Sumbu Borneo

SLIP GAJI ITU MENYUSUT

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Seorang guru ASN di sebuah desa terpencil menulis pesan singkat ke saya minggu lalu, “ pak, tunjangan saya berkurang dua ratus ribu bulan ini.” Kalimatnya pendek.Tapi artinya panjang.

Begitulah kira-kira yang akan terjadi jika pemangkasan anggaran itu benar-benar terjadi. Jika dana transfer dikurangi. Jika dana bagi hasil tak sebesar dulu. Maka yang pertama kali disesuaikan, tentu saja tambahan penghasilan pegawai di daerah.

Saya ingat dulu, saat tambahan itu mulai diberlakukan. ASN tersenyum. “Akhirnya ada penghargaan bagi kinerja,” kata ASN waktu itu. Bukan besarannya, tetapi pengakuannya. Kini penghargaan itu perlahan akan hilang, bukan karena ASN menurun kinerjanya,
tapi karena uangnya memang sudah mulai berkurang.

Para bupati tentu pusing, diminta efisien, tapi di sisi lain juga diminta menjaga moral ASN. Bagaimana menjaga semangat orang yang tiap bulan menerima slip gaji lebih tipis dari sebelumnya ?

ASN bukan pedagang yang bisa menaikkan harga dagangannya. Bukan pula pengusaha yang bisa menambah jam kerja untuk menutup defisit. Mereka hanya punya satu sumber yaitu pemerintah. Dan pemerintah sedang mengencangkan ikat pinggang.

Saya bisa memahami sisi pemerintah pusat. APBN juga tidak sedang sehat. Belanja meningkat, penerimaan belum pulih. Banyak program prioritas yang harus tetap jalan.Tetapi saya juga memahami sisi ASN di daerah. Harga cabai tidak turun hanya karena anggaran dipangkas. Biaya hidup tidak ikut disesuaikan dengan transfer dana yang berkurang.

Pemangkasan anggaran memang selalu menyakitkan. Dan yang paling terasa bukan diangka-angka makro ekonomi, melainkan di meja makan keluarga ASN,
di piring nasi, di harga bensin, di biaya les anak,
di uang bensin menuju sekolah.

Dan seperti biasa, para ASN tidak akan protes.Tidak akan turun ke jalan. Tidak akan membuat spanduk. Mereka hanya diam. Mengerjakan tugasnya. Menunggu hari
dimana negara kembali longgar, dan slip gaji kembali utuh.

Negara memang sedang hemat. Bukan karena ingin, tapi karena harus. Defisit anggaran tak bisa dibiarkan melebar. Utang luar negeri harus dijaga agar tetap rasional. Subsidi harus diarahkan tepat sasaran.
Dan semua itu dalam bahasa yang lebih sederhana, ada yang harus *dikurangi*.

Pemangkasan anggaran bukan hanya soal angka. Ini soal rasa. Soal bagaimana pemerintah memperlakukan orang-orang yang selama ini menjaga roda pelayanan tetap berputar, meski pelumasnya makin tipis.

Saya kadang berpikir,
ditengah guncangan ekonomi seperti sekarang,
yang paling luar biasa justru bukan yang kaya, melainkan yang tetap bekerja dengan jujur meski tunjangan berkurang. ASN di kantor kelurahan, guru di sekolah pelosok, perawat di puskesmas yang jauh dari kota. Mereka tidak sedang memperkaya diri, tapi sedang menjaga agar sistem ini tidak runtuh.

Negara boleh mengencangkan sabuk fiskal.Tetapi jangan sampai mengendurkan semangat
didada para ASN. Karena yang menjaga agar rakyat tetap percaya pada pemerintah, bukan hanya kebijakan besar di Jakarta, tapi wajah-wajah sabar
di loket pelayanan.

Saya tidak tahu sampai kapan kebijakan efisiensi ini berlangsung. Mungkin tahun depan, mungkin lebih lama.
Yang saya tahu, tidak ada negara yang kuat tanpa pegawai yang sejahtera,
bukan hanya di dompetnya, tapi juga di hatinya.

Pemangkasan boleh terjadi.
Tapi jangan sampai yang ikut terpangkas adalah rasa bangga menjadi pelayan publik.

*Kepala Daerah serba salah*

Para kepala daerah, gubernur, bupati dan
walikota serba salah.
Kalau tidak memotong tunjangan ASN bisa dianggap melanggar instruksi efisiensi pusat.
Kalau dipotong bisa dianggap tidak berpihak pada pegawai.

Bisa saja ada bupati yang berkata, “Kalau bukan karena kesabaran ASN, mungkin pelayanan akan berhenti.”

Saya percaya itu.
Karena saya melihat sendiri, bagaimana kantor kelurahan harus menghemat listrik.
Bagaimana kegiatan pelatihan dibatalkan.
Bagaimana perjalanan dinas dikurangi setengahnya.

Tapi ASN tetap datang.
Tetap bekerja.Tetap tersenyum di loket pelayanan. Padahal sudah tahu yang tersenyum itu sedang kehilangan sebagian rezekinya sendiri.

Negara memang sedang berhemat. Bukan karena ingin, tapi karena harus.
APBN tidak sedang lapang.
Pendapatan belum kembali normal. Beban subsidi dan bunga utang menekan. Belanja publik harus dijaga agar tidak boros.

Tetapi dibalik semua itu, ada hal yang lebih penting dari angka yaitu rasa.
Rasa keadilan.
Rasa dihargai.
Rasa bahwa kerja keras tidak sia-sia.

Pemangkasan anggaran memang perlu.Tapi harus disertai komunikasi yang jujur. Agar ASN tahu bukan dikorbankan, tetapi sedang diminta ikut menyelamatkan.
Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi pembeda antara kecewa dan rela.

Dalam laporan resmi, pemangkasan itu mungkin terlihat rapi. Efisien. Terkendali.
Tapi dibalik laporan itu, ada cerita yang tidak pernah ditulis, guru yang menunda beli buku anaknya,
perawat yang harus memilih antara bensin atau makan siang, pegawai administrasi yang tetap tersenyum meski pikirannya sibuk menghitung sisa saldo.

Tidak ada grafik yang bisa menggambarkan hal itu.
Tidak ada indikator kinerja yang bisa mengukur kesabaran.

Bangsa ini tidak hanya berdiri diatas APBN.
Bangsa ini berdiri diatas semangat orang-orang yang bekerja diam-diam untuk menjaga pelayanan tetap hidup.

Guru, perawat, petugas administrasi, staf kelurahan, mereka tidak membuat headline berita.Tetapi tanpanya pelayanan bisa berhenti.

Maka ketika anggaran harus dipangkas, semangat para ASN itu jangan ikut terpangkas. Karena semangat itu lebih mahal dari apa pun. Dan kalau semangat itu hilang, tak ada lagi yang bisa dibeli dengan uang negara.

Karena yang membuat negeri ini berjalan bukan hanya uang negara, melainkan kesabaran orang-orang yang tetap bekerja, meski slip gajinya makin tipis dan hatinya tetap penuh tanggung jawab sebagai Abdi Negara.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!