Oleh : Muslimin.M
Sandeq itu hebat, tipis, ringan dan lincah melawan ombak.
Politikus juga begitu.
Bedanya, sandeq hanya butuh angin. Politikus butuh angin plus tepuk tangan.
Di laut, layar sandeq bisa sobek kalau angin terlalu keras. Di politik, layar politisi bisa robek kalau kritik terlalu deras.
Kalau sandeq patah tiang, akan tenggelam. Kalau politisi patah janji, tetap terapung.
Di Mandar, sandeq silumba bukan sekadar lomba.Tapi budaya dan tradisi kearifan lokal. Perahu yang lahir dari keringat nelayan. Dari kecerdikan lokal. Dari keberanian melawan arus.
Sandeq mengajarkan tentang siapa berani, dia melaju. Politik mengajarkan tentang siapa pandai, dia menang.
Tapi rakyat pasti ingat siapa jujur, dialah yang bertahan.
Saya suka menonton sandeq silumba. Perahu layar tradisional Mandar itu.
Ramping. Ringan.Tapi berani menantang ombak.
Setiap kali meluncur, saya selalu berpikir, betapa sederhana hidup ini sebenarnya. Yang diperlukan hanya angin. Dan keterampilan membaca angin.
Kalau angin berlebih, layar bisa sobek. Kalau angin kurang, perahu terhenti. Semua soal keseimbangan.
Politikus juga begitu. Bedanya, politikus lebih suka meniup angin, bukan membacanya.
Sandeq itu asli lahir dari rakyat. Dari nelayan. Dari budaya yang tidak pernah sekolah tinggi-tinggi tapi paham benar tentang laut.
Politikus lahir dari partai. Dari meja rapat. Dari janji-janji yang ditulis di spanduk.
Di lomba sandeq yang terdepan jelas terlihat. Siapa yang berani, siapa yang cerdik, siapa yang kuat menahan angin. Semua ditentukan di laut.
Di lomba politik yang terdepan sering kabur. Karena ditentukan oleh baliho, iklan televisi dan dana kampanye.
Sandeq silumba adalah lomba keterampilan. Politik adalah lomba popularitas.
Saya pernah duduk di atas sandeq. Rasanya ngeri. Air laut bisa masuk kapan saja. Kalau tidak pandai menjaga keseimbangan, perahu bisa terbalik.
Sayangnya, banyak politisi justru tidak pernah merasa ngeri. Mereka tenang-tenang saja meski kursi sudah miring.
Nelayan Mandar bilang, jangan berlayar kalau tidak bisa membaca angin.
Politikus bilang, tetap berlayar meski arah angin salah, asal ada yang mendorong dari belakang.
Sandeq mengajarkan keberanian. Politik mengajarkan kecerdikan.
Tapi keduanya punya satu kesamaan yaitu sama-sama butuh penonton.
Silumba itu tontonan budaya. Politik itu tontonan lima tahunan.
Bedanya, penonton sandeq pulang dengan kagum. Penonton politik sering pulang dengan kecewa.
Karena itu, saya sering iri pada sandeq. Karena jujur pada dirinya sendiri.
Tidak ada mesin tersembunyi dibawahnya. Tidak ada sponsor yang mengatur arah angin.
Semua murni pada layar, pada laut dan pada keberanian nakhodanya.
Andai saja para politisi bisa belajar dari sandeq. Membaca arah dengan benar. Menjaga keseimbangan dengan hati-hati.Tidak hanya ingin melaju kencang, tapi juga sampai ke tujuan.
Kalau itu bisa terjadi, rakyat tidak lagi menjadi penonton yang kecewa. Rakyat bisa jadi laut yang tenang. Atau bahkan angin yang setia.
Tapi sayangnya, sampai hari ini, lebih banyak politisi yang seperti layar bolong, tetap dikibarkan, meski tidak bisa membawa perahu ke mana-mana.(*)
