Oleh : Muslimin.M
Anak saya pernah pulang membawa rapor dengan nilai diatas rata-rata teman-temannya. Saya tidak langsung bangga. Saya justru khawatir.
Sebab saya tahu, nilai di sekolah kita sering lebih lembut dari kenyataan.
Guru ingin anaknya senang. Kepala sekolah ingin terlihat berhasil. Orang tua ingin bangga. Lalu, siapa yang menjaga mutu ?
Di luar sana, dunia tidak memberi nilai 90 hanya karena kita rajin. Dunia memberi nilai karena kita bisa. Karena kita paham. Karena kita siap bersaing.
Banyak sekolah sekarang lebih sibuk mengajar agar lulus ujian daripada mengajarkan cara berpikir.
Anak-anak hafal rumus, tapi bingung menerapkannya. Pandai menjawab soal, tapi kaku saat ditanya, kenapa.
Saya sering bertemu guru-guru yang jujur. Katanya, “Kami pun lelah, Pak. Targetnya terlalu administratif.”
Guru pun menjadi korban sistem yang menilai angka, bukan makna.
Pendidikan seharusnya membentuk karakter, bukan hanya catatan nilai. Sebab ketika kertas rapor dilipat dan disimpan, maka yang tersisa adalah watak dan cara berpikir. Dan itu yang menentukan mutu bangsa.
Kualitas pendidikan itu seperti cahaya.Terlihat jelas, namun sumbernya kadang tersembunyi. Banyak orang menilai kualitas hanya dari sisi angka saja seperti nilai ujian, akreditasi dan peringkat nasional. Padahal, angka hanyalah kulit luar. Isi di dalamnya jauh lebih rumit dan jauh lebih penting.
Saya selalu percaya bahwa kualitas pendidikan dimulai dari guru. Bukan dari kurikulum. Bukan dari gedung.
Guru yang baik bisa mengubah papan tulis tua menjadi jendela dunia. Dan guru yang kehilangan semangat, tak akan bisa menghidupkan pelajaran meski ruang kelasnya ber-AC.
Kualitas guru bukan hanya soal sertifikat. Ini soal panggilan hati. Tentang sabar mengajar anak yang lambat paham, tentang tetap datang meski gajinya telat, tentang terus belajar diusia yang sudah lelah.
Fasilitas memang penting. Tetapi bukan segalanya. Sekolah yang kaya alat, namun miskin semangat sering kalah oleh sekolah yang miskin alat tapi kaya akal.
Saya sering melihat laboratorium mahal, tapi jarang dipakai. Papan tulis lusuh yang penuh coretan ide brilian. Kualitas bukan
dibenda, melainkan dicara kita memanfaatkannya.
Kurikulum selalu berubah setiap menteri ganti, setiap masa. Namun yang tak boleh berubah adalah semangat untuk membuat anak berpikir. Sayangnya, kurikulum kita sering seperti resep kaku, semua harus sama, tak boleh meleset. Padahal setiap anak unik. Yang satu belajar lewat gambar, yang lain lewat cerita, yang lain lagi lewat kesalahan.
Dan yang paling sering dilupakan adalah karakter. Sekolah boleh melahirkan juara olimpiade, tapi kalau tak jujur, tak peduli, tak punya empati untuk apa ?
Kita tak butuh hanya anak pintar. Kita butuh anak baik, anak tangguh, anak yang mau melayani.
Kualitas pendidikan sejati tidak lahir dari sistem yang sempurna. Melainkan dari manusia-manusia yang tulus bekerja didalamnya.
Guru yang tetap mengajar meski listrik padam. Murid yang tetap datang meski hujan deras. Dan orang tua yang tetap percaya bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan lewat ilmu.
Karena pendidikan bukan proyek lima tahun. Ini adalah perjalanan seumur hidup.
Dan kualitasnya bukan diukur dari hasil cepat, namun dari perubahan kecil yang terus tumbuh dalam diam.
Angka dibalik Sekolah
Ketika kita berbicara tentang kualitas pendidikan, maka yang sering muncul adalah kata mutu, peningkatan dan generasi emas 2045.
Diibalik kata itu, angka-angka berbicara dengan jujur, terkadang lebih keras dari retorika.
Pada tahun 2024, data menunjukkan bahwa partisipasi anak usia 7-12 tahun mencapai 99,19%, sedikit naik dari 99,16% pada 2023.
Untuk usia 13-15 tahun, partisipasi naik ke 96,17% pada 2024 dari 96,10% sebelumnya.
Namun untuk anak berkebutuhan khusus usia 7-12 tahun partisipasi 83,39%; usia 13-15 tahun hanya 60,95%.
Dari data-data diatas Kita dapat memberi refleksi bahwa hampir universal mencapai anak usia dasar, tapi inklusi bagi anak disabilitas masih jauh dari ideal. Akses sudah besar, tetapi belum sama untuk semua.
Kompetensi dan Mutu
Hasil Asesmen Nasional (AN) menunjukkan, pada jenjang SD, persentase siswa yang mampu memenuhi kompetensi literasi meningkat menjadi 68,13% dari 59,49% dari tahun sebelumnya.
Kemampuan numerasi naik ke 62,51% pada 2023 dari 45,24% pada 2022.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia turun dari 371 (2018) ke 359 (2022); matematika dari 379 ke 366; sains dari 379 ke 366. Indonesia berada
di peringkat ke-66 dari 81 negara dalam PISA 2022.
Dari data diatas dapat kita refleksikan. Ada kemajuan internal (AN) angka literasi dan numerasi naik.Tapi bila dibandingan internasional, kita masih tertinggal. Artinya, meski sudah lebih baik, standar global menuntut jauh lebih baik.
Bagaimana Fasilitas & Infrastruktur ?
Berdasarkan data Dapodik 2023,sekitar 45% ruang kelas SD, 38% ruang kelas SMP, dan 30% ruang kelas SMA masih dalam kondisi rusak.
Dalam pemetaan pendidikan nasional, sistem data seperti Rapor Pendidikan sudah digunakan untuk identifikasi kondisi sekolah secara riil.
Artinya bahwa Infrastruktur bukan hanya soal gedung megah, tapi tentang ruang belajar yang layak yang mempengaruhi suasana belajar dan kompetensi yang bisa dicapai.
Kesenjangan daerah, sekolah di daerah terpencil kurang akses pada fasilitas, guru berkualitas dan teknologi digital.
Kualitas pendidikan kita tidak hanya rata-rata nasional. Ada lubang besar di wilayah pedalaman, antar-jenjang yang jika diabaikan akan memperlebar kesenjangan sosial.
Angka-angka di atas tentu tak sekadar data statistik. Hal ini bisa menjadi gambaran nyata bahwa sebuah sekolah di pelosok yang masih bocor atapnya.
Seorang guru yang mengajar meski fasilitas minim.
Siswa yang tahu membaca dan menghitung, tapi belum yakin bermimpi.
Dan ualitas pendidikan akan naik jika kita mampu menutup gap antara angka dan dunia nyata.
Memastikan bahwa literasi dan numerasi bukan hanya lulus kompetensi, melainkan menjadi dasar berpikir.
Membangun infrastruktur yang mendukung bukan sekadar simbol. Mengintervensi daerah tertinggal agar tidak menjadi narasi tetap.
Angka-angka itu bukan untuk membuat kita puas. Justru sebaliknya sebagai alarm. Kita sudah melangkah, namun bukan berarti tiba. Dan titik tiba itu bukan ketika angka rapor gemilang, melainkan ketika setiap anak, di kota dan desa memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mengejar mimpi itu dengan bekal ilmu yang sungguh-sungguh.(*)
