Oleh : Muslimin.M
Pagi itu, saya mampir ke salah satu warung yang masih dalam lingkungan perkantoran hanya sekedar minum kopi langganan. Letaknya di pojok dekat kantor dinas yang biasa mengurusi sekolah yang tak jauh dari taman kota.
“Pak, katanya tahun ini gaji PNS nggak naik lagi ya ?” tanya si pemilik warung, sambil menuang kopi tubruk ke gelas saya.
Saya tidak langsung menjawab. Saya tahu dia bukan PNS.Tapi dia punya banyak pelanggan PNS. Dan dia paham kalau gaji PNS tak naik, omzet warungnya juga bisa seret.
Pemerintah punya alasan. Anggaran ketat. Fokus ke efesiensi, bayar utang dan ke banyak hal lain yang entah benar-benar prioritas atau sekadar alasan politik.
Tapi PNS tetap datang pagi.Tetap absen elektronik.Tetap tanda tangan berkas.Tetap rapat soal anggaran yang tak naik.
Saya teringat cerita orang tua dulu ketika ke daerah. PNS itu seperti tiang bendera di kantor. Diam, berdiri tegak, tidak berubah.Tapi tetap dibutuhkan. Kalau roboh, kantor bisa lumpuh.
Apakah mereka semua produktif ? Tidak juga.Tapi sistem yang membuat begitu.
Saya bayar kopi itu. Tambah nasi kuning. “Untuk PNS yang terus kerja walau gaji tetap,” kata saya. Si pemilik warung tersenyum. Dia tahu,
di negeri ini yang bertahan bukan hanya karena uang.
Gaji PNS memang tidak naik tahun ini. Seperti juga tahun lalu. Dan sebelumnya.Tidak ada pengumuman khusus. Tidak ada pidato kenegaraan yang menyampaikan penjelasan. Hanya, tidak naik. Seperti pohon tua di halaman kantor yang tidak lagi bertumbuh, tapi tetap berdiri.
Mungkin tidak banyak yang mengeluh. Mereka seperti sudah tahu, harapan kenaikan gaji tidak perlu dibicarakan. Nanti hanya dianggap manja.
PNS bukan beban
“Mau gaji besar jangan menjadi PNS.”
Kalimat itu sudah seperti adagium. Diulang-ulang. Lalu dijadikan pembenar. Bahwa PNS harus menerima semua dengan ikhlas. Dengan senyum. Dengan kesetiaan.
Saya faham, ruang fiskal memang sempit. Prioritas banyak. Subsidi energi, pembangunan infrastruktur, stabilitas keuangan, hingga utang luar negeri. Semua perlu dibayar.
Tapi saya juga mengerti, negara ini tidak dibangun oleh aspal jalan tol saja. Dibangun oleh orang-orang yang bangun pagi, melayani warga, mengetik surat, memeriksa data, memperbaiki sistem, menyusun laporan, mencatat transaksi dan men stempel dokumen. Orang-orang yang disebut PNS.
PNS itu bukan beban negara, tapi penopangnya
Negara harus mulai berpikir ulang. Bahwa menahan kenaikan gaji PNS bukan hanya soal penghematan.Tapi soal kepercayaan.
Ketika pegawai tahu bahwa dia bekerja keras, tapi tidak dihargai secara layak, pelan-pelan semangat itu akan luntur. Dan tidak ada sistem seefisien apa pun yang bisa berjalan jika dijalankan oleh orang-orang yang kehilangan semangat.
Menaikkan gaji bukan soal memanjakan.Tapi soal menjaga martabat. Bukan soal mencetak pegawai kaya, tapi soal memastikan para PNS bisa hidup layak, tanpa harus mencari tambahan diluar sana.
Pemerintah mungkin belum bisa menaikkan gaji tahun ini. Mungkin juga tahun depan.Tapi paling tidak, ada penjelasan yang bisa diterima dengan lapang dada.
Karena tidak ada yang lebih melelahkan dari bekerja dalam diam. Dibayar dalam diam. Dan dilupakan, juga dalam diam.
Di awal bulan ini PNS akan menerima slip gaji lagi. Angkanya masih akan sama bulan sebelumnya, tersenyum kecil, lalu membayangkan memasukkan slip itu ke dalam laci. Laci yang sama, tempat menyimpan semua harapan kecil yang belum juga berubah, berharap bulan-bulan berikutnya angkanya sudah berubah.(**)
