BONTANG.SUMBU BORNEO.ID—Bontang Kuala kembali menjadi magnit bagi dunia pariwisata. Pasalnya, Pesta Laut 2025 kembali digelar dan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni di Pelataran Bontang Kuala, Rabu, 17 Desember 2025.
Pemukulan gong oleh Sultan Aji Muhammad Arifin bersama Wali Kota dan Wawali Agus Haris, menjadi penanda dimulainya pesta tahunan bagi masyarakat pesisir di Kota Industri itu.
Pesta tersebut terbilang istimewa karena dihadiri langsung tamu kehormatan Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Sultan ke-21 Aji Muhammad Arifin bersama Bunda Ratu Prabu Ningrat dan jajaran Forkopimda Kota Bontang, serta perwakilan sejumlah perusahaan.
Menariknya, pembukaan diawali dengan prosesi adat tempong tawar sebagai tanda kehormatan dan ungkapan rasa syukur kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota.
Selanjutnya dilakukan pemakaian podong kepada para tamu undangan sebagai simbol keagungan, kedaulatan, dan kesakralan adat.
Acara ini pun di meriahkan dengan tarian penyambutan khas pesisir yang dibawakan putra-putri Kota Bontang.
Di tengah kemeriahan, Wali Kota Neni Moerniaeni yang kerap disapa Bunda Neni ikut larut bersama para penari. Bahkan, ia tak segan menyawer penari sebagai bentuk apresiasi terhadap seni dan budaya lokal, yang disambut antusias masyarakat.
Dalam sambutannya, Wali Kota Neni Moerniaeni mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memajukan pariwisata Kota Bontang, khususnya kawasan Bontang Kuala yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi pesisir.

Bunda neni mengatakan, pesta Laut merupakan tradisi yang telah ada jauh sebelum Kota Bontang berdiri.
“Pesta laut ini sudah dilaksanakan untuk ke-29 kalinya, sementara usia Kota Bontang masih 26 tahun. Artinya, tradisi ini lebih tua dari usia kota kita. Ini adalah warisan budaya yang diinisiasi oleh para pemangku adat dan masyarakat pesisir Bontang Kuala,” ujar Neni, dikutip dari laman Pemkot Bontang.
Bunda Neni menegaskan bahwa, Pemerintah Kota Bontang berkomitmen untuk terus melestarikan budaya sebagai akar identitas bangsa. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan laut.
“Jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke laut. Jangan sampai suatu saat nanti jumlah sampah lebih banyak daripada ikan di laut kita,” tegasnya.
Ia mengingatkan para nelayan, agar menangkap ikan dengan cara yang ramah lingkungan dan tidak menggunakan bahan peledak. Sebab, jika terumbu karang rusak, maka biota laut lainnya juga akan rusak.
” Ini akan merugikan kita semua,” sebutnya mengingatkan.
Pesta Laut, kata Bunda Neni tidak hanya bermakna budaya dan spiritual, tetapi juga menjadi ladang rezeki bagi para pelaku UMKM. Untuk itu, Pemkot Bontang mengalokasikan anggaran sebesar Rp300 juta dan berkomitmen untuk terus mendukung pelaksanaan Pesta Laut setiap tahunnya.
Tak hanya itu, Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjaga persatuan dan harmonisasi.
Pada kesempatan sama, Pangeran Setya Yaksa, Sultan Kutai Ing Martadipura ke-21 Aji Muhammad Arifin menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan Pesta Laut sebagai salah satu penopang pelestarian budaya dan tradisi daerah.
Sementara itu, Ketua Panitia Pesta Laut 2025, Agung Anugerah menyampaikan bahwa, kegiatan ini telah dipersiapkan dengan matang dan akan berlangsung selama sepekan ke depan.
Agung mengungkapkan, selain ritual bebalai sebagai simbol rasa syukur, Pesta Laut juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan tari tradisional, lomba seni budaya, serta olahraga laut seperti tobak duyung dan tarik tambang perahu.(*)
