IKN.SUMBU BORNEO.ID– Ribuan jemaah padati Masjid Negara IKN untuk melaksanakan Sholat IdulFitri perdana, Sabtu, 21 Maret 2026.
Ditengah para jamaah, Dekan FUAD UINSI Samarinda Prof.Abzar bertindak sebagai Khotib. Dengan suara lantang Prof Abzar menyampaikan bahwa setelah sebulan kita berpuasa melawan hawa nafsu, kini telah tiba hari kemenangan bagi ummat muslim yaitu melaksanakan hari Raya IdulFitri dengan penuh khidmat di Masjid Negara IKN.
Dalam Khotbah perdanya, Prof. Abzar mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, bangsa kita sedang menorehkan sebuah sejarah besar, yakni; pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Secara lahiriah, ini adalah
perpindahan, pusat pemerintahan.
Namun, secara batiniyah, dan semangat ke Indonesiaan, peristiwa ini, sesungguhnya, merupakan sebuah ikhtiar, pemimpin bangsa kita tercinta, dalam rangka menunaikan cita cita konstitusional yang luhur yakni: “pemerataan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Prof Abzarpun mencontohkan Ketika Nabi Muhammad saw. Hijrah ke Yastrib, beliau mengubah nama Yasrib
menjadi “MADINAH al Munawwarah”, Madinah artinya Kota, Kota yang bercahaya, mengapa demikian, karena Nabi memiliki visi membangun sebuah kota yang berperadaban, yakni; sebuah kota, yang di dalamnya, mewujud sebuah kehidupan warga bangsa, yang penuh keteraturan, kepatuhan pada hukum hukum yang berlaku.
“Madinah” bukan hanya maju secara material, tetapi sebuah Kota yang di dalamnya menjunjung tinggi nilai nalai moralitas yang luhur.

Saat berbicara tentang IKN, ujar Prof Abzar kita sedang berbicara tentang tiga pilar peradaban kemanusiaan, sebagai syarat bagi wilayah pemukiman baru, menjadi sebuah “Kota/Madinah” yang sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an: yakni:
Pertama: Menjaga keharmonisan dengan alam; IKN dirancang sebagai Forest
City atau Kota Hutan. Hal ini membuktikan bahwa, modernitas sangat bisa
berdampingan dengan kelestarian alam. Konsep ini sekaligus, menjadi catatan, bagi peradaban masa lalu, yang seringkali mengorbankan, paru-paru bumi, demi
pertumbuhan ekonomi.
IKN, harus menjadi teladan, sebuah peradaban baru, yang menghargai setiap pohon, dan setiap tetes air, sebagaimana Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56).
Kedua; Kehadiran IKN, adalah Memindahkan pusat gravitasi bangsa ke tengah
Nusantara/Indonesia sentris, dan ini, merupakan salah satu bentuk nyata dari
pemerataan dan keadilan. ini adalah bentuk nyata dari pemerataan. Hal ini adalah
peradaban yang tidak meninggalkan siapapun di belakang. Akan tetapi, dengan
konsep ini, IKN hadir dan mengajak semua komponen bangsa, untuk melihat jauh
ke depan, menyongsong masa depan Indonesia yang lebih bermartabat, di mata
dunia International, IKN menjanjikan sebuah harapan baru, bagi terwujudnya
persatuan bangsa yang lebih kokoh.

Ketiga, IKN hadir dengan mengusung konsep Smart City, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai komponen utama dalam desain Kota. Namun demikian, sebagai umat Islam, kita tahu bahwa teknologi tinggi, tanpa akhlak mulia, hanya akan menjadi mesin penghancur. Maka,
Pembangunan peradaban di IKN, menuntut Manusia yang memiliki etos kerja tinggi,
manusia yang berintegritas tinggi, jujur dan anti-korupsi, serta warga bangsa yang
menghargai keberagaman (Ukhuwah).
Mendukung Pembangunan IKN, bukan sekadar mendukung pemerintah, melainkan mendukung ide besar tentang Indonesia yang lebih adil, lebih hijau, serta lebih bermartabat di mata dunia.
“Mari kita iringi pembangunan fisik ini, dengan pembangunan mental-spiritual, agar IKN benar-benar menjadi Baldatun Tayyibatun Wa Rabbun Ghafur—negeri yang baik dan penuh ampunan Tuhan,” ujarnya.
Turut hadir Kepala Otorita IKN bersama jajarannya, Basuki Hadimuljono.(*)
