Sumbu Borneo

“Barracuda vs Affan: Elegi Darah dan Air Mata di Tengah Demokrasi”

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Penulis: Muliadi Saleh

“Seorang pemuda 21 tahun, Affan Kurniawan, pengemudi ojek online dan tulang punggung keluarga, tewas tragis dilindas kendaraan taktis Barracuda milik Brimob di tengah demonstrasi di jantung ibu kota. Demokrasi yang mestinya menjanjikan ruang aman bagi rakyat, justru ternoda oleh darah anak bangsa.”
_________
Malam yang kelam pada 28 Agustus 2025 akan dikenang sebagai titik hitam dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Bukan karena gegap gempita orasi, bukan pula karena gebrakan massa, melainkan karena dentum besi Barracuda yang merenggut nyawa seorang pemuda sederhana: Affan Kurniawan, 21 tahun, pengemudi ojek online, anak bangsa yang bermimpi sederhana, kini tinggal nama.

Affan bukan demonstran yang membawa spanduk. Ia bukan provokator, bukan pula tokoh pergerakan. Ia hanyalah pekerja muda yang menghidupi ibunya dengan motor dan telepon genggam, menggantungkan harapan pada order yang masuk. Namun di malam itu, di tengah upaya aparat membubarkan massa mahasiswa yang melanjutkan demonstrasi buruh, roda besi raksasa melindas tubuhnya. Nyawanya terputus, mimpinya padam, dan namanya meledak jadi duka kolektif di seluruh negeri.

Ironi pun menetes deras: di hari ketika ribuan buruh menuntut keadilan bagi pekerja, justru seorang pekerja kecil menjadi korban. Demokrasi yang mestinya menjamin ruang aman bagi rakyat, justru berubah jadi monster yang melumat rakyat itu sendiri. “Barracuda vs Affan”—itulah simbol getir yang lahir dari tragedi ini: ketika mesin kekuasaan berhadapan dengan tubuh rapuh rakyat kecil, hasilnya adalah kematian, bukan perlindungan.

Pemberitaan tragedi ini menyebar cepat di media sosial. Jerit massa, kepanikan, dan tubuh muda yang terbaring menjadi pemandangan yang menyayat hati. Sejak itu, trauma kolektif merambat, tidak hanya ke keluarga Affan yang hancur dalam duka, tetapi juga ke jutaan pengemudi ojek online lain yang bertanya-tanya: “Apakah besok giliranku? Apakah aku juga akan pulang tinggal nama, bukan membawa pesanan?”

Kapolri memang telah meminta maaf. Negara menjanjikan santunan. Perusahaan aplikasi berjanji mendampingi keluarga. Namun luka ini tidak bisa dijahit dengan kata-kata. Luka ini hanya bisa sembuh bila ada keberanian untuk jujur, transparan, dan melakukan reformasi nyata. Karena tragedi Affan bukan sekadar “kecelakaan”, melainkan cermin telanjang dari betapa nyawa rakyat kecil ‘belum menjadi prioritas’ dalam tata kelola demokrasi kita.

Dari perspektif sosiologis, Affan mewakili wajah buruh informal—jutaan pengemudi ojol yang bekerja tanpa jaminan, tanpa perlindungan, dan seringkali tanpa suara. Mereka tulang punggung ekonomi rakyat, namun rentan jadi korban pertama setiap kali konflik sosial-politik meledak. Affan adalah kita. Kita adalah Affan. Dan selama nyawa rakyat kecil bisa begitu mudah tergilas, demokrasi ini tidak lebih dari panggung sandiwara yang kosong jiwa.

Kita berhutang pada Affan, bukan sekadar karangan bunga, bukan sekadar headline duka. Kita berhutang reformasi. Kita berhutang keberanian untuk menata ulang cara aparat menghadapi rakyat. Kita berhutang perlindungan nyata bagi pekerja informal yang setiap hari berhadapan dengan risiko. Kita berhutang sistem demokrasi yang tidak lagi memakan darah anak bangsa.

Affan Kurniawan sudah pergi. Tapi kisahnya adalah api. Api yang seharusnya mengingatkan kita: demokrasi tanpa kemanusiaan hanyalah tirani dengan wajah baru. Dan selama kita membiarkan tragedi seperti ini berlalu begitu saja, jangan pernah heran jika nama berikutnya akan jatuh lagi, tergilas di jalanan, disapu oleh mesin kekuasaan yang kehilangan hati.

Affan, kau pergi terlalu cepat. Tapi darahmu menulis elegi di tengah demokrasi. Elegi yang akan terus bergema, sampai bangsa ini berani berkata: cukup sudah. Tidak boleh ada Affan lain yang tumbang sia-sia.(**)

Berita-Terkait

1 comment

ARIES 29/08/2025 at 14:10

Yang bersalah harus di hukum seadil adilnya karena nyawa generasi muda hilang dengan berutal…..tdk ada kata maaf segera diproses hukumnya

Reply

Leave a Comment

error: Content is protected !!