Oleh : Muslimin.M
Siang itu saya lagi membaca berita tentang Nepal disalah satu media sosial.
Gejolak lagi.
Demonstrasi lagi.
Harga barang naik lagi.
Saya jadi ingat warung kopi.
Bukan di Kathmandu.
Tapi di kampung saya sendiri.
Di warung itu, obrolannya selalu sama tentang harga beras, harga cabai, dan politik.
Mirip Nepal.
Bedanya kita masih bisa ketawa.
Di Nepal, mereka sudah habis sabar.
Nepal itu kecil.
Pegunungan indah.
Turis suka.
Tapi ekonominya rapuh.
Begitu politik ribut, rakyatnya langsung kena imbas.
Indonesia lebih besar.
Lebih kaya.
Tapi juga rawan.
Nepal sering menjadi cermin. Demokrasi tidak otomatis membuat negara kuat. Pemilu lima tahun sekali tidak menjamin rakyat senang. Partai banyak tidak selalu berarti pilihan lebih baik.
Di Nepal, elite politik rebutan kursi. Di negara kita ?
Sama saja.
Bedanya, kita punya sawit.
Punya batu bara.
Punya tambang.
Mereka tidak.
Saya melihat politik kita akhir-akhir ini. Koalisi, bongkar pasang, rebutan jatah menteri.
Mirip.
Sangat mirip Nepal.
Bedanya, kita masih sibuk bikin spanduk. Mereka sudah bakar ban di jalan.
Nepal mengajarkan satu hal, demokrasi itu tidak cukup.
Kalau tidak ada kedewasaan, hasilnya cuma gaduh.
Warung kopi di kampung saya mungkin lebih jujur.
Obrolan disana lebih membumi.
Lebih dekat dengan kenyataan rakyat.
Elit kita sebaiknya sesekali nongkrong di warung kopi.
Biar tahu, Nepal sebenarnya sudah duduk di meja sebelah.
Nepal itu negara kecil. Penduduknya mungkin tidak sampai 30 juta. Letaknya diapit dua raksasa, India dan Tiongkok. Negeri tanpa laut. Tanpa minyak.Tanpa tambang besar.
Tapi keributan politiknya ?
Seakan negeri itu sebesar benua.
Pemerintahnya berganti cepat. Demonstrasi meletus nyaris setiap tahun. Jalan raya sering ditutup massa. Transportasi bisa lumpuh hanya karena satu kelompok tidak puas dengan keputusan parlemen.
Apa yang membuat Nepal seperti itu ?
Perbedaan yang tidak terkelola. Sejarah panjang kasta, etnis, agama, hingga garis keturunan raja membuat sulit menemukan titik temu. Demokrasi di Nepal masih muda. Baru belasan tahun.Tapi sejak awal sudah terjebak dalam tarik-menarik kepentingan.
Indonesia tidak sama dengan Nepal.Tapi kita bisa bercermin.
Kita lebih besar. Lebih kaya. Lebih beragam.Tapi apa bedanya kalau energi kita habis untuk ribut hal-hal yang sama ?
Politik identitas. Saling menuding soal siapa paling nasionalis, siapa paling Pancasilais.
Nepal memberi pelajaran mahal, betapa rapuhnya negara jika perbedaan tidak dikelola. Betapa sulitnya membangun jika energi hanya tersedot untuk mempertahankan kekuasaan.
Kita punya modal besar yaitu sumber daya alam, posisi strategis, jumlah penduduk yang produktif. Tapi modal sebesar itu tidak berarti apa-apa kalau perdebatan tak berujung dan justru dapat menggerogoti fondasi bangsa.
Dari Nepal, kita belajar.
Bahwa stabilitas itu bukan hadiah, harus dijaga. Bukan dengan membungkam perbedaan, melainkan mengelolanya. Bukan dengan saling mengalahkan, melainkan mencari ruang bersama.
Kalau tidak, kita hanya akan menjadi besar di peta. Tapi kecil dalam kenyataan.(*)
