Oleh : Muslimin.M
Mas Menteri itu dulu dielu-elukan, bukan hanya orang tua.Tapi juga
anak muda.
Pintar.
Lulusan luar negeri.
Simbol harapan baru pendidikan Indonesia.
Dia tampil sebagai wajah segar di kabinet.
Berbicara tentang reformasi pendidikan dengan penuh percaya diri.
Tentang digitalisasi sekolah.
Tentang guru yang lebih sejahtera.
Tentang akses pendidikan yang lebih merata.
Dan kita percaya.
Karena siapa yang tidak percaya pada seorang teknokrat pendidikan ?
Siapa yang tidak percaya pada seseorang yang terbiasa berbicara tentang integritas di ruang-ruang publik ?
Namun berita itu datang juga. Berita yang membuat banyak kalangan kaget, seolah tidak percaya.
Dia ditetapkan sebagai tersangka.
Bukan kasus kecil.
Bukan sekadar salah administrasi.
Melainkan dugaan korupsi yang konon kabarnya menyentuh angka jumbo dari program yang katanya demi masa depan anak-anak bangsa.
Di sinilah ironi itu terasa telak dan membuat kita geleng-geleng kepala.
Seorang menteri yang harusnya menjadi teladan.
Seorang panutan dan model yang mestinya mengajarkan moral, malah terjerat kasus yang paling sering menggerogoti negeri ini dugaan korupsi.
Publik kaget.
Tapi hanya sebentar.
Karena kita sudah terlalu sering dibuat kecewa.
Sudah terlalu sering melihat pejabat dengan sederet gelar dan jabatan tinggi, tapi akhirnya akan roboh di depan meja hijau.
Mungkin yang membedakan kali ini hanyalah posisinya.
Menteri yang mengurusi Pendidikan.
Bidang yang selama ini dipercaya rakyat bisa menjadi jalan keluar dari lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan. Tapi justru kadang menjadi ladang dugaan korupsi.
Apakah ini kasus pertama ? Tentu tidak.
Apakah ini yang terakhir ? Tampaknya juga tidak.
Karena sistem kita seakan tidak pernah benar-benar belajar.
Setiap kali ada pejabat yang ditangkap, muncul pejabat baru yang melanjutkan pola lama.
Pendidikan pun kembali dipertanyakan.
Apa arti sekolah tinggi, kalau kejujuran bisa dijual murah ?
Apa arti gelar akademik panjang, kalau yang dipraktikkan hanyalah cara paling canggih menyembunyikan dugaan korupsi ?
Apa arti visi pendidikan nasional, kalau sang pemimpinnya sendiri gagal mendidik dirinya ?
Kini Mas Menteri akan menjalani proses hukum.
Jaksa, pengacara, hakim semua akan berbicara dengan bahasa hukum.
Tapi rakyat punya bahasa sendiri yaitu *kecewa*.
Dan kekecewaan itu tidak sederhana.
Karena menyangkut masa depan bangsa.
Setiap rupiah yang diduga dikorupsi dari sektor pendidikan adalah perampasan kesempatan anak-anak untuk belajar lebih baik.
Adalah pengkhianatan terhadap janji bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbelakangan.
Sejarah mungkin akan mencatat nama Mas Menteri.
Tapi sayangnya, bukan karena kebijakan besarnya.
Melainkan karena kasus hukumnya.
Dan itu tragedi.
Tragedi bagi dirinya.
Tragedi bagi pemerintah.
Tragedi bagi bangsa yang terlalu sering kehilangan harapan.
Kita pun hanya bisa berharap, kasus ini tidak berhenti di satu nama.
Bahwa pendidikan betul-betul dibersihkan dari permainan proyek.
Bahwa anak-anak negeri ini kelak tidak lagi harus belajar dari berita dugaan korupsi seorang menterinya.
Karena bangsa yang tidak bisa mendidik pemimpinnya sendiri akan sulit mendidik generasi penerusnya.(**)
