Oleh: Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi & Kebudayaan
Ternyata tidak ada yang disebut “pertemuan” antara Bung Karno dengan Marhaen. Kalimat itu menyertai pikiran saya pagi ini ketika Bung Kobu – Yacobus K. Mayong Padang – menelepon saya. Yang ada hanyalah Bung Karno menemui Marhaen. Perbedaan kata sederhana ini ternyata menyimpan makna yang dalam.
Menurut Bung Kobu, ada beberapa alternatif untuk bisa terjadi “pertemuan”. Bung Karno bisa saja memanggil langsung Marhaen dari kejauhan. Bisa pula melalui kepala desa atau seseorang di kampung untuk memanggil Marhaen keluar dari sawahnya. Atau Bung Karno berdiri di pematang, bertepuk tangan, dan memanggilnya. Dengan status sosial Bung Karno sebagai mahasiswa kala itu—yang dalam pandangan masyarakat Jawa dan Sunda sudah sangat tinggi—tentu Marhaen akan terburu-buru keluar, bahkan bisa membungkuk, mengikuti tata krama saat itu.
Namun Bung Karno memilih cara lain. Ia menemui Marhaen. Ia masuk ke sawah, menghampiri, menatap, dan berbicara langsung. Ia ingin bertemu Marhaen dalam wujud aslinya: seorang petani kecil, berkeringat, menghela nafas di tengah kerja kerasnya. Tanpa topeng. Tanpa protokol.
Dengan begitu, Bung Karno bisa merasakan tarikan nafas Marhaen, mencium bau keringatnya, mendengar keluhan yang paling jujur, menyaksikan gerak bibir dan kedipan matanya, dan merasakan denyut jantung seorang rakyat kecil. Itulah pilihan kepemimpinan yang tidak sekadar menunggu, melainkan mendatangi. Tidak hanya mengutip penderitaan rakyat dari jauh, melainkan merasakannya langsung.
Kisah yang Menginspirasi: Dari Sawah Kecil ke Ideologi Besar
Kisah ini terjadi pada awal tahun 1920-an. Bung Karno masih mahasiswa di Bandung, sering berkeliling dengan sepedanya. Suatu hari ia berhenti di sebuah sawah sempit, melihat seorang petani yang sedang bekerja. Ia lalu bertanya tentang kepemilikan sawah, tanaman padi, alat pertanian, hingga hasil panennya.
Petani itu menjawab dengan jujur: semuanya memang miliknya sendiri, tetapi hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tidak lebih.
Petani itu lalu menyebut namanya: Marhaen.
Dari sinilah sebuah gagasan lahir. Bung Karno melihat Marhaen bukan sekadar individu, melainkan simbol. Ia adalah representasi rakyat kecil Indonesia yang tertindas sistem kolonial: memiliki tanah tetapi tak bisa makmur, punya alat tetapi tetap miskin, bekerja keras namun tetap berada di pinggiran sejarah.
Maka lahirlah Marhaenisme: ideologi yang mengangkat harkat dan martabat rakyat kecil, melawan ketidakadilan, dan memperjuangkan kemerdekaan. Marhaenisme bukan hanya bicara soal petani kecil, tetapi juga buruh, nelayan, dan semua rakyat yang hidup dalam cengkeraman kemiskinan. Ia adalah sosialisme khas Indonesia, berakar pada nilai luhur bangsa, berbeda dari komunisme, dan bertujuan mencapai kemandirian ekonomi serta keadilan sosial.
Dengan menemui Marhaen, Bung Karno sejatinya menemui seluruh rakyat. Ia menjadikan satu sosok kecil sebagai pintu untuk memahami semesta penderitaan bangsanya. Dari sawah sempit itu lahir api ideologi yang kemudian membakar jalan menuju kemerdekaan.
Pemimpin Sejati dan Pemimpin Citra
Di sini letak perbedaannya. Pemimpin sejati adalah mereka yang berani menemui rakyat, merasakan denyut nadinya, dan menjadikannya dasar perjuangan. Sedangkan pemimpin citra hanya pandai mengatur “pertemuan”: melalui kamera, panggung, atau pencitraan politik.
Pertanyaannya kini: apakah para pemimpin kita mau menemui rakyatnya tanpa topeng? Atau justru topeng semakin melekat ketika kursi kekuasaan sudah mereka duduki?
Bung Karno memberi teladan: walaupun ia mahasiswa—status yang tinggi pada zamannya—ia tetap turun ke sawah menemui Marhaen. Tidak menunggu dipanggil, tidak bersembunyi di balik protokol, tetapi melangkah ke tanah berlumpur. Itulah keberanian moral sekaligus kerendahan hati.
Jejak Marhaenisme di Zaman Kini
Kisah ini bukan sekadar sejarah. Ia menjadi cermin bagi kita hari ini. Betapa sering pemimpin bicara atas nama rakyat, tetapi jarang mendengar langsung suara rakyat. Betapa sering kebijakan dibuat dengan alasan pembangunan, tetapi justru menyingkirkan rakyat kecil dari tanahnya sendiri.
Kita tiba-tiba teringat pada rakyat di Kabupaten Pati dan Bone. Mereka menuntut keadilan dari kebijakan yang mereka anggap tidak memihak, bahkan merugikan. Suara-suara itu bergema seperti suara Marhaen hampir seabad lalu: suara yang sederhana, tetapi jujur dan menggetarkan.
Apakah pemimpin kita mendengar suara itu? Atau hanya sibuk membangun citra sambil menutup telinga?
Pertanyaan yang Menggugah
Maka, pertanyaan yang menggugah hati kita adalah:
Apakah pemimpin hari ini menemui Marhaen masa kini, atau sekadar mengatur pertemuan dengan citra tentang Marhaen?
Sejarah telah menunjukkan, pemimpin sejati dikenang bukan karena pencitraannya, melainkan karena keberanian moralnya untuk menemui rakyat, mendengar jeritan mereka, dan menjadikannya dasar perjuangan.
Bung Karno telah memberi teladan itu. Tinggal kita bertanya: apakah pemimpin kita hari ini masih berani menempuh jalan yang sama?(**)
Muliadi Saleh:
“Menulis untuk menginspirasi, mencerahkan, dan menggerakkan.”
