Oleh : Muslimin.M
Kadang-kadang politik itu membuat kita marah, kecewa, sedih bahkan ingin tertawa, bukan karena menjengkelkan, bukan karena emosi, tapi karena bingung harus sedih dari sisi mana.
Saya pernah diajak makan malam seorang politikus muda. Lulusan perguruan tinggi ternama. Wawasan nya luas, bahasa Inggrisnya fasih, pemikirannya moderen. Dia datang ke dunia politik dengan satu tekad, membawa *perubahan*.
Tiga bulan kemudian, saya bertemu lagi. Wajahnya masih optimis, dan kata-katanya mulai realistis.
“Pak, ternyata idealisme dan elektabilitas itu sering tidak sejalan,” katanya.
Saya hanya tersenyum. Tidak ingin mematahkan semangatnya, tapi juga tidak ingin terlalu membesarkan harapannya
Dia bercerita, saat kampanye, ingin bicara soal reformasi birokrasi, transparansi anggaran, dan ekonomi hijau. Tapi yang ditanya masyarakat justru, “Kapan kaosnya dibagi?” “Sembakonya kapan datang ?”
“Kalau saya bicara visi, mereka anggap saya sok. Kalau saya diam, mereka bilang saya tidak peduli,”
Saya tidak menyalahkan masyarakat. Saya juga tidak menyalahkan dia.Tapi memang disinilah letak paradoks demokrasi kita, semua orang bebas berbicara, tapi tidak semua bisa didengar. Yang paling sering terdengar, justru yang paling lantang, paling banyak uangnya.
Saya pernah mendengar cerita salah seorang politikus yang sering rapat dengan petinggi partainya membahas bagaimana strategi pemenangan. Bukan soal gagasan. Bukan soal visi kebangsaan.Tapi soal pemetaan suara, logistik kampanye, dan siapa yang bisa dipegang.
“Kalau kita tidak main uang, kita kalah,” katanya dengan mimik serius.
Dan anehnya, itu diucapkan tanpa rasa bersalah, tanpa ada beban apalagi rasa malu ke rakyat. Seolah-olah sudah menjadi hukum alam demokrasi.
Tentu saja tidak semua politikus begitu. Saya masih percaya ada yang jujur. Yang sungguh ingin membenahi negeri ini. Tapi, jumlahnya sangat minim dan sering tersisih oleh sistem yang lebih mengutamakan citra daripada isi.
Dan yang paling kompeten, justru kalah di medan yang tidak adil, popularitas, modal dan manuver politik.
Demokrasi memberi ruang untuk semua orang.Tapi ruang itu lebih mudah ditembus oleh yang punya sumber daya lebih.
Kita diajarkan bahwa partai politik adalah pilar demokrasi.Tapi didalam praktiknya, partai sering seperti rumah besar tanpa penghuni tetap.
Pindah partai ? Biasa.
Ganti haluan ? Tidak masalah.
Yang penting tetap bisa ikut pemilu.
Saya mengenal seorang tokoh yang dalam tiga pemilu berturut-turut, selalu ikut, tapi selalu lewat partai berbeda. Ketika saya tanya kenapa, dia menjawab,
“Partai hanya kendaraan, Pak.Tujuannya tetap sama.”
Saya kaget. Tidak tahu apakah itu jawaban jujur, atau hanya kalimat pembenaran yang terlalu sering diucapkan hingga terdengar sah.
Dan yang lebih menyedihkan
didalam partai sendiri, demokrasi juga kadang hanya formalitas. Pemilihan ketua umum bisa saja berlangsung aklamasi. Keputusan strategis bisa datang dari atas, tanpa melalui kader di bawah.
Kalau didalam partai saja demokrasi tidak utuh, bagaimana mungkin mereka membawa demokrasi yang sehat ke publik ?
Yang membuat saya tidak sepenuhnya pesimis adalah setiap lima tahun, rakyat tetap datang ke TPS.
Tetap mencoblos.Tetap berharap.
Rakyat tahu, mungkin yang dipilih belum tentu menepati janji.Tapi tetap datang. Karena sadar, itu satu-satunya saat punya kuasa.
Saya pernah tanya ke seorang ibu di salah satu kampung,
“Kenapa tetap mau datang jauh-jauh ke TPS?”
Dia menjawab singkat,
“Karena itu satu-satunya hari saya merasa negara butuh saya.”
Saya hanya bisa membisu. Demokrasi kita mungkin penuh kekurangan.Tapi semangat rakyat seperti itulah yang membuat saya tetap percaya bahwa sistem ini bisa diperbaiki, asal tidak kita tinggalkan.
Demokrasi kita belum dewasa. Umurnya masih muda, jalannya pun belum tegak.
Kadang tersandung. Kadang melenceng. Kadang dibajak oleh segelintir orang yang lebih mengutamakan kekuasaan daripada pelayanan.
Paradoks itu akan terus ada. Tapi mungkin, disanalah keindahannya, kita belajar, kita salah, lalu kita coba lagi.
Asal jangan berhenti. Dan jangan lupa bahwa demokrasi bukan sekadar soal memilih.Tapi juga soal menjaga agar yang terpilih tidak lupa siapa yang mm memilihnya.(**)
