Sumbu Borneo

RESHUFFLE

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Reshuffle itu seperti hujan. Sudah diprediksi sejak seminggu lalu.
Sudah ramai dibicarakan.
Tapi tetap saja heboh begitu datang.

Saya pernah menonton di TV seorang menteri di sebuah acara datang terlambat.
Mukanya tegang.
“Maaf, saya sedang sibuk menyusun laporan,” katanya.
Laporan apa ?
“Ya, laporan kinerja. Biar kalau ada reshuffle, saya aman.”

Saya tersenyum melihatnya.
Seakan-akan reshuffle itu benar-benar soal laporan.
Padahal kita tahu reshuffle jarang soal laporan.
Jarang soal kinerja.
Lebih sering soal kursi.

Ada menteri yang kerjanya bagus, tapi tetap diganti.
Alasannya sederhana partainya kehilangan posisi tawar.
Ada menteri yang kerjanya payah, tapi tetap aman.
Karena partainya justru sedang dibutuhkan.

Publik pun tahu.
Itulah sebabnya setiap kali reshuffle, komentar masyarakat lebih banyak satir ketimbang harapan.
“Yang diganti siapa?”
“Yang masuk siapa?”
Tidak ada yang bertanya: “Apakah harga beras akan turun setelah ini ?”
Karena publik sudah tahu jawabannya.

Reshuffle memang selalu disebut demi memperkuat kabinet.
Demi percepatan pembangunan.
Demi rakyat.
Tapi rakyat tahu, reshuffle lebih sering demi memperkuat koalisi.
Demi percepatan kompromi.
Demi partai.

Saya ingat cerita seorang teman.
Dia bilang, reshuffle di Indonesia itu seperti kafe.
Menunya banyak, nasi goreng, mie goreng, ayam goreng.
Yang berubah cuma piringnya.
Rasanya tetap sama.

Media tentu paling bahagia.
Isu reshuffle bisa diputar berhari-hari.
Nama-nama calon menteri beredar seperti bursa transfer pemain sepakbola.
Ada yang disebut masuk, ada yang disebut keluar.
Bedanya, di Eropa yang dihitung adalah gol.
Disini yang dihitung adalah jatah kursi.

Sesudah reshuffle diumumkan, apa yang berubah ?
Tidak banyak.
Harga beras tetap naik.
BBM tetap mahal.
Birokrasi tetap berbelit.
Yang berubah hanya wajah menteri di televisi.

Reshuffle sebenarnya bisa jadi momentum.
Kalau dipakai untuk menegaskan standar kerja.
Kalau dipakai untuk memberi sinyal bahwa jabatan bukanlah hadiah politik.
Kalau dipakai untuk menunjukkan bahwa Presiden benar-benar menuntut kinerja.

Sayangnya, reshuffle kita lebih sering jadi seni.
Seni kompromi.
Seni menjaga keseimbangan.
Seni politik yang lebih sibuk mengurus partai daripada mengurus rakyat.

Rakyat pun akhirnya terbiasa.
Setiap kali reshuffle datang, kita menonton seperti menonton sinetron.
Sinetron yang alurnya sudah bisa ditebak.
Tokoh lama muncul dengan peran baru.
Tokoh baru datang sebentar, lalu hilang sebelum sempat dikenal.

Reshuffle itu ibarat mengganti sopir bus.
Kadang sopir baru lebih segar. Kadang lebih ugal-ugalan.
Tapi bus-nya tetap tua.
Jalanannya tetap berlubang.
Dan bensinnya tetap mahal.

Reshuffle hanyalah drama.
Drama kekuasaan yang sudah sering kita tonton.
Kita tahu jalan ceritanya.
Kita tahu ending-nya.
Tapi kita tetap menonton.
Mungkin karena sudah tidak punya pilihan lain.

Bagi rakyat, reshuffle seharusnya menjawab persoalan sehari-hari, harga pangan yang naik, kualitas pendidikan yang tertinggal, layanan kesehatan yang belum merata.Tapi setiap kali reshuffle diumumkan, yang terdengar hanyalah nama dan partai, bukan agenda kerja baru yang jelas.

Di sisi lain, reshuffle juga menyimpan paradoks, diharapkan membawa perubahan, namun justru bisa melahirkan ketidakpastian. Setiap menteri baru butuh waktu beradaptasi. Butuh waktu membangun tim, memahami birokrasi, menyusun program. Dalam masa transisi itu, kebijakan bisa tersendat. Rakyat kembali harus menunggu.

Reshuffle pun sering melahirkan wajah lama dengan jabatan baru. Politisi yang sudah berulang kali duduk di kabinet, kembali tampil dengan portofolio berbeda. Sementara profesional muda, tokoh non-partai jarang diberi ruang. Akibatnya, publik merasa reshuffle bukan pintu masuk regenerasi, melainkan sekadar perputaran kursi.

Meskipun penuh sinisme, reshuffle tetap selalu dinanti. Publik masih menyimpan harapan, sekecil apa pun. Harapan bahwa kali ini akan berbeda. Bahwa Presiden benar-benar menilai menterinya secara objektif. Bahwa kepentingan rakyat lebih besar daripada kompromi partai.

Akankah harapan itu terwujud ? Ataukah reshuffle akan terus menjadi ritual politik yang ramai di awal, tapi sunyi dari hasil nyata di akhir ?, waktu yang akan menjawab.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!