Sumbu Borneo

Ihlas di Zaman Pamer: Masihkah Kita Tulus?

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Zaman ini adalah zaman panggung. Hampir setiap orang menjadi aktor dalam teater digital yang tiada henti. Makanan yang baru disantap, tempat wisata yang dikunjungi, hadiah yang diterima, bahkan ibadah yang seharusnya sunyi pun sering berubah menjadi konten. Dunia media sosial menuntut kita selalu tampil, menakar nilai diri dengan jumlah jempol dan komentar.

Di tengah hiruk pikuk panggung ini, satu kata sederhana terasa makin langka sekaligus makin mahal: ihlas.

Kitab suci menegaskan dengan jelas: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…” (QS. Al-Bayyinah: 5). Seruan ini jernih dan tegas: ibadah sejati lahir dari hati yang murni, bukan dari keinginan dipuji atau dilihat. Tetapi kejujuran spiritual itu kini sering terhimpit oleh riuh tepuk tangan dunia.

Amal yang Ternodai Panggung

Kita bisa menguji diri dengan pertanyaan sederhana. Pernahkah kita merasa ingin orang lain tahu saat bersedekah? Pernahkah kita sengaja menuliskan panjang lebar doa di media sosial agar tampak religius? Pernahkah kita kecewa karena amal baik tidak dihargai? Jika jawabannya ya, itulah tanda betapa rapuhnya ihlas.

Ihlas bukan sekadar menolak riya. Ia lebih dalam: menyelaraskan niat, merendahkan ego, dan melepaskan diri dari pamrih selain ridha Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Niat yang murni adalah kompas spiritual. Tanpanya, amal menjadi kosong, bagai tubuh tanpa jiwa.

Bayangkan seorang petani. Jika ia bekerja hanya demi keuntungan, ia akan kecewa saat panen gagal. Tetapi jika niatnya menjaga amanah bumi dan memberi manfaat bagi sesama, setiap tetes keringatnya bernilai ibadah. Begitu pula seorang guru yang mengajar dengan ihlas: kata-katanya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjelma cahaya yang menerangi generasi.

Jejak Para Sufi

Para sufi memahami betul betapa sulitnya menjaga ihlas. Karena itu, mereka menjadikannya inti perjalanan spiritual.

Rabi’ah al-Adawiyah, misalnya, berkata dengan puitis: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, dan tidak pula karena berharap surga-Mu. Aku menyembah-Mu semata karena cinta kepada-Mu.” Dari ucapan ini kita belajar: ihlas adalah cinta yang murni, bukan sekadar transaksi pahala dan hukuman.

Al-Ghazali menulis dalam Ihya Ulumuddin: “Ihlas adalah ketika engkau tidak melihat amalmu sendiri.” Maksudnya, amal yang tulus adalah amal yang tidak lagi dihitung, tidak lagi diingat, bahkan tidak lagi dibanggakan. Amal yang mengalir seperti mata air: memberi tanpa bertanya, mengalir tanpa pamrih.

Sahl at-Tustari menegaskan: “Ihlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya; malaikat tidak mengetahuinya hingga tak dapat menuliskannya, setan tak mengetahuinya hingga tak dapat merusaknya, hawa nafsu pun tak mengetahuinya hingga tak dapat memalingkannya.” Ihlas, dengan kata lain, adalah harta tersembunyi di kedalaman jiwa.

Kisah-Kisah Ihlas

Sejarah sufisme penuh kisah ihlas yang menginspirasi.

Ibrahim bin Adham, seorang raja yang meninggalkan istana untuk hidup zuhud, pernah bekerja sebagai kuli angkut di pasar. Ketika ditanya mengapa seorang bekas raja mau memikul barang orang lain, ia menjawab dengan senyum: “Dulu aku melayani diriku sendiri, kini aku ingin melayani Allah lewat sesama manusia.”

Ada pula seorang sufi di Baghdad yang suka membagi roti kepada fakir miskin pada malam hari. Ketika ditanya mengapa tidak di siang hari agar bisa jadi teladan, ia menjawab: “Aku takut roti ini berubah menjadi batu yang menghantam hatiku dengan riya.”

Rabi’ah bahkan pernah berjalan sambil membawa obor dan air. Orang bertanya: “Untuk apa?” Ia menjawab: “Obor ini untuk membakar surga, dan air ini untuk memadamkan neraka, agar manusia hanya menyembah Allah karena cinta, bukan karena takut atau berharap balasan.”

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa ihlas bukan sekadar teori, tetapi laku hidup yang nyata.

Seni Melepaskan

Ihlas, pada akhirnya, adalah seni melepaskan. Melepaskan gengsi, melepaskan ambisi, melepaskan keinginan dihargai. Dengan ihlas, amal menjadi ringan, hidup menjadi lapang, dan jiwa menjadi damai.

Bayangkan seorang ibu yang bangun tengah malam menyiapkan makanan untuk keluarganya. Tidak ada kamera, tidak ada pujian, tidak ada sorotan. Tetapi di balik itu semua, ada cinta yang tulus. Atau seorang relawan yang membantu korban bencana tanpa menulis namanya di spanduk. Justru amal-amal tersembunyi seperti itulah yang paling indah.

Jalan Pulang

Pada akhirnya, ihlas adalah jalan pulang. Jalan yang menghubungkan manusia dengan Pencipta tanpa perantara kepentingan. Jalan yang membebaskan amal dari hitungan dunia. Jalan yang menjadikan setiap hembusan napas, setiap langkah kaki, setiap tetes air mata bernilai ibadah.

Kitab suci menegaskan, hanya hati yang bersih yang layak bertemu dengan Allah. Maka seruan ihlas bukan hanya seruan moral, melainkan juga seruan eksistensial: siapa pun yang ingin selamat, ia harus menjernihkan amal dan menyelamatkan jiwa.

Di zaman pamer ini, pertanyaan paling provokatif sekaligus paling mendasar adalah: masihkah kita bisa tulus?(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!