Sumbu Borneo

Gelar Kajian Ramadan Melalui Zoom, BPP KKMSB Hadirkan Sayyid Ahmad Fadhl Sebagai Narsum

Berita-SumbuBorneoID
Bagikan :

JAKARTA.SUMBU BORNEO.ID– Di tengah gempuran arus individualisme modern, nilai-nilai kebudayaan lokal dinilai memegang peranan krusial dalam menyempurnakan ibadah.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Kajian Ramadhan Online yang digelar oleh Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (BPP KKMSB), pada Senin, (23/2/2026).

​Acara yang disiarkan langsung melalui platform rapat virtual serta live streaming YouTube ini mengusung tema “Titik Temu Mala’bi dengan Takwa”.

Kajian ini menghadirkan annanggurutta Ahmad Fadhl Al Mahdaly sebagai narasumber utama, dipandu oleh Dr. HM. Fudhail Rahman sebagai moderator, dan dibuka Ketua Umum BPP KKMSB Dr. Muhammad Zain, M.Ag.

​Dalam paparannya, Annanggurutta Sayyid Ahmad Fadhl Al Mahdaly menegaskan bahwa Mala’bi (yang bermakna mulia, sopan, dan berbudi pekerti luhur) bukanlah sekadar semboyan, melainkan parameter nyata dari sikap, tindakan, dan ucapan seseorang.

Annanggurutta Sayyid Fadhl mengatakan, ketakwaan yang diraih selama Ramadan harus termanifestasi dalam karakter Mala’bi di kehidupan sehari-hari.

Sayyid Fadhl menegaskan bahwa, ​puasa dan takwa itu, harus berwujud dalam interaksi sosial. Menghargai waktu, menepati janji, hingga cara kita menghormati tamu adalah wujud dari Mala’bi.

Menurutnya, kearifan lokal yang mulai terkikis, seperti inisiatif menyuguhkan minuman kepada tamu sebagai bentuk penghormatan, terlepas dari apakah minuman tersebut diminum atau tidak.

Tak hanya itu, Sayyid Ahmad Fadhl juga menyoroti fenomena individualisme yang kian menggerus nilai sosial masyarakat saat ini. Manusia modern dinilai terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hingga mengabaikan kepedulian terhadap sesama.

​Sementara itu, Dr. Muhammad Zain, M.Ag memberikan apresiasi tinggi terhadap metode penyampaian setiap sesi kajian yang disampaikan Sayyed Fadhl. Dia menilai sang narasumber selalu berhasil meramu elemen penting: pemahaman agama, realitas sosial terkini, dan kearifan lokal masyarakat Mandar.

​Muhammad Zain menyoroti pendekatan “Islam garis lucu” yang sarat akan kearifan (wisdom) yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini. Dia juga mendorong agar intisari dari ceramah-ceramah seperti ini dapat didokumentasikan ke dalam sebuah buku.

​Selain itu, Muhammad Zain mengingatkan agar momen Ramadan dimaknai sebagai masa “rehabilitasi” (marhaban ya Ramadan) sebuah fase untuk memperbaiki kualitas puasa, ibadah ritual, dan yang terpenting, kualitas hubungan sosial antarmanusia.

​Kajian secara daring yang diikuti oleh warga KKMSB dari berbagai daerah seluruh Indonesia ini ditutup dengan harapan agar nilai Mala’bi dapat terus dihidupkan, tidak hanya bagi masyarakat Mandar, tetapi juga sebagai kontribusi nyata bagi keadaban sosial di Indonesia.(ril)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!