Sumbu Borneo

NOMOR TIGA

Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin. M

Di atasnya hanya dua.
DKI Jakarta
dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Banyak orang mungkin menganggap itu angka biasa.

Bagi saya tidak.

Ini provinsi yang dulu dikenal karena hutan.
Karena tambang.
Karena minyak.

Bukan karena manusianya.

Sekarang ceritanya mulai berubah.
IPM itu bukan angka kecil.
Dihitung dari tiga hal penting.
Pendidikan.
Kesehatan.
Daya beli (ekonomi).

Sederhana.
Manusia di daerah itu semakin berkualitas hidupnya.

Saya teringat Kaltim dua puluh tahun lalu.
Jalan masih panjang dan sepi.
Kota-kotanya tidak ramai.

Sekarang ?

Bandara sibuk.
Kampus bertambah.
Rumah sakit makin lengkap.
Apalagi sejak ibu kota negara baru dibangun
disana.
Ya IKN

Ibu Kota Nusantara menjadi magnet baru.
Orang pada datang.
Ide datang.
Harapan juga datang.

Namun angka nomor tiga ini juga membawa pertanyaan.

Apakah kualitas manusianya sudah merata ?

Atau baru terkumpul di kota-kota besar seperti
Balikpapan,
Samarinda,
dan Bontang ?

Karena pembangunan manusia itu seperti air.
Harus mengalir.
Sampai ke desa.
Sampai ke kampung.
Sampai ke daerah yang jauh dari lampu kota.

Kalau tidak, angka itu hanya akan menjadi kebanggaan statistik.
Bukan kenyataan sehari-hari.

Namun satu hal pasti.
Bahwa nomor tiga bukan posisi akhir.
Hanya pengingat.
Bahwa daerah yang dulu terkenal karena sumber daya alamnya, kini mulai dikenal karena kualitas manusianya.

Dan itu jauh lebih penting.

Karena tambang bisa habis.
Minyak bisa kering.
Namun manusia yang berkualitas akan selalu menemukan cara untuk bertahan.

Capaian dan tantangan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur kualitas pembangunan manusia di suatu wilayah. Konsep ini diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) dan mengintegrasikan tiga dimensi dasar pembangunan, yaitu kesehatan, pendidikan dan standar hidup layak.

Dalam konteks pembangunan nasional, capaian IPM menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan kebijakan pembangunan daerah. Salah satu provinsi yang menunjukkan performa signifikan adalah Kaltim yang menempati peringkat ketiga secara nasional setelah DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Posisi ini menempatkan Kaltim sebagai salah satu wilayah dengan kualitas pembangunan manusia terbaik di Indonesia.

Struktur ekonomi Kaltim yang didukung oleh sektor pertambangan, energi dan industri ekstraktif memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat pendapatan masyarakat. Hal ini secara langsung berdampak pada peningkatan daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

Tidak sulit menjelaskan mengapa IPM Kaltim relatif tinggi. Provinsi ini sudah sejak lama menjadi salah satu pusat ekonomi berbasis sumber daya alam di tanah air. Minyak, gas dan batu bara menjadikan pendapatan daerah ini relatif kuat dibanding banyak provinsi lain.

Pendapatan regional yang tinggi mendorong daya beli masyarakat. Infrastruktur kesehatan dan pendidikan juga berkembang lebih cepat.

Kota-kota seperti Balikpapan, Samarinda dan Bontang menunjukkan wajah urban yang cukup maju di kawasan timur Indonesia.

Kemudian ada momentum pembangunan ibu kota baru (IKN). Proyek ini tentu meningkatkan arus investasi, pembangunan infrastruktur dan mobilitas tenaga kerja terdidik. Secara statistik, semua faktor ini mendorong kenaikan IPM.

Namun satu hal penting bahwa statistik juga sering menyembunyikan detail penting, salah satunya masalah ketimpangan.

Di beberapa kota akses pendidikan dan layanan kesehatan relatif baik. Tetapi kondisi yang sama belum tentu terjadi di daerah pedalaman apalagi wilayah perbatasan.

Sebagian wilayah kabupaten masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan menengah, tenaga medis, serta infrastruktur dasar.

Artinya bahwa kualitas pembangunan manusia masih belum sepenuhnya merata.Tentu ini bukan masalah kecil.
Pembangunan manusia seharusnya tidak hanya meningkatkan angka provinsi, tetapi juga mempersempit kesenjangan antarwilayah.

Ekonomi Kaltim masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif.
Ketika harga batu bara tinggi, ekonomi daerah ikut melonjak. Ketika harga komoditas turun, dampaknya langsung terasa pada pertumbuhan ekonomi regional.

Model ekonomi seperti ini membuat kesejahteraan masyarakat rentan terhadap fluktuasi pasar global.
Dalam jangka panjang, kualitas pembangunan manusia tidak bisa hanya ditopang oleh sektor pertambangan.
Diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak.

Investasi pada pendidikan tinggi, inovasi teknologi dan sektor jasa modern harus menjadi prioritas jika Kaltim ingin mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pembangunan manusianya.

Lalu, bagaimana dengan pembangunan IKN ?

Pembangunan Ibu Kota Nusantara memberi peluang besar. Tetapi juga membawa tantangan baru.

Masuknya investasi dan tenaga kerja dari berbagai daerah berpotensi menciptakan kesenjangan baru jika pemerintah daerah tidak menyiapkan sumber daya manusia lokal secara serius.

Pembangunan manusia tidak boleh hanya menghasilkan angka statistik yang tinggi.
Namun harus memastikan bahwa masyarakat lokal juga memperoleh manfaat nyata dari transformasi ekonomi yang sedang terjadi.

Bahwa peringkat ketiga IPM nasional adalah capaian penting bagi Kaltim
Dan capaian itu seharusnya dilihat sebagai titik awal, bukan garis akhir.

Pekerjaan besar masih menunggu. Bagaimana memperkecil ketimpangan wilayah, mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif dan menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi perubahan ekonomi yang lebih kompleks.

Angka IPM boleh tinggi.
Tetapi kualitas pembangunan manusia yang sesungguhnya hanya bisa dinilai dari satu hal.
Apakah kesejahteraan dan kesempatan hidup yang lebih baik benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat. Bukan hanya oleh yang tinggal di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Dan kedepan penguatan sektor pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, serta diversifikasi ekonomi menjadi faktor kunci dalam memastikan bahwa capaian pembangunan manusia tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga merata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Kalimantan Timur.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!