Oleh : Muslimin.M
Kemarin pagi saya menikmati sebuah diskusi disalah satu group WA yang cukup fenomenal yaitu group WA OS (WA orang sulbar),dengan tema tentang sejarah dan proses lahirnya provinsi Sulawesi Barat. Ada banyak warga penghuni group ini memberi pandangannya, mulai dari sederet tokoh pejuang, para pemuda yang memang saat itu benar-benar berjuang untuk melahirkan provinsi Sulawesi Barat ini.
Tentu saja saya banyak diam dan menyimak sambil mencatat poin-poin penting sebab saya bukan bagian dari pejuang dan waktu itu memang saya tidak ikut berjuang.Tahun-tahun itu saya sudah di rantau, bahkan awal tahun 2000an saya sudah di salah satu daerah pedalaman kaltim sebagai Abdi negara. Namun demikian, saya tidak ketinggalan informasi sebab saya sering memantau lewat berita di koran lokal maupun lewat televisi nasional tentang proses perjuangan itu sampai berdiri menjadi daerah otonom baru tahun 2004.
Dalam tulisan ini saya tidak menceritakan kronologis peristiwa sejarah nya, saya hanya mengupas sedikit, mengapa provinsi ini harus berdiri dan memisahkan diri dari provinsi induknya sulsel, dan tentu saja saya berdiskusi banyak kepada salah satu tokoh pejuang utama yaitu kanda *Sahrir Hamdani (SH)* untuk mendapatkan informasi yang valid.
Dan judul dalam tulisan ini, saya terinspirasi dari salah satu statement peserta diskusi dengan kalimat seperti ini ” *Sulbar itu lahir dari rasa cinta dan impian, maka cintailah sulbar dan wujudkan lah mimpimu*,
( Makmun Mustafa).
Salah satu kalimat yang terucap dari kanda Sahrir Hamdani “bahwa mengapa kita ber sulbar ? Karena Cinta orang Mandar yang ingin dekat dengan pemerintahannya.
Mimpi orang kampung yang ingin sekolahnya tak lagi jauh.”
Dulu ke Makassar. Bisa sehari bahkan jaman dulu bisa berhari-hari hanya untuk mengurus satu tanda tangan.
Itu yang membuat para pejuang daerah ini bermimpi.
Lebih baik punya provinsi sendiri.
Lebih kecil, tapi lebih dekat.
Maka lahirlah Sulbar.
Masih muda.
Baru remaja.
Tapi saya meihat, cinta itu mulai redup.
Mimpi itu mulai kabur.
Yang dulu diperjuangkan dengan hati, kini sibuk dengan proyek.
Yang dulu demi rakyat, kini demi jabatan.
“Apakah ini provinsi yang dulu dicita-citakan ?
Atau hanya tambahan administratif di peta Indonesia ?”. Lagi-lagi kanda Sahrir Hamdani memberi statement pertanyaan kepada saya dan kita semua.
Hari lahir mestinya menjadi pengingat. Bahwa Sulbar lahir bukan dari ambisi.
Tapi lahir dari cinta. Dan dari mimpi sederhana.
Kalau cinta itu hilang, ulang tahun hanya menjadi pesta.
Kalau mimpi itu padam, Sulbar hanya menjadi nama.
Dan itu bukan alasan kenapa dilahirkan.
*Merasa terpinggirkan*
Saya masih ingat waktu provinsi ini lahir. Ada yang sinis untuk apa dimekarkan ? Bisa apa Sulbar ? Tapi lihatlah, dua puluh satu tahun ini Sulbar sudah menunjukkan taringnya. Setidaknya, kini orang Jakarta sudah paham bahwa Sulbar ada. Mamuju sudah sering muncul
di berita. Kadang karena bencana. Kadang karena pejabatnya. Kadang karena kopi dan kakao yang harum namanya.
Meskipun Sulbar lahir dari perasaan *terpinggirkan, bahkan rasa ketidakadilan*. Dulu, orang Majene, Polman, Mamuju merasa jauh sekali dari Makassar. Administrasi ribet. Lalu meminta dimekarkan. Jadilah provinsi ini.
Dua puluh satu tahun lewat. Pertanyaan itu muncul lagi, apakah Sulbar sudah lebih dekat ?
Atau jangan-jangan malah masih jauh ?
Sulbar ini ibarat rumah yang belum selesai dibangun. Tiangnya sudah ada. Atapnya setengah. Lantainya belum rapi. Penghuninya sudah banyak. Mereka harus sabar tinggal di rumah yang setengah jadi.
Siapa tukang bangunnya ? Kita ingin Pemimpinnya jangan sibuk dengan hal lain. Hal politik, urusan kecil yang dibuat besar. Sementara mimpi besar dibiarkan tergantung di udara.
Dalam konteks diatas, seorang Sahrir Hamdani memberi penjelasan lebih lanjut kepada saya, mengapa kita ber sulbar ?, setidaknya ada dua alasan utama :
*Pertama* kita orang sulbar cukup tertinggal dari aspek pendidikan, aspek ekonomi, aspek kesejahteraan, termasuk aspek ketidakadilan.
*Kedua* bahwa kita orang sulbar sulit berkembang dan cenderung kurang dilirik oleh orang pusat untuk menjadi orang penting di jakarta sebagai efek dari ketertinggalan itu.
Lalu, apakah sulbar sudah berkembang dan maju ?, apakah Cita-cita dan keinginan dari para pejuang itu sudah dilaksanakan oleh para pemimpin di sulbar setelah provinsi ini berdiri sendiri ?,
pertanyaan – pertanyaan itu kembali dilontarkan oleh seorang Sahrir Hamdani kepada kita semua. Dan itu sah-sah saja atas respon kegelisahan hatinya atas perjuangan yang telah dilakukan bersama kawan-kawan nya belum sesuai apa yang dicita-citakan.
Tapi saya percaya bahwa Sulbar punya energi. Lihat anak-anak mudanya. Lihat nelayan di Majene. Lihat petani kakao di Mamasa. Mereka bekerja, tanpa banyak bicara.
Bahwa Sulbar harus belajar dari pengalaman itu bekerja dulu, bicara belakangan.Jangan dibalik.
Sulawesi Barat lahir bukan karena ambisi berlebihan. Provinsi ini lahir karena cinta dan mimpi besar. Cinta dari anak-anak muda Mandar yang dulu harus menempuh perjalanan berhari-hari ke Makassar hanya untuk mengurus dokumen. Cinta dari para tetua kampung yang merasa daerahnya terlalu jauh dari pusat keputusan. Dan cinta dari mereka yang percaya lebih baik mengurus rumah kecil sendiri, daripada menjadi tamu di rumah besar orang lain.
Lalu mimpi itu datang. Mimpi tentang provinsi baru. Tentang pemerintahan yang lebih dekat.Tentang layanan yang lebih cepat.Tentang pembangunan yang lebih merata dan adil.
Dari cinta itu lahir tekad. Dari mimpi itu lahir Sulbar.
Hari ini, Sulbar merayakan ulang tahunnya.
Tetapi, apakah cinta itu masih sama ?
Apakah mimpi itu masih hidup ?
Saya sering melihat perayaan hari lahir provinsi hanya ramai di panggung. Pidato panjang. Lagu daerah. Tari-tarian. Sementara rakyat bertanya-tanya apakah mimpi dulu itu sudah tercapai ?
Jujur saja belum sepenuhnya.
Jalan masih banyak yang berlubang. Sekolah masih banyak yang rusak. Nelayan masih sering kesulitan menjual ikan. Petani masih bergantung pada harga pasar yang tidak menentu.
Tapi jangan lupa bahwa provinsi ini masih muda. Usianya baru belasan. Masih remaja. Masih mencari jati diri.
Yang saya khawatirkan bukan soal sulitnya jalan atau rusaknya sekolah. Itu masih bisa dibenahi. Yang saya khawatirkan adalah kalau cinta itu hilang. Kalau mimpi itu padam.
Karena Sulbar lahir bukan dari politik semata, tapi lahir dari cinta orang kecil. Dari mimpi sederhana rakyat pesisir, rakyat di gunung, rakyat di kampung.
Hari lahir Sulbar seharusnya bukan sekadar pesta.Tapi cermin. Apakah kita masih setia pada cinta
Jika jawabannya *ya*, maka Sulbar punya masa depan. Jika jawabannya *tidak*, maka Sulbar hanya akan menjadi catatan administratif di peta Indonesia.(*)
