spanduk.

Semua berjalan baik-baik saja, sampai seseorang berani bertanya, “Untuk apa semua ini ?” Purbaya bertanya itu. Dan karena dia Menteri Keuangan, pertanyaannya berubah menjadi keputusan.

Di rapat kabinet, di rapat depan anggota dewan, dia berbicara pelan.Tak ada nada tinggi, tak ada ancaman. “Negara sedang kehabisan napas fiskal,” katanya.
“Kalau kita terus berlari tanpa menata napas, kita akan pingsan sebelum garis finis.”

Beberapa menteri, politisi menunduk. Beberapa menatapnya tajam.
Tapi Purbaya tetap bicara.
Dia tahu, kebenaran fiskal sering tidak populer.

Dia memang bukan politisi, tidak pandai membungkus keputusan dengan kata demi rakyat setiap kali ada pemangkasan.Tapi dia tahu, pemangkasan yang benar justru untuk menjaga agar rakyat tidak membayar lebih mahal nanti, lewat pajak dan inflasi.

Politik gempar. Dana aspirasi terancam, Proyek daerah terancam tertunda. Bupati marah, gubernur kecewa, partai bingung. Beberapa fraksi bahkan mulai berbisik, “Purbaya ini mau jadi siapa ?”

Pertanyaan yang salah.Karena Purbaya tidak ingin menjadi siapa-siapa. Dia hanya ingin negara ini berhenti hidup diatas uang pinjaman.

Saya pernah bertemu orang seperti dia. Orangnya banyak senyum, hatinya jernih, tidak haus pujian, tapi selalu haus kebenaran angka. Dan angka tidak bisa disuap.

Purbaya mungkin tidak populer sekarang, sejarah sering menulis nama-nama seperti dia dengan tinta yang lama hilang terbaca, dingin di awal, benar di akhir.

Negeri ini butuh politisi yang pandai menenangkan rakyat. Tapi juga butuh bendahara yang berani menegur negara. Karena kadang yang membuat rumah tangga jatuh bukan karena kurang cinta, tetapi karena salah kelola uang.

Dan barangkali, Purbaya baru saja mengingatkan itu. Dengan satu keputusannya. Purbaya bukan orang politik.
Itu kelebihannya, sekaligus bebannya. Karena dia datang dari dunia yang percaya pada angka, bukan pada narasi.

Baginya, satu rupiah yang salah sasaran adalah penyakit. Dan penyakit itu tidak bisa disembuhkan dengan pidato, hanya dengan pembedahan.

Sayangnya yang dibedah adalah tubuh politik itu sendiri. Dan setiap pembedahan pasti menimbulkan rasa sakit , bahkan jeritan.

Mungkin inilah warisan paling nyata dari Purbaya, bukan reformasi fiskal, tapi reformasi cara berpikir tentang uang negara.

Bahwa APBN bukan panggung kekuasaan.
Bahwa defisit bukan sekadar angka, tapi cermin dari cara kita menipu diri

Begitulah orang seperti dia, mungkin suatu saat nanti tidak akan dikenang karena pidatonya, tapi karena keberaniannya diam di tempat yang sepi.

Negeri ini perlahan belajar.
Bahwa menghemat bukan berarti melemah.
Bahwa menunda proyek bukan berarti mundur.
Bahwa menyehatkan keuangan adalah bentuk tertinggi dari mencintai negara.

Dan diantara semua pelajaran itu, ada satu yang paling penting bahwa tidak semua guncangan berarti kehancuran. Beberapa guncangan justru tanda bahwa fondasi mulai bergerak menuju keseimbangan baru.

Purbaya Menggebrak

Gebrakan pejabat biasanya hanya terdengar keras di awal. Lalu perlahan hilang terkubur dibawah tumpukan rapat, surat edaran dan kompromi. Dan gebrakan Purbaya kali ini berbeda, tidak dimulai dari kata-kata, tapi dari angka.

Purbaya tidak tampil seperti politisi. Tidak berapi-api. Tapi diam-diam, tangannya sedang membongkar fondasi lama, sistem fiskal yang selama ini lebih sibuk menghitung belanja ketimbang manfaatnya.
Dia mengubah cara pandang dari *berapa yang dihabiskan menjadi apa yang dihasilkan
Kedengarannya sederhana, di birokrasi, kesederhanaan justru hal yang paling sulit dilakukan.

Saya ingat satu kalimatnya, “Uang negara bukan untuk dibagi, tapi untuk digunakan.” Pendek, tapi dalam. Karena dibanyak instansi, anggaran memang masih dianggap rezeki yang harus dihabiskan, bukan alat untuk bekerja lebih baik.
Dan ketika Purbaya menolak itu, banyak yang kaget. Bahkan marah.

Para kepala daerah mulai berbisik, “Ini orang mau bikin repot saja.” Para pejabat pusat mengeluh, “Kenapa aturan mainnya diubah
ditengah jalan?”
Tapi justru disitulah ujian perubahan, kalau semua setuju, berarti itu bukan perubahan hanya pengulangan dengan nama baru.

Gebrakan Purbaya bukan soal memotong anggaran, tetapi menata arah.
Dia ingin uang negara mengalir ke fungsi yang jelas, bukan ke kegiatan yang kabur. Dan ketika bicara soal efisiensi, tidak bicara hemat, tapi bicara hasil. Hemat tanpa hasil adalah pelit.Tapi hasil tanpa disiplin adalah boros.

Tentu tidak semua akan suka. Sebab perubahan selalu mengancam kenyamanan. Negeri ini tidak akan maju kalau semua ingin tetap nyaman.

Saya tidak tahu berapa lama gebrakan Purbaya akan bertahan. Yang saya tahu bahwa disetiap zaman, selalu ada satu dua orang yang berani menyalakan lampu di ruangan yang sudah lama gelap. Kadang lampunya kecil, cukup untuk menunjukkan arah.

Kalau nanti Purbaya kalah oleh sistem, itu bukan kegagalannya. Itu hanya tanda bahwa sistemnya memang harus lebih dulu diperbaiki. Dan sejarah akan mencatat bahwa pernah ada pejabat bernama Purbaya, yang memilih mengguncang meja birokrasi, ketimbang duduk diam menunggu giliran.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!