Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi & Kebudayaan
Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL
Di sebuah grup WhatsApp, tiba-tiba masuk pesan dari seorang sahabat yang selama ini saya hormati dan akui integritasnya, Yacobus K. Mayong Padang-Bang Kobu. Pesannya sederhana, tetapi menghunjam. Ia mengirim sebuah foto penggalan kalimat Bung Hatta yang terpajang di depan makamnya di TPU Tanah Kusir. Di sana, puluhan pesan Bung Hatta ditata dalam bentuk taman kata, menyambut siapa saja yang datang berziarah, menyihir hati dengan pola pikir sang Proklamator dari Bukittinggi itu.
Kata Bang Kobu, pola pikir Bung Hatta itu berpadu kuat dengan tutur kata yang lembut, tetapi berwujud dalam perilaku hidup yang kukuh. Itulah yang disebut integritas. Sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi amat sulit ditemukan, terutama jika kita mencarinya pada para pejabat masa kini.
Pesan yang ia foto dan teruskan sungguh menyentuh, berbunyi:
“Siapa yang tak mempunyai iman yang teguh dan watak yang tetap dan urat syaraf yang kuat. Susah bagi dia akan memenuhi kewajiban sebagai pemimpin. Di sini ia dipuji dan diikuti. Di sana ia dicela dan dinista. Di sini ia diakui sebagai pahlawan. Di sana ia diteriakkan sebagai pengkhianat dan penjahat.” – Bung Hatta
Ia mengirimkan pesan ini sebagai pengingat, khususnya bagi bangsa ini dan terutama bagi mereka yang sedang mendapat mandat dari RAKYAT—yang ia tuliskan dengan huruf kapital, sebagai tanda penghormatan. RAKYAT adalah komponen utama dan terpenting dalam kehidupan bernegara. Karena itu, RAKYAT harus mendapat perhatian yang serius dan utama.
Kemerdekaan yang Berhutang pada Kesejahteraan
Pesan Bung Hatta itu sesungguhnya adalah kaca bening untuk melihat kenyataan hari ini. Bahwa kemerdekaan bukanlah sekadar peristiwa simbolik atau perayaan tahunan, melainkan sebuah cita-cita luhur: mensejahterakan rakyat. Namun, dalam catatan Bang Kobu ia menulis bahwa saat ini RAKYAT miskin tercatat 60,3% atau sekitar 179 juta jiwa. Angka yang mengejutkan, sekaligus menyakitkan.
Bukankah Bung Hatta sejak awal telah mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang menghadirkan kesejahteraan? Bahwa proklamasi bukanlah akhir, melainkan pintu menuju tugas besar: memerdekakan rakyat dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan.
Seperti kata Bung Karno dalam pidatonya: “Politik tidak ada artinya jika tidak diisi dengan kesejahteraan rakyat.” Maka, jelaslah bahwa kemerdekaan yang kita rayakan setiap 17 Agustus belumlah tuntas jika rakyat masih berkubang dalam kemiskinan.
Integritas Pemimpin, Harapan Rakyat
Bung Hatta menekankan syarat kepemimpinan: iman yang teguh, watak yang tetap, urat syaraf yang kuat. Kepemimpinan yang berakar pada integritas. Pemimpin tanpa integritas akan mudah tergelincir: di satu tempat dipuja, di tempat lain dicaci. Hari ini dipuji, besok dicemooh.
Bukankah kenyataan itu kita saksikan dalam wajah politik kita sekarang? Pemimpin yang sibuk mengejar popularitas, tetapi abai terhadap penderitaan rakyat. Pemimpin yang lebih sibuk memoles citra, daripada menyejahterakan bangsa. Padahal, tugas utama mereka sederhana tetapi berat: menepati janji kemerdekaan, yaitu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rakyat sebagai Jantung Kemerdekaan
Kemerdekaan sejati hanya bisa tegak bila RAKYAT benar-benar ditempatkan sebagai jantung bangsa. Rakyat bukan sekadar angka dalam statistik, bukan sekadar obyek pembangunan, apalagi sekadar lumbung suara dalam pemilu. Rakyat adalah tujuan itu sendiri.
Merdeka berarti rakyat tidak lagi ditindas oleh kemiskinan struktural. Merdeka berarti anak-anak desa bisa bersekolah dengan layak, para petani bisa hidup dari tanahnya, nelayan bisa melaut tanpa takut kehilangan haknya, dan kaum buruh bisa bekerja dengan martabat.
Jika hari ini, setelah 80 tahun merdeka, masih ada 179 juta rakyat miskin, maka pertanyaan besar itu kembali menggema: Sudahkah kita benar-benar merdeka?
Pesan Moral untuk Generasi Muda
Generasi muda, warisilah kemerdekaan ini bukan hanya dengan perayaan, tetapi dengan kerja nyata. Belajarlah dari integritas Bung Hatta, keberanian Bung Karno, dan kesederhanaan para pendiri bangsa. Tugas kalian bukan sekadar mempertahankan NKRI, tetapi juga merawatnya, mengisinya dengan karya, inovasi, dan pengabdian.
Jangan biarkan NKRI ini hanya berdiri sebagai slogan kosong. Rawatlah ia dengan kejujuran, dengan gotong royong, dengan kerja-kerja yang berpihak pada rakyat kecil.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya milik para elit, tetapi milik setiap jiwa yang lahir di bumi Indonesia.
Kemerdekaan, kesejahteraan, dan rakyat adalah tiga kata yang tak boleh dipisahkan. Jika salah satunya terabaikan, maka proklamasi tinggal menjadi catatan sejarah yang hampa.
Bung Hatta sudah mengingatkan: kepemimpinan tanpa iman, watak, dan urat syaraf yang kuat hanya akan melahirkan pemimpin yang digelayuti pujian dan caci maki. Pahlawan sekaligus pengkhianat?
Maka, marilah kita kembali pada cita-cita kemerdekaan: Indonesia merdeka, Indonesia sejahtera, Indonesia yang rakyatnya benar-benar bebas dari kemiskinan.(**)
