Sumbu Borneo

DEMOKRASI PARADOKS (2)

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Sudah lebih dari dua dekade kita hidup dalam demokrasi.Tapi, rasa-rasanya masih ada yang salah ?

Kita melaksanakan pemilu.
Kita bebas memilih.
Kita bisa mengkritik pemerintah tanpa takut.
Tapi hasilnya ?

Korupsi tetap tinggi.
Kepercayaan rakyat masih rendah.
Dan setiap lima tahun, kita hanya disuruh memilih antara beberapa calon yang kita tahu kurang lebih sama saja.

Saya teringat suatu kejadian.
Siang hari, saya makan siang di warung langganan.
Ibu pemilik warung sambil menggoreng ayam, berkata,
“Pak, saya bingung. Pemilu datang lagi.Tapi hidup saya gini-gini aja.”

Saya tidak menjawab, hanya bisa diam sambil berbisik dalam hati. “Bukan hanya ibu, bahkan ada yang lebih menyedihkan lagi”.

Sejatinya, demokrasi membawa perubahan. Kenyataan hari ini yang berubah hanya baliho.
Dulu bergambar tokoh lama, sekarang tokoh baru dengan senyum yang mirip.
Janji juga sama, ingin membela rakyat, menurunkan harga, membuka lapangan kerja.

Tapi rakyat tetap berjuang sendiri.
Di kampung-kampung, orang sudah tak peduli siapa menang.
Yang penting dapat kaos, dapat amplop, dapat bensin buat motor.
Setelah itu, selesai.
Politik ditinggal, hidup dilanjutkan.

Itulah realitas paradoks demokrasi.
Dibangun atas nama rakyat, tapi terlalu gampang melupakan rakyat.

Di kampus, saya pernah berdiskusi.
Seorang dosen bertanya, “Apakah demokrasi gagal ?”

Saya jawab, tidak.
Tapi demokrasi juga tidak otomatis berhasil.
Karena demokrasi bukan mesin, bukan pabrik yang bisa menjamin hasil bagus.
Demokrasi hanya memberi kita kebebasan. Dan kebebasan itu berbahaya kalau tidak disertai kesadaran.

Kesadaran bahwa memilih bukan sekadar mencoblos.
Kesadaran bahwa beda pilihan tidak harus musuhan.
Kesadaran bahwa suara kita hanya berarti kalau kita paham apa yang kita pilih.

Tapi jujur. Kita belum sampai ke sana.
Kita lebih suka politik yang heboh daripada politik yang substansial.
Lebih suka orasi daripada solusi.
Lebih suka pencitraan daripada kerja nyata.

Karena itu, banyak pemimpin lahir dari viralitas, bukan kapasitas.
Yang menang adalah yang paling pandai membakar emosi.
Bukan yang paling mampu memberi bukti.

Saya tidak menyalahkan rakyat.
Saya tidak menyalahkan elite.
Saya menyalahkan kita semua yang membiarkan demokrasi hanya jadi seremoni.

Saya tetap percaya pada demokrasi.
Tapi saya percaya demokrasi butuh lebih dari sekadar pemilu, butuh pendidikan, butuh keberanian, butuh kesadaran kolektif untuk mengawasi, bukan hanya mengeluh.

Dan yang paling penting bahwa demokrasi hanya mungkin berhasil kalau rakyatnya tak gampang dibeli.(**)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!