Samarinda,sumbuborneo.id– Mendung menyelimuti langit Samarinda siang itu, ketika sumbuborneo.id mencoba menjejaki Taman Cerdas PKK Edu Park Samarinda yang terletak di Jalan Jenderal S.Parman atau warga Samarinda lebih mengenalnya kampung Ruhui Rahayu.
Melewati jembatan Ruhui Rahayu Ruang publik itu cukup mencolok. Di sisi kanan nampak penjual makanan dan minuman. Terus menyasar kebelakang sebuah gedung galeri Dekranasda berdiri.
Ruang publik itu sepertinya menjadi pilihan warga Samarinda untuk bersantai sambil membaca buku, mengerjakan tugas – tugas kantor atau kampus.

Di dalam Taman Cerdas, satu bangunan yang berarsitektur cukup unik dan diberi nama Micro Library. Di bawanya beberapa orang terlihat duduk santai sambil mengutak – atik laptop.
Pohon terang besi berdiri kokoh dan rimbung menghiasi areal taman. Terlihat kursi – kursi tertata rapi dan wahana permainan bagi anak – anak.
Sejumlah petugas kebersihan tengah sibuk menyapu dedaunan yang jatuh dari pohon terang besi.” Kami disini setiap hari menyapu dan bergantian,” ujar Bambang seorang mantan petugas kebersihan.
Rupanya Bambang tak lagi tercatat sebagai petugas kebersihan. Kehadirannya di taman itu hanya membantu istrinya yang hari – harinya menyapu Taman Cerdas itu.” Saya sudah keluar sebagai petugas, hanya kesini membantu istri saya,” kata Bambang kepada sumbuborneo.id saat ditemui di Taman Cerdas, Selasa, 19 Agustus 2025.

Bambang yang lahir dan besar di Samarinda ternyata tiap hari mangkal di Taman Cerdas itu. Ia mengurai cerita kelam dan lika – liku perjalanan hidupnya di kota ini.
” Saya ini campuran Jawa dan Banjar dan sudah lama disini pak,” ujarnya dengan mata berkaca – kaca.
Kurang lebih dua jam mengobrol, hingga tak terasa waktu menunjukan pukul 14.30. Orang – orang masih terlihat setia duduk berlama – lama. ruang publik itu cukup menggoda.(sm/sb)
