Oleh : Muslimin. M
Pagi itu saya melihat seseorang didepan sekolah SMP negeri yang tidak begitu jauh dari rumah saya. Seorang pria, kira-kira usianya lima puluhan lebih sedang menyapu halaman sekolah sendirian pakai sarung tangan plastik tanpa seragam. Saya kira petugas kebersihan, ternyata dia kepala sekolah.
Namanya Pak rahmat. “Tukang sapu kami sakit,” katanya pendek sambil tersenyum kepada saya.
Dulu kepala sekolah duduk di kursi paling besar. Punya ruang kerja khusus. Punya lemari penuh piagam. Punya tanda tangan yang dicetak di setiap ijazah.
Dulu tugas kepala sekolah memastikan semua aturan dijalankan. Bahwa guru datang tepat waktu. Bahwa rapat berjalan sesuai agenda. Bahwa laporan masuk sesuai tanggal.
Dulu, kepala sekolah adalah atasan.
Sekarang ?
Sekarang, kepala sekolah harus menjadi pemimpin. Bukan hanya pengatur.
Pemimpin yang tidak hanya tahu cara memberi instruksi. Tapi tahu cara menjadi contoh.
Karena tantangan pendidikan sekarang bukan hanya kekurangan fasilitas dan guru.Tapi kehilangan *semangat*.
Dan semangat itu tidak bisa diperintah.Tapi harus ditularkan.
Saya pernah mendatangi satu sekolah lain lebih besar, lebih modern. Ada proyektor di setiap kelas. Ada taman tematik. Ada drone yang katanya dipakai untuk praktik IPA.
Tapi muridnya murung. Guru-gurunya kaku. Kepala sekolahnya sulit ditemui.
Hari itu saya merasa melihat dua dunia berbeda. Yang satu kecil, sederhana, tapi hidup. Yang satu besar, modern, tapi kering.
Bedanya bukan diteknologi. Bukan difasilitas. Bukan
dijumlah komputer.
Bedanya di kepemimpinan.
Yang satu hadir. Yang satunya sibuk rapat.
Di era digital saat ini banyak kepala sekolah berbicara tentang “transformasi”. Tentang “kurikulum baru”. Tentang “literasi digital”. Tapi tidak sedikit dari mereka yang bahkan belum pernah masuk ke kelas daring.
Saya tanya seorang guru, “Apakah kepala sekolah pernah ikut mengajar daring waktu pandemi “?
Dia tertawa. “Beliau sibuk, Pak.” katanya singkat.
Padahal itu justru momen penting untuk menunjukkan bahwa pemimpin pendidikan juga bagian dari proses belajar, bukan hanya penonton di pinggir lapangan.
Transformasi kepemimpinan tidak dimulai dari rapat kerja. Tapi dari kesediaan untuk turun duluan.
Kalau guru diminta mengubah metode, kepala sekolah juga harus berubah cara memimpin.
Kalau murid dituntut disiplin, kepala sekolah juga harus datang lebih pagi.
Kalau semua diminta belajar teknologi, kepala sekolah juga harus belajar dari nol.
Itulah tantangan sesungguhnya transformasi berubah dari atas.
Saya masih percaya, satu kepala sekolah bisa mengubah satu sekolah.
Bukan karena pintar.Tapi karena memberi semangat.
Sekolah adalah organisme yang sensitif, bisa membaca suasana. Guru tahu apakah kepala sekolah sungguh-sungguh atau tidak. Murid bisa merasakan apakah guru terinspirasi atau terpaksa.
Kalau kepala sekolah hanya muncul waktu apel, maka semangatnya hanya bertahan selama apel.Tapi kalau kepala sekolah hadir setiap hari, tidak hanya secara fisik, tapi juga secara hati, semua ikut berubah.
Hari ini kita berbicara banyak soal transformasi pendidikan.
Ada anggaran besar. Ada program digitalisasi. Ada pelatihan. Ada target. Ada indikator.
Tapi semua itu akan menjadi kosong, jika tidak ada satu orang yang bersedia menyapu halaman sendiri.
Satu orang yang bersedia belajar dari guru, dari murid, bahkan dari penjaga sekolah.
Satu orang yang mengerti bahwa memimpin berarti melayani. Bukan mengatur dari kejauhan.
Yang tidak selalu benar, tapi selalu mau belajar.
Yang tidak selalu kuat, tapi tidak pernah lepas dari tanggung jawab.
Yang tidak sibuk menulis kata-kata mutiara di dinding sekolah, tapi menjadi kalimat hidup yang dibaca langsung oleh anak-anak setiap hari.
Karena di tengah dunia yang berubah begitu cepat dengan teknologi, kurikulum, dan tekanan global, kita butuh pemimpin pendidikan yang kembali ke akar yaitu membentuk manusia lewat keteladanan.
Transformasi kepemimpinan pendidikan tidak akan berhasil jika hanya diukur dari struktur atau sistem, harus dimulai dari hati. Dari keikhlasan untuk mendengar, dari keberanian untuk belajar ulang, dan dari kerendahan hati untuk mengaku salah.
Transformasi pendidikan bisa dimulai dari kurikulum. Dari teknologi. Dari anggaran. Tapi hanya akan bertahan kalau pemimpinnya berubah lebih dulu. Menjadi lebih rendah hati, lebih dekat, dan lebih nyata.
Kadang, pendidikan tidak butuh pemimpin yang sempurna. Cukup yang sungguh-sungguh.
Dan bersedia berjalan di depan. Dengan tangan kotor. Tapi hati bersih.(*)
