Sumbu Borneo

GURU ITU MASIH MENGAJAR

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Saya pernah bertemu dengan seorang guru honorer di sebuah desa yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Namanya pak Darto(nama samaran). Beliau sudah mengajar selama belasan tahun.Tidak pernah pindah.Tidak pernah protes. Gajinya waktu itu masih Rp350 ribu per bulan. Saya bertanya kenapa masih bertahan ?

Jawabannya sederhana, “Kalau saya berhenti, anak-anak itu nanti belajar sama siapa ?”

Kalimat itu seperti tamparan untuk saya, untuk kita, dan tentu saja untuk negara ini.

Setiap tahun, ribuan guru honorer di Indonesia mengajar dengan bayaran yang tidak pantas. Bahkan kurang manusiawi. Banyak dari mereka dibayar di bawah UMR. Bahkan, ada yang hanya diberi insentif Rp200 ribu per bulan. Itu pun tidak rutin.

Lucunya, para guru honorer ini masih dituntut profesional. Harus menguasai kurikulum, harus melek teknologi, harus siap masuk kelas dengan senyum. Harus jadi motivator, pengganti orang tua sekaligus penegak disiplin.

Yang tidak dituntut hanyalah satu, gaji yang layak.

Pemerintah kadang menjanjikan solusi. Ada P3K. Ada wacana pengangkatan menjadi PNS. Ada revisi undang-undang. Dan janji itu meskipun sudah menjadi titik terang, tapi ternyata masih sangat banyak yang tidak tertolong.

Andaikan kita mau jujur terutama negara, seharusnya sudah lama menyadari bahwa tidak ada pendidikan yang berkualitas tanpa guru yang dihargai. Dan penghargaan itu bukan sekadar seremoni di Hari Guru. Tapi gaji yang cukup untuk hidup. Untuk makan. Untuk naik angkot, tanpa harus meminjam uang

Kita terlalu pandai menunda.Terlalu sering meminta guru bersabar, sementara pejabat tidak pernah menunda kenaikan tunjangan atau pembelian mobil dinas.

Pertanyaannya sampai kapan ?

Dan jawaban sementara dari para guru honorer adalah sampai anak-anak kami tidak lagi membutuhkan kami.

Tapi sampai titik itu datang, para guru ini akan terus berdiri di depan kelas mengajar, walau tak digaji selayaknya manusia.

*Tanda jasa yang terlupakan*

Jujur saja, dibalik keberhasilan banyak siswa dalam meraih cita-citanya, ada sosok guru yang setia mendampingi proses belajarnya. Dan tidak semua guru mendapatkan perlakuan yang layak dari sistem pendidikan kita. Guru honorer adalah salah satu contoh nyata dari ketimpangan dalam dunia pendidikan.

Guru honorer adalah guru yang mengajar tanpa status sebagai ASN dan biasanya menerima upah jauh dibawah standar kelayakan. Banyak yang hanya dibayar Rp300.000 hingga Rp1.000.000 per bulan, meskipun telah mengabdi selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang tidak menerima gaji secara rutin dan hanya mengandalkan insentif dari sekolah, bantuan pemerintah daerah yang jumlahnya tidak menentu.

Meski demikian, dedikasi para guru honorer tak perlu diragukan, tetap datang tepat waktu, mengajar dengan sepenuh hati dan menjadi teladan bagi siswa-siswinya.Tidak jarang harus menempuh perjalanan jauh ke pelosok desa, melewati medan yang sulit, demi memberikan pendidikan kepada anak-anak bangsa.

Dibalik semua itu, kita meminta kepada negara agar memberi perhatian lebih kepada para guru honorer.Pendidikan yang berkualitas tidak mungkin tercapai jika para pengajarnya masih hidup dalam ketidakpastian.

Pengangkatan guru honorer menjadi ASN, pemberian insentif yang layak adalah bentuk penghargaan terhadap jasa nya dalam membentuk generasi masa depan bangsa.

Guru honorer bukan sekadar profesi, tapi pejuang yang layak mendapatkan penghormatan dan kesejahteraan yang setara dengan pengabdiannya.

Guru honorer adalah guru yang tugasnya, tanggung jawab dan perhatian kepada anak didiknya sama dengan guru-guru ASN, hanya berbeda penghargaan pada penghasilan dan kita menuntut kesetaraan.Guru honorer adalah pahlawan sesungguhnya.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!