Sumbu Borneo

KOMPETENSI MAHASISWA PERGURUAN TINGGI ISLAM DI INDONESIA S1- S3

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Prof.Abdul Majid

Pada Hari Jumat, 07 November 2025 kemarin, saya menyempatkan diri menghadiri Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana UINSI Samarinda. Salah seorang nara sumbernya adalah Prof.

Dr.Phil.Sahiron Syamsuddin, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan saat ini sebagai Direktur Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) Kemenag. Prof. Sahiron Syamsuddin adalah dosen yang mengispirasi saya sehingga memilih UIN Sunan Kalijaga sebagai tempat menempuh Pendidikan S3 (2012-2017). Awalnya, kami bertemu pada forum AICIS (_Annual International Conference on Islam, Science, and Society_) sebuah Program Tahunan bagi para akademisi dan peneliti di bawah naungan Kemenag RI dan diadakan secara bergilir ke daerah-daerah. Moment pertemuan kami itu saat diselenggarakan di UIN Sultan Syarif Kasim Riau pada tahun 2008. Salah satu sub acaranya adalah Workshop Metode Tafsir bagi Dosen Tafsir-Hadis di Perguruan Tinggi Agama. Salah satu nara sumbernya adalah Prof. Sahiron Syamsuddin dengan materi “kontroversial” saat itu yaitu Mempertimbangkan Aplikasi Hermeneutika dalam Tafsir al- Qur’an. Heremenutika saat itu masih sangat baru sehingga menarik minat saya untuk belajar lebih lanjut.

Saat saya menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga, mata kuliah Hermeneutika diampu langsung oleh Prof. Sahiron Syamsuddin, hingga menjadi Promotor kedua bagi saya untuk penulisan Disertasi yang topiknya juga terkait dengan hermeneutika. Untuk itulah saya hadir, sebagai murid tentu sangat senang ketika gurunya datang ke tempatnya dan juga bermaksud mengambil berkah berupa ilmu baru dan semangat baru untjk membaca.

Kuliah Umum di UINSI ini mengangkat tema “Penguatan Kompetensi Akademik dan Spritual Mahasiswa Pascasarjana Menuju SDM Unggul di Era Smart Society 5.0.”
Di hadapan para mahasiswa Pascasarjana yang dihadiri oleh Rektor UINSI, Prof.Dr. Zurqoni, M.Pd dan sejumlah dosen, Pfof. Sahiron Syamsuddin menyampaikan bahwa kompetensi yang dituntut dari para mahasiswa perguruan tinggi Islam berbeda-beda, tergantung tingkatan pendidikan masing-masing. Pada level Strata Satu, melalui hasil penelitiannya, mereka dituntut untuk memiliki kompetensi _Description Analysis_ yakni kemampuan memahami dan menggambarkan fakta yang diteliti. Sehingga yang sering dibaca pada tujuan penelitian mereka adalah “untuk mengetahui… ” karena memang itulah standar kemampuan yang mesti dimiliki oleh mereka. Kompetensi ini penting karena terkadang pada karya tulis mereka tidak sinkron dengan penjelasan mereka. Apa yang mereka tulis berbeda dengan penjelasannya. Kalaupun mereka mampu menganalisa bahkan mengkritisi hal itu adalah tambahan karena kecerdasan mereka.

Pada level Strata Dua atau Program Magister, para mahasiswa dituntut untuk memiliki kemapuan _Explanatory Analysis_ yaitu kemampuan menjelaskan dan menganalisis fakta penelitiannya tentu termasuk kemampuan yang dimiliki pada level starata satu tadi. Mahasiswa pada level ini mampu menjelaskan fakta penelitian dan menganalisa apa di balik fakta tersebut.

Salah satu contoh penelitian yang terkait adalah studi yang dilakukan Abdul Kadir al-Kayyaf terhadap Kata _”al-Fitnah_ dalm al-Qur’an dan Maknanya dalam Tafsir al-Tabari.” Setelah mendeskripsikan penafsiran Imam al-Tabari, al-Kayyaf kemudian menganalisisnya sambil menelusuri kemungkinan adanya korelasi dengan situasi politik yang terjadi di Tabaristan, daerah Imam al-Tabari saat itu. Ini dilakukan karena dalam studi ilmu tafsir terdapat salah satu teori yang menyebutkan bahwa seorang penafsir biasanya terpengaruh oleh horizon, atau konteks sosial politik yang mengitarinya.

Dalam studinya, al-Kayyaf menemukan bahwa di Tabaristan saat itu sedang terjadi konflik antara Kaum Sunni dan Syiah. Dan al-Tabari, menurut al-Kayyaf cenderung mendukung kaum Sunni. Itu contoh studi untuk Starata Dua.

Sedangkan untuk Strata tiga, Program Doktor, kompetensinya adalah pada _Critical Analysis._ Mereka harus mampu mengeritik teori yang sudah ada dan memunculkan teori baru sebagai antitesanya. Prof.Sahiron Syamsuddin memberi contoh dari pengalamannya sendiri. Saat studi di luar negeri, ia diperintahkan oleh dosennya untuk membaca hasil penelitian seorang orientalis ternama, Joseph Schact, yang telah dibukukan, _An Introduction to Islamic Law._ Salah satu pernyataan sang orientalis dalam buku itu adalah _”Imam Abu Hanifah tidak pernah menggunakan hadis dalam penetapan hukum.”_ Pernyataan ini cukup janggal menurut Prof. Sahiron Syamsuddin. Apa benar Imam Abu Hanifah yang berguru ke banyak ulama hadis itu tidak pernah menggunakan hadis dalam penetapan hukumnya?
Prof. Sahiron Syamsuddin kemudian menelusuri berbagai manuskrip dari murid-murid Abu Hanifah mengingat pendiri Mazhab Hanafi ini dikenal sebagai ulama yang bertutur saja, tidak punya karangan kitab yang ditulisnya sendiri, berbeda dengan Imam Syafii yang memeliki _Kitab al-Um_ dan _ar-Risalah._ Imam asy- Syaibani, salah seorang murid terdekatnya, ketika mengemukakan pendapat Imam Abu Hanifah dalam bukunya selalu mengatakan bahwa pendapat Imam Abu Hanifah ini didasarkan pada hadis ini dan itu. Pernyataan asy-Syaibani menunjukkan bahwa Abu Hanifah ketika mengemukakan pendapat hukumnya selalu berdasarkan pada hadis Nabi dan sekaligus meruntuhkan teori yang telah lama dibangun oleh Joseph Schact di atas. Bukan tidak pernah menggunakan hadis, namun Abu Hanifah dikenal ulama rasional dan sangat selektif dalam memilih hadis. Ia hanya menerima hadis’hadis maqbul (diterima). Istilah hadis sahih dan hasan saat belum muncul. Ulama masa sesudahnyalah yang mengenalkan kedua istilah itu. Data-data ini kemudian ditulis oleh Prof. Sahiron Syamsuddin dalam sebuah artikel dan telah terbit pada Jurnal Internasional ternama saat itu (belum ada kualifikasi Jurnal Scopus). Selanjutnya, artikel tersebut kemudian diterjemahkan ke Bahasa Turki (penganut mazhab Hanafi) untuk sebagai salah satu bahan ajar di perguruan tinngi setempat.

Seperti itulah gambaran kompetensi yang diharapkan dari setiap tingkatan pendidikan. Semoga Perguruan Tinggi Islam semakin produktif dalam melahirkan para alumni sesuai kebutuhan zamannya, mampu mendialogkan antara Islam, Indonesia dan perubahan zamannya.(***)

Wallahu A’lam

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!