Oleh: Muslimin.M
Saya kadang bertanya-tanya apakah pendidikan kita sudah berjalan di jalur yang benar ? ditengah gegap gempita capaian angka pendidikan saat ini, nilai ujian yang terus naik, program digitalisasi yang masif, saya justru merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tak bisa diukur dengan angka.
Bagi saya, pendidikan sejatinya bukan soal berapa banyak murid lulus dengan nilai sempurna, berapa banyak sekolah yang terakreditasi A. Sebab pendidikan adalah tentang bagaimana seorang anak tumbuh menjadi manusia yang utuh yang mampu berpikir kritis, berempati, dan berani menghadapi dunia.
Saya pernah bertemu seorang guru di daerah yang boleh dikatakan terpencil dengan berbagai cerita pengalaman yang dialaminya, “betapa beratnya pekerjaan menjadi seorang guru di pedalaman, bukan hanya soal mengajar tapi juga berjuang agar muridnya tidak putus sekolah karena keterbatasan ekonomi”. Guru itu bukan sekadar pengajar, tapi pendamping, motivator, bahkan orang tua kedua bagi murid-muridnya. Dan
di saat yang sama, harus juga mengisi segudang laporan, menghadapi tekanan target nilai dan keterbatasan fasilitas.
Dari cerita itu, saya sadar bahwa kita terlalu sering menilai pendidikan dari hasil ujian bukan dari proses dan nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya, padahal justru itu yang paling mendasar bagi pendidikan.
Esensi pendidikan seharusnya memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang sesuai dengan ritme dan minatnya. Bukan mendikte nya dengan kurikulum padat yang tak memberi ruang kreativitas. Bukan menjadikan sekolah sebagai tempat menakut-nakuti dengan ujian dan ranking.
Dan saya meyakini bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memanusiakan. Dimana guru dan murid sama-sama belajar, bertumbuh dan saling menginspirasi.
Nilai-nilai kejujuran, keberanian dan kasih sayang diajarkan lebih dari sekadar rumus matematika atau fakta sejarah.
Mengembalikan esensi pendidikan bukanlah hal yang mudah. Butuh perubahan paradigma dari pemerintah, guru, orang tua dan masyarakat. Dan saya percaya, ketika kita mulai memperlakukan pendidikan sebagai proses membentuk manusia, bukan sekadar angka di papan nilai, sesungguhnya kita sudah berada di jalan yang benar.
Karena pendidikan bukan soal angka yang tertera
di rapor, tapi wajah-wajah anak bangsa yang siap melangkah ke masa depan dengan penuh percaya diri dan harapan yang tinggi.
Ki Hadjar Dewantara sudah lama mengingatkan, bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Tapi apakah hari ini murid masih dituntun ? atau justru ditekan oleh sistem yang tak memahami irama tumbuh mereka ?
Ketika sekolah hanya menjadi tempat menjawab soal, bukan menumbuhkan pertanyaan, kita kehilangan potensi terbesar pendidikan yaitu membentuk manusia berpikir, peduli dan mandiri.
Kita perlu mengembalikan pendidikan ke fungsinya, bukan sekadar alat mobilitas sosial, tapi ruang pembentukan nilai dan karakter. Kurikulum harus memberi ruang refleksi, empati dan kreativitas. Guru harus diposisikan sebagai pendidik, bukan sekadar pelaksana teknis. Siswa harus dihargai sebagai subjek yang belajar, bukan objek evaluasi.
Reformasi pendidikan tidak cukup diukur dari ganti menteri dan revisi kurikulum. Tapi harus dimulai dari keberanian mengubah cara pandang bahwa pendidikan bukan proyek pencapaian politik, melainkan proses peradaban yang panjang.
Pendidikan yang memanusiakan tidak bisa diburu dalam lima tahun program.Tapi bisa dimulai hari ini dengan mendengarkan suara siswa, mempercayai guru, dan membangun sekolah sebagai ruang hidup.
Pendidikan bukan untuk mencetak manusia patuh, tapi manusia merdeka. Bukan sekadar angka dalam laporan, tapi wajah-wajah masa depan bangsa yang akan menjadi generasi penerus.
Jika kita sungguh ingin maju, kita harus berhenti memperlakukan pendidikan sebagai angka. Dan mulai memperlakukannya sebagai nilai sebab nilai bukan angka tapi jati diri yang menjadi esensi dari hasil pendidikan yang sesungguhnya.
