Sumbu Borneo

GURU BELUM MERDEKA

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Saya pernah punya guru yang luar biasa, tidak sekadar mengajar, tapi hadir sepenuh hati.Tidak hanya mengisi papan tulis, tapi juga menyalakan api dalam diri kami membuat kami berpikir, merenungi, dan menggali.Tapi saya juga ingat betul, betapa seringnya kelelahan. Bukan karena mengajar, melainkan karena sistem yang terus membebaninya dengan tugas-tugas yang tidak ada hubungannya dengan mendidik.

Hari ini, jargon “merdeka belajar” menggema di mana-mana. Murid boleh memilih, murid boleh mencari, murid didorong menjadi pusat pembelajaran.Tapi bagaimana mungkin murid bisa merdeka jika gurunya terpenjara ? Terpenjara oleh kurikulum yang sempit, administrasi yang menumpuk, dan birokrasi pendidikan yang gemuk tapi tumpul.

Saya mengenal banyak guru yang diam-diam frustrasi, ingin mengajar dengan cara yang lebih relevan, lebih kreatif, lebih manusiawi. Tapi niat itu kandas ketika harus menyusun rencana pembelajaran yang jumlahnya berlembar-lembar halaman untuk pelajaran 40 menit. Atau ketika capaian belajar murid diukur dengan angka-angka yang bahkan tidak diyakini maknanya. Guru-guru ini tahu apa yang dibutuhkan murid, tapi tidak punya ruang untuk menerapkannya.

Kita sering bicara soal kualitas pendidikan.Tapi siapa yang kita harapkan jadi ujung tombak kalau bukan guru ? Dan bagaimana para guru ini bisa menjadi ujung tombak kalau diperlakukan seperti karyawan rendahan, bukan profesional yang dipercaya.

Memerdekakan guru bukan soal retorika. Ini soal berani mengubah cara kita memperlakukannya. Potong beban administratif yang tidak relevan. Hentikan kebijakan pendidikan yang berubah setiap ganti menteri. Biarkan guru menjadi guru bukan buruh sistem.

Negara ini terlalu sering menjadikan guru sebagai simbol pahlawan tanpa tanda jasa, sosok suci yang rela berkorban.Tapi justru karena itu, kita lupa bahwa guru adalah manusia, butuh ruang, butuh suara, butuh perlindungan, dan butuh penghasilan yang layak.

Jika kita ingin murid berpikir merdeka, maka merdekakan dulu gurunya. Karena selama guru masih dijajah sistem, pendidikan kita hanya akan melahirkan murid yang pandai menghafal, tapi tak tahu bagaimana berpikir.

Memerdekakan guru bukan soal seminar atau modul pelatihan. Tapi ini soal memutus rantai birokrasi yang menjadikan guru sebagai buruh data, bukan fasilitator belajar.Guru tidak dibayar untuk mengetik laporan sepanjang malam, guru dibayar untuk menemani proses berpikir, menyulut rasa ingin tahu, menumbuhkan empati yang tak pernah bisa diukur lewat angka rapor.

Dan yang lebih menyedihkan guru kadang dijadikan alat politik. Setiap pergantian menteri membawa kurikulum baru, jargon baru, pelatihan baru namun beban lama tak pernah dikurangi. Sementara kesejahteraan guru honorer masih menjadi ironi yang terus diulang tanpa solusi.
Di balik senyumnya saat upacara Hari Guru, ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan sebagai beban yang cukup berat.

Guru tak butuh dipuja, tapi butuh dipercayai. Diberi ruang untuk mengajar sesuai konteks, diberi akses terhadap pelatihan yang benar-benar relevan, dan dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan. Jika tidak, maka jargon kemerdekaan hanya akan jadi topeng atas penjajahan baru oleh sistem, oleh angka, oleh birokrasi.

Memerdekakan guru bukan proyek pendidikan, tapi adalah keberpihakan politik. Jika negara sungguh ingin membebaskan generasi masa depan, maka bebaskan dulu para guru ini yang setiap hari berdiri di depan kelas.Tanpa guru yang merdeka, pendidikan hanyalah slogan yang tak bermakna.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!