Keluarga besar Al-Qadri adalah salah satu garis keturunan yang jejaknya terbentang luas di Nusantara. Dari Pontianak hingga Mandar, dari Banjarmasin hingga Palu, dari tanah Wajo dan Makassar hingga Jawa Timur, dari Jawa Tengah hingga Jakarta, nama ini menyimpan riwayat panjang yang tidak sekadar terpahat di lembar sejarah, tetapi juga hidup di denyut nadi kekerabatan yang terus dijaga.
Hasanuddin Mas’ud, Ketua DPRD Kalimantan Timur, adalah salah satu di antara keluarga besar ini. Dari pihak ibu, Hj. Syarifah Ruwaidah, darah Al-Qadri mengalir dari Syarifah Mahaliah binti Syech Layo Al Qadri yang dalam cerita cucunya memiliki pedang dari kesultanan Pontianak. Syech Layo Al Qadri dengan Sultan Abdul Hamid II dari Pontianak terjalin melalui ikatan “bersepupuh dua kali”, sebuah istilah kekerabatan yang menandakan adanya lebih dari satu jalur silsilah yang mempertemukan mereka pada nenek moyang yang sama.
Penyebaran keluarga Al-Qadri ke berbagai daerah bukanlah peristiwa kebetulan. Ia lahir dari pernikahan antarkeluarga, perjalanan dakwah para ulama, dan peran politik yang mereka emban di berbagai wilayah. Di Banjarmasin, banyak keturunan Al-Qadri menikah dengan keluarga Banjar, melahirkan garis keturunan baru yang kini menyatu dengan budaya setempat. Hasanuddin Mas’ud sendiri, sambil berkelakar, kerap mengatakan, “Saya juga urang Banjar… banyak kerabat saya menikah di Banjar, menjadi keluarga besar yang turun-temurun.”
Kisah kekerabatan ini terasa hidup kembali pada Kamis, 15 Agustus 2025. Di hari itu, Sultan Pontianak ke-9, Syarief Mahmudi Malvin Al-Qadri, datang berkunjung ke kediaman Hasanuddin Mas’ud. Pertemuan itu bukan acara resmi penuh protokol, melainkan kunjungan hati—sekadar melepas rindu di antara keluarga. Hasanuddin menyambut Sultan dengan hangat, didampingi sang istri, Hj. Syarifah Nurfadiah Al-Qadri. Turut hadir pula pamannya, Syeikh Ahmad Al-Qadri, yang akrab disapa Syeikh Nyamma.
Kehadiran Sultan Pontianak di Samarinda ini seakan menjahit kembali benang-benang silaturahmi yang tak pernah putus. Gelar kehormatan yang disandang Hasanuddin—Raden Satrio Notonegoro dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, dan Bamba Manurung dari Kerajaan Balanipa Mandar—menjadi simbol bahwa hubungan keluarga ini tidak hanya lintas daerah, tetapi juga lintas sejarah dan budaya.
Pertemuan sederhana itu mengingatkan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan perekat yang membuat sejarah tetap bernyawa. Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis hubungan darah, keluarga besar Al-Qadri memberi teladan bahwa akar sejarah akan tetap kokoh bila terus disirami dengan pertemuan, sapaan hangat, dan canda di antara kerabat.
Asal-Usul dan Penyebaran Keluarga Al-Qadri di Indonesia
Sejarah keluarga Al-Qadri di Indonesia berawal dari kedatangan Syarif Abdurrahman Al-Qadri, seorang keturunan Ba‘Alawi dari Hadramaut, Yaman, yang mendirikan Kesultanan Pontianak pada 23 Oktober 1771. Garis keturunan ini bersambung kepada Rasulullah Muhammad Saw melalui jalur Sayyidina Hasan bin Ali, putra Fatimah az-Zahra. Sejak berdirinya Kesultanan Pontianak, para sultan dan kerabatnya aktif menjalin hubungan kekeluargaan dengan bangsawan, ulama, dan tokoh adat di berbagai wilayah.
Dari Pontianak, cabang keluarga Al-Qadri menyebar melalui tiga jalur utama:
1. Pernikahan politik dan adat, yang menghubungkan mereka dengan kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai Kartanegara, Banjarmasin, Wajo, dan Balanipa di Mandar.
2. Perjalanan dakwah, di mana ulama keturunan Al-Qadri menetap di Palu, Makassar, dan Mandar, menjadi imam dan guru agama.
3. Perdagangan dan migrasi, yang membawa sebagian keturunan mereka ke Jawa Timur dan Jawa Tengah, menetap di pesisir kota-kota seperti Gresik, Surabaya, Semarang, dan Pekalongan. Bahkan Jakarta dan sebagian Sumatra.
Di Banjarmasin, hubungan kekerabatan terjalin erat sehingga sebagian keturunan Al-Qadri dikenal sebagai bagian dari keluarga besar Banjar.
Di Palu, keluarga Al-Qadri berperan dalam pengembangan pendidikan Islam dan penguatan jaringan ulama di Sulawesi Tengah.
Di Mandar dan Wajo, ikatan ini menguat melalui perkawinan dan persaudaraan adat, hingga melahirkan gelar-gelar kehormatan seperti Bamba Manurung yang kini disandang Hasanuddin Mas’ud.
Sementara di Makassar dan Jawa, keturunan Al-Qadri terlibat dalam dunia perdagangan, pendidikan, dan politik lokal, tetap menjaga nama baik dan tradisi keluarga.
Penyebaran ini menjadikan Al-Qadri bukan sekadar nama keluarga, tetapi sebuah jejaring sosial yang menyatukan lintas etnis, wilayah, dan tradisi. Dari istana Pontianak hingga rumah-rumah sederhana di Mandar, dari masjid-masjid tua di Banjarmasin hingga dermaga di Gresik, mereka membawa warisan keilmuan, adab, dan keterbukaan yang diwariskan dari leluhur Hadramaut.
Dan seperti yang terlihat pada pertemuan 15 Agustus 2025 itu, ikatan darah yang berumur ratusan tahun itu tetap hangat. Sejarah tidak hanya disimpan dalam buku, tetapi hadir di ruang tamu, di meja makan, dan di senyum yang menyambut kerabat yang datang dari jauh.(**)
Penulis :Safardy Bora
