Sumbu Borneo

PARADOKS PENDIDIKAN

Ilustrasi
Berita-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh: Muslimin.M

Dulu saya percaya bahwa pendidikan adalah segalanya. Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang meyakini bahwa sekolah adalah jalan keluar dari kemiskinan, dari ketertinggalan, dari keterbatasan.”Sekolah yang tinggi, biar jadi orang,” kata ibu saya waktu itu berkali-kali. Dan saya pun mempercayainya.

Saya menuruti sistem pada waktu itu, menjadi siswa yang rajin, lulus dengan nilai yang membanggakan, masuk perguruan tinggi negeri, mengejar impian untuk menjadi sarjana. Saya pernah begitu yakin bahwa semakin tinggi pendidikan saya, semakin dekat saya pada kebenaran, pada kebijaksanaan, pada kemanusiaan. Tapi keyakinan itu mulai meragukan saat saya benar-benar melihat dunia dari balik dinding ruang kelas.

Saya melihat dosen yang mengajarkan teori keadilan dan kesetaraan, tetapi memperlakukan mahasiswanya sebagai objek kekuasaan. Saya melihat mahasiswa yang pandai bicara soal “hak rakyat”, tapi membungkam suara teman sekelas yang berbeda pendapat. Saya menyaksikan kampus-kampus dipenuhi baliho prestasi, tapi minim ruang berdialog. Kita lebih sibuk menghafal rumus dan jargon, tapi malas berpikir tentang mengapa dunia ini begitu timpang.

Saya sadar bahwa pendidikan telah menjadi arena kompetisi, bukan ruang pembebasan. Kita berlomba-lomba mengumpulkan gelar, sertifikat, dan validasi sosial, tapi jarang sekali bertanya untuk siapa semua ini ? apakah benar kita sedang belajar menjadi manusia, atau hanya sedang mempersiapkan diri menjadi alat dari sistem yang tidak kita pahami ?

Saya tidak ingin sepenuhnya sinis. Saya tahu ada guru-guru yang tulus. Saya kenal teman-teman yang masih percaya bahwa belajar adalah proses memanusiakan diri.Tapi mereka bekerja dalam sistem yang nyaris tak memberi ruang untuk bernapas.

Paradoks pendidikan bukan sekadar soal sekolah yang gagal mendidik.Tapi tentang sistem yang memproduksi manusia cerdas yang kehilangan arah.Tentang institusi yang sibuk bicara masa depan, tapi tak pernah jujur melihat dirinya sendiri.Tentang kita yang terlalu lama diam, dan terlalu cepat puas hanya karena punya gelar.

Kini saya faham bahwa menjadi berpendidikan tidak sama dengan menjadi terdidik. Dan sekolah, seberapa tingginya pun, tidak menjamin kita menjadi manusia yang adil, jujur, dan peduli. Semua itu hanya bisa lahir jika pendidikan berani mengajarkan keberanian, kejujuran, dan empati, bukan sekadar kecakapan teknis.

Saya tidak ingin berhenti belajar.Tapi saya ingin belajar dengan cara yang memerdekakan, bukan menundukkan. Karena saya percaya, satu-satunya pendidikan yang layak diperjuangkan adalah pendidikan yang benar-benar mendidik manusia bukan hanya mencetak lulusan.

Kita hidup di tengah mitos bahwa pendidikan otomatis melahirkan manusia baik. Bahwa semakin tinggi seseorang bersekolah, semakin tinggi pula moralnya. Narasi ini sudah lama ditanamkan dalam benak masyarakat. Kita percaya bahwa ijazah adalah jaminan integritas. Tapi fakta berbicara lain. Sekolah ternyata bisa mencerdaskan pikiran tanpa menyentuh hati. Pendidikan bisa memperhalus tutur kata, namun membungkam nurani.

Dalam sistem pendidikan kita, ukuran keberhasilan masih berkutat pada angka, nilai ujian, akreditasi, ranking, gelar. Kurikulum dijejali teori, siswa dilatih menghafal, mahasiswa diburu target lulus cepat. Guru dan dosen dihantui administrasi yang kian birokratis.Tak ada waktu untuk bertanya, apalagi merenung.Tak ada ruang untuk belajar menjadi manusia.

Akibatnya, lahirlah generasi yang serba tanggap terhadap soal pilihan ganda, tapi gagap saat berhadapan dengan persoalan moral. Kita mencetak profesional yang cekatan membuat laporan keuangan, tapi tak ragu memolesnya dengan angka fiktif. Kita membanggakan alumni yang sukses jadi pejabat, tapi menutup mata saat menyalahgunakan kekuasaannya.

Pendidikan kita kehilangan ruh, menjadi pabrik sertifikat, bukan proses pembentukan karakter. Bahkan institusi pendidikan kini terjebak dalam logika pasar, berkompetisi menjual “kelas eksekutif”, program kilat, dan gelar instan. Di kampus, mahasiswa dianggap pelanggan, bukan warga intelektual. Di sekolah, guru dipaksa jadi tukang input nilai, bukan pendidik sejati.

Dan Yang lebih menyedihkan akses terhadap pendidikan bermutu masih sangat timpang. Di kota besar, anak-anak bisa menikmati fasilitas digital sejak dini. Di pelosok, masih banyak siswa yang harus berjalan berkilo-kilo meter
ke sekolah reyot, diajar guru honorer yang nyaris tak digaji. Maka, tak hanya mencetak manusia tak utuh, sistem ini juga memperkuat ketimpangan struktural.

Paradoks ini tidak lahir dari kelalaian semata. Tapi lahir dari hasil dari desain sistem yang menukar makna belajar menjadi produksi massal gelar. Kita tidak sedang membangun manusia. Tapi, kita sedang membangun mesin.

Waktunya kita evaluasi kegilaan ini. Pendidikan harus kembali menjadi ruang pembebasan, membebaskan dari kebodohan, sekaligus dari ketakutan dan kekuasaan. Sekolah dan kampus harus menjadi tempat dimana manusia belajar memahami dirinya dan dunianya, bukan sekadar mengincar nilai dan jabatan.

Karena sesungguhnya, tujuan akhir pendidikan bukan agar seseorang menjadi pejabat, penguasa, melainkan agar tak mencederai sesama, tak membohongi saat menjadi pejabat, saat menjadi penguasa.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!