Oleh : Muslimin.M
Konsep manajemen talenta sekarang sedang ramai dibicarakan, termasuk di salah satu grup WA yang saya ada didalam nya. Katanya, birokrasi harus dikelola seperti perusahaan besar yaitu menempatkan orang sesuai kemampuan terbaiknya. Tapi realitasnya, saya terlalu sering melihat yang naik jabatan bukan karena kinerja, tetapi karena siapa yang mengangkat telepon.
Birokrasi kita terlalu lama hidup dari sistem *kepatuhan, bukan sistem keunggulan. Yang penting *hadir*, bukan yang penting *hasil*.
Padahal, talenta tidak lahir dari rutinitas. Talenta tumbuh dari tantangan, dari ruang untuk berkreasi, dari pimpinan yang berani memberi kepercayaan.
Saya kadang melihat
Pemandangan yang tidak pernah berubah. Banyak meja. Banyak map. Banyak tanda tangan. Dan banyak talenta yang terkubur
di bawahnya.
Sejatinya, birokrasi kita tidak kekurangan orang pintar.
Yang kurang ruang untuk berpikir.
Yang lebih banyak aturan untuk menunggu.
Saya pernah bertemu seorang ASN muda. Lulusan teknik informatika.
Kerjanya, mengetik laporan manual. Dia senyum waktu saya tanya, kenapa tidak dibuatkan sistemnya saja ?
“Sudah, Pak,” katanya.
“Tapi dilarang dipakai. Belum ada dasar hukumnya.”
Begitulah.
Kreativitas tidak dilarang. Tapi juga tidak pernah diizinkan.Talenta itu seperti api. Kalau dibiarkan terlalu lama tanpa udara, padam. Dan begitu padam, jangan harap bisa menyala lagi.
Birokrasi kita seperti taman yang rapi tapi kering. Bunganya ada, tapi tidak pernah disiram. Karena semua sibuk memastikan, jangan sampai salah menyiram.
Saya tahu bahwa sistem dibuat untuk menjaga keteraturan. Tapi keteraturan tanpa ruang tumbuh itu kuburan. Saat ini pemerintah mulai berbicara manajemen talenta.
Bagus.
Asal tidak berhenti di PowerPoint.
Karena talenta tidak bisa dikelola dengan format laporan.Talenta hanya bisa tumbuh kalau diberi ruang untuk salah. Kalau birokrat muda berani salah karena mencoba, jangan ditegur.
Kalau atasan memberi ruang untuk berinovasi, jangan disalahkan. Justru itu tanda birokrasi mulai hidup.
Saya percaya bahwa negeri ini tidak kekurangan talenta, hanya terkubur dibalik meja-meja besar, dibawah tumpukan aturan dan diantara rasa takut untuk melangkah. Dan ketika satu meja itu nanti dibersihkan, kita akan kaget sendiri bahwa ternyata negeri ini sudah lama punya banyak orang hebat. Hanya saja, tidak pernah diminta bicara.
Bagaimana menemukan talenta ?
Menemukan talenta
di birokrasi itu tidak sulit.
Yang sulit adalah mengakuinya.
Talenta itu tidak selalu duduk di ruangan besar.
Kadang justru di pojokan,
di meja tanpa pendingin udara, mengetik laporan yang tidak pernah dibaca.
Talenta di birokrasi kadang tidak menonjol. Bukan karena tidak bisa, tapi karena terlalu pintar untuk mencari gara-gara.
Dia tahu, menonjol bisa berbahaya. Bisa dianggap tidak sabar, atau malah dianggap sombong. Padahal negara ini tidak akan maju, kalau orang hebatnya memilih diam demi aman. Menemukan talenta tidak perlu lembaga baru.
Tidak perlu sistem poin.
Cukup satu hal mendengar.
Dengarkan staf yang jarang bicara. Dengarkan ide yang terdengar *tidak biasa*. Dengarkan keluhan orang lapangan sebelum membuat kebijakan.
Banyak talenta gagal tumbuh, bukan karena tidak punya kesempatan, tapi karena tidak pernah didengarkan. Kalau birokrasi ingin maju, mulailah dengan mendengar dari bawah. Dari yang tidak punya jabatan. Dari yang tidak pandai mempresentasikan ide di rapat.
Jangan mencari talenta lewat laporan kinerja.
Cari di ruang kopi.
Cari di obrolan sore pegawai yang sedang bosan.
Disana biasanya muncul ide paling jujur.
Talenta tidak suka ruang rapat. Dia lebih suka tempat yang sederhana.Tempat dimana orang bisa bicara tanpa takut. Dan kalau suatu hari nanti birokrasi bisa menciptakan ruang seperti itu, kita tidak perlu mencari talenta lagi. Talenta sendiri yang akan muncul.
Talenta itu berani
Talenta tanpa keberanian hanyalah potensi, bersinar sebentar, lalu hilang. Dan di birokrasi, keberanian kadang mahal. Bukan karena tidak ada nyali, tapi karena risikonya nyata yaitu teguran, mutasi, kadang karier yang berhenti.
Saya pernah bertemu seorang kepala dinas yang berani. Dia memutuskan mempercepat layanan perizinan tanpa menunggu revisi aturan.
Hasilnya ?
Warga senang. Investor datang.
Tapi kemudian dia dipanggil inspektorat.
Katanya, “Belum sesuai prosedur.”
Sejak itu, dia tidak pernah lagi membuat terobosan.
Itulah masalah kita.
Sistem yang menghukum keberanian,
tapi memelihara kehati-hatian berlebihan.
Padahal bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang berani mengambil risiko.
Dari petani yang mencoba bibit baru, hingga birokrat yang dulu berani memotong rantai tanda tangan demi cepat melayani.
Tapi sekarang banyak birokrat lebih takut salah daripada ingin benar.
Lebih sibuk mencari aman daripada mencari jalan.
Saya tidak menyalahkannya. Tapi sistemnya memang membuat orang berpikir dua kali sebelum melangkah.
Namun kalau semua terus menunggu aba-aba,
kapan perubahan itu datang ?
Keberanian di birokrasi bukan soal melawan aturan.
Tapi tentang membaca niat dibaliknya. Aturan dibuat untuk melindungi rakyat, bukan untuk menghambat akal sehat.
Saya percaya masih banyak birokrat yang berani.Tapi akan memilih diam menunggu waktu yang tepat. Sayangnya waktu yang tepat itu jarang datang kalau tidak diciptakan.
Negeri ini butuh birokrat yang berani, tapi juga cerdas membaca situasi. Yang tahu kapan melangkah, dan kapan menunduk sebentar untuk lewat di bawah badai.
Keberanian bukan sekadar teriak di rapat. Keberanian adalah tetap mencoba,
meski tahu bisa dimarahi.
Tetap melayani,
meski tahu akan disalahpahami.
Karena perubahan besar,
selalu dimulai dari satu langkah kecil yang berani.
Dan kalau langkah itu datang dari meja birokrat,
maka negara ini akan bergerak pelan, tapi pasti.
Kalau birokrasi itu tubuh, maka talenta adalah ototnya. Otot yang membuat gerak lebih cepat, lincah, dan kuat. Sayangnya, tubuh ini sudah lama nyaman dengan lemak.
Tidak mau bergerak.
Tidak mau berubah.
Salah satu kesalahan terbesar birokrasi kita adalah menyamakan kesetiaan dengan kompetensi.
Siapa yang lebih lama disitu, dianggap lebih layak naik jabatan. Siapa yang pintar menyenangkan atasan, dianggap paling siap memimpin. Bukan siapa yang paling bisa bekerja.
Bahkan ada daerah yang menilai promosi pegawai bukan dari kinerja, tapi dari siapa yang paling rajin ikut apel pagi. Sementara inovasi, ide segar, dan kerja cerdas jarang sekali masuk daftar pertimbangan.
Ada seorang teman pejabat eselon dua pernah mengaku jujur. “Kami bukan tidak punya orang pintar,” katanya.
“Kami cuma takut mereka terlalu pintar.”
Takut dikalahkan.
Takut tergeser.
Takut hilang kenyamanan.
Sementara diluar gedung, masyarakat berubah cepat.
Anak-anak muda membangun startup, petani belajar teknologi, pedagang pindah ke pasar digital.
Negara harusnya tidak boleh kalah cepat dari rakyatnya sendiri.
Banyak negara maju berhasil mempercepat reformasi birokrasi karena berani menaruh orang-orang terbaik di posisi strategis.
Talenta birokrat bukan hanya dibiarkan tumbuh, tapi diberi ruang, panggung dan kepercayaan. Sementara di sini, talenta masih diparkir di ruang belakang.
Lucunya, kita masih berharap pelayanan menjadi cepat. Padahal yang kita beri jalan adalah orang yang tidak ingin berlari.
Dan yang pasti selama talenta hanya dijadikan ban serep dan bukan pengemudi, birokrasi kita akan tetap seperti ini, lambat, berputar-putar di tempat yang sama.
Dan kita akan terus kehilangan orang-orang terbaik, bukan karena kita tidak mampu, tapi karena sistemnya yang tidak mau memberi kesempatan.(*)
