*Oleh : Muslimin.M*
Saya masih ingat dengan jelas suasana ruang kelas di sekolah dasar saya dahulu, dinding kusam, papan tulis penuh bekas kapur, dan meja kayu yang sudah goyah. Tapi di balik semua itu, ada sosok guru-guru yang begitu bersemangat mengajar, walau gajinya jauh dari cukup.
Kini, setelah tiga dekade, saya bertanya-tanya, sudahkah sistem pendidikan kita berubah secara nyata, atau jangan-jangan hanya berganti nama dan jargon?
Saya juga tidak menafikan kemajuan. Pemerintah telah mengalokasikan 20 persen dari APBN dan APBD untuk pendidikan. Kurikulum terus disesuaikan. Digitalisasi mulai menjangkau ruang kelas.Tapi, apakah semua ini benar-benar menyentuh akar persoalan ? atau hanya perubahan di permukaan ?
Fakta paling mengecewakan dari sistem pendidikan kita adalah ketimpangan yang begitu nyata. Anak-anak di Jakarta, Bandung dan kota-kota besar lainnya bisa belajar diruang ber-AC dengan guru tersertifikasi, sementara di pedalaman Papua atau daerah terpencil lainnya, siswa masih belajar dengan pencahayaan seadanya dan bahkan kekurangan guru.
Kondisi ini menciptakan dua dunia pendidikan dalam satu negara, satu dunia penuh akses, teknologi, dan kesempatan, dan satunya lagi penuh keterbatasan, bahkan untuk fasilitas dasar. Padahal, anak-anak di kedua dunia ini sama-sama warga negara yang seharusnya mendapatkan hak pendidikan yang adil.
jujur, saya sempat optimis saat mendengar istilah “Kurikulum Merdeka”. Konsepnya terdengar ideal, pembelajaran yang berpusat pada siswa, fleksibel, dan kontekstual. Tapi kenyataannya tidak semudah itu.
Banyak guru kebingungan menghadapi perubahan ini. Mereka minim pelatihan, kurang dukungan, dan dibebani tumpukan administrasi. Saya sering mendengar keluhan guru yang harus mencari sendiri sumber belajar karena kurangnya buku buku yang tersedia. Ini bukan salah guru, tetapi cermin dari bagaimana kebijakan nasional belum turun sampai keruang kelas dengan utuh.
Ironisnya, dalam semangat “merdeka belajar”, banyak guru justru tidak merasa merdeka. Mereka ditekan untuk mencapai target, mengisi laporan daring, dan menghafal indikator yang kadang tak dipahami sepenuhnya. Di balik semua itu, esensi dari mendidik manusia kadang tersingkir.
Yang membuat saya semakin prihatin adalah bagaimana pendidikan hari ini cenderung menjadi komoditas dan komersil. Di kota besar, orang tua rela membayar jutaan bahkan puluhan juta rupiah per bulan demi menyekolahkan anaknya ke sekolah berlabel unggul dan internasional. Di sisi lain, sekolah negeri berkualitas masih terbatas dan menjadi rebutan.
Di tengah wajah buram ini, saya juga melihat cahaya. Dibanyak pelosok negeri, ada guru-guru luar biasa yang tetap mengajar dengan sepenuh hati, meskipun tanpa fasilitas memadai. Ada komunitas yang menciptakan ruang belajar alternatif, dari garasi rumah hingga bale-bale bambu. Ada anak-anak yang berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk sekolah.
Mereka adalah wajah pendidikan Indonesia yang sejati, bukan sekadar angka dalam laporan kementerian. Mereka menunjukkan bahwa perubahan tidak harus selalu menunggu kebijakan besar. Terkadang, perubahan lahir dari keikhlasan dan ketekunan yang kecil tapi konsisten.
Sudah saatnya kita melihat pendidikan bukan hanya dari sisi sistem, tetapi dari sisi manusia. Pendidikan bukan semata soal nilai ujian, ranking dan kelulusan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, membentuk karakter, memperluas cara berpikir, dan mengajarkan empati serta tanggung jawab sosial.
Sejatinya kita butuh kebijakan yang berpihak, bukan sekadar populer. Kita butuh kurikulum yang hidup, bukan yang dibakukan dimeja birokrasi. Kita butuh guru yang diberdayakan, bukan dibebani. Dan diatas semuanya, kita butuh keberanian untuk mengakui bahwa sistem kita belum sempurna dan mulai memperbaikinya dari dasar.
Pendidikan tidak akan berubah hanya dengan jargon, akan berubah ketika ada kemauan kolektif dari negara, guru, orang tua, dan masyarakat untuk memperjuangkannya.
Saya tidak ingin sepenuhnya pesimis. Saya percaya pada kekuatan guru yang tulus, pada anak-anak yang belajar di bawah pohon tapi tetap semangat, pada komunitas-komunitas kecil yang terus melawan ketimpangan dengan kreativitas. Pendidikan kita mungkin belum sempurna, tapi asa itu belum mati.
Sebagai warga negara, sebagai mantan murid dan sebagai pendidik, saya hanya ingin satu hal yaitu sebuah sistem pendidikan yang memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak angka dan lulusan. Pendidikan yang membuat anak-anak merasa dihargai, di mampukan, dan dibentuk untuk dunia yang nyata, bukan dunia diatas kertas.
Karena wajah pendidikan adalah wajah masa depan bangsa. Dan masa depan itu, tak seharusnya retak, harus utuh dan berseri-seri.
