Oleh : Muslimin.M
Saya masih ingat betul,
ketika kata digitalisasi pendidikan pertama kali digaungkan. Semua orang senang. Kata-katanya indah.
Visinya jelas, *Murid tidak lagi ketinggalan zaman*
Laptop murah itu dipilih.
Chromebook.
Ringan.
Sederhana.
Bisa dipakai siapa saja.
Maksudnya baik.
Sangat baik.Tapi kita tahu.
Niat baik di negeri ini sering tersandung dimeja tender.
Laptop untuk murid itu berubah nasib. Dari semestinya pintu ilmu,
menjadi pintu korupsi.
Spesifikasi dipreteli.
Harga dinaikkan.
Kualitas diabaikan.
Yang sampai ke sekolah hanya kardus. Isinya ada.
Tapi tak berguna.
Laptopnya lemot. Sering rusak. Bahkan ada yang tak bisa dipakai sejak hari pertama. Murid kecewa.
Guru pasrah. Orang tua menghela napas.
Saya teringat dulu. Zaman listrik masuk desa. Ada saja kabel yang hilang. Listrik tetap menyala. Tapi sering padam.
Sekarang laptop masuk sekolah. Ada saja anggaran yang hilang. Belajar tetap jalan.Tapi setengah hati.
Yang korup siapa ?
Bukan murid.
Bukan guru.
Bukan kepala sekolah.
Yang korup justru mereka yang duduk di kursi empuk.
Yang punya stempel.
Yang bisa tanda tangan.
Dan selalu sama.
Dulu ada korupsi buku.
Pernah juga kursi murid.
Gedung sekolah pun tak luput.
Kini laptop.
Besok mungkin aplikasi.
Atau metaverse.
Kreativitas korupsi memang tidak pernah kalah.
Yang paling menjengkelkan
korupsi di pendidikan bukan sekadar mencuri uang.
Tapi mencuri masa depan.
Kalau jalan tol dikorupsi, rakyat masih bisa lewat jalur lama. Kalau pupuk dikorupsi, petani masih bisa cari alternatif.
Tapi kalau pendidikan dikorupsi ? Tidak ada gantinya. Anak-anak kehilangan kesempatan.
Bangsa kehilangan daya saing.
Saya membayangkan murid-murid itu duduk dengan laptop di meja kayu rapuh. Mereka menekan tombol yang tak merespons, mencoba belajar, tapi terhenti di layar macet.
Lalu apa yang murid pelajari ?
Bukan komputer.
Tapi kenyataan. Bahwa pejabat bisa mengkhianatinya.
Bahwa uang bisa mengalahkan akal sehat.
Bahwa masa depan bisa dijual murah.
Inilah kurikulum tersembunyi itu. Kurikulum yang tak tertulis.Yang diajarkan bukan lewat buku,
tapi lewat contoh.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Chromebook seharusnya menjadi simbol lompatan.
Tapi kini menjadi simbol kejatuhan. Pendidikan dijadikan proyek. Murid dijadikan angka. Masa depan dijadikan dagangan.
Kasus Chromebook memberi kita pelajaran pahit bahwa korupsi itu telah masuk kurikulum tersembunyi bangsa ini.
Anak-anak mungkin belajar matematika dari buku. Belajar komputer dari layar Chromebook yang lemot. Tapi dari berita yang mereka dengar, justru belajar hal lain bahwa uang bisa mengalahkan aturan, bahwa pejabat bisa mengambil jatah murid, bahwa keadilan sering kalah oleh kekuasaan.
Apakah kasus ini hanya akan berhenti di headline berita ? Apakah hanya menjadi bahan sidang pengadilan yang kita lupa setelah vonis ? Atau bisa jadi momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan bukan pasar tender, murid bukan objek proyek, masa depan bangsa bukan bahan dagangan ?
Kalau jawabannya yang pertama, kita hanya mengulang pola lama. Korupsi Chromebook akan dilupakan, lalu muncul lagi kasus lain dengan nama berbeda.
Kalau jawabannya yang kedua, barulah ada harapan. Bahwa negeri ini sadar, mencuri dari pendidikan sama saja dengan mencuri masa depan.
Chromebook mestinya menjadi pintu menuju masa depan. Sayangnya, justru menjadi cermin bahwa betapa mudahnya masa depan bangsa ini dijual murah.(*)
