Sumbu Borneo

MASALAH GURU DAN SEKOLAH

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Masalah guru itu selalu sama yaitu gaji. Pun masalah sekolah juga begitu selalu sama yaitu gedung.
Tapi bukan hanya itu.
Masalah guru juga tentang martabat.Tentang penghargaan.Tentang masa depan.

Berapa banyak guru yang masih honorer ? Ribuan. Bahkan ratusan ribu.
Mereka digaji tidak lebih besar dari tukang parkir.
Dan dituntut melahirkan generasi emas.
Ironis.

Sekolah juga begitu.
Pemerintah suka pamer gedung baru. Tapi lupa, isi sekolah bukan tembok. Bukan meja kursi. Isinya adalah suasana belajar.

Dan suasana itu hanya bisa lahir dari guru yang bersemangat. Bagaimana guru bisa bersemangat kalau hidupnya sendiri tidak pasti ?

Ada guru yang mengajar pagi di sekolah negeri.
Siangnya menjadi supir ojek.
Sorenya jualan pulsa.
Malamnya masih harus membuat RPP.

Muridnya mungkin menjadi dokter. Menjadi pejabat. Menjadi pengusaha.
Tapi gurunya tetap
di situ-situ saja.

Sekolah juga punya masalah lain yaitu kesenjangan.
Sekolah di kota memiliki laboratorium lengkap.
Sekolah di desa, papan tulisnya saja sudah retak.

Kita sering berbicara revolusi pendidikan.Tapi revolusi apa yang mungkin kalau fondasinya rapuh ?

Guru adalah fondasi itu.
Sekolah adalah wadahnya.
Kalau dua-duanya bermasalah, jangan heran kalau hasilnya juga bermasalah.

*Sejatinya*

Ketika pemerintah berbicara tentang *revolusi pendidikan*, saya langsung teringat wajah seorang guru honorer di sebuah desa yang pernah saya temui. Usianya sudah lebih dari lima puluh. Rambutnya beruban. Sepulang sekolah, masih mengojek. Kadang juga membantu tetangganya panen padi. Semua itu dilakukan hanya untuk menambah uang belanja.

Ironisnya, masih mengajar di sekolah negeri. Sekolah yang dipapan namanya terpampang gagah, “Sekolah Rujukan”. Gedungnya baru dicat. Benderanya berkibar.

Di sisi lain, saya pernah masuk ke sekolah elit di salah satu kota besar. Gedungnya seperti hotel. Ada lift, ruang musik, bahkan laboratorium robotik. Muridnya belajar dengan iPad, bukan dengan buku tulis. Orang tuanya membayar belasan juta rupiah setiap bulan.

Kesenjangan itu nyata.
Sekolah kita seperti terbelah dua dunia yang mewah di kota besar, dan yang rapuh di desa.

Guru juga mengalami hal yang sama. Ada guru di sekolah mahal yang gajinya puluhan juta, lengkap dengan tunjangan. Ada pula guru honorer di pelosok yang gajinya kalah dari kuli bangunan harian.

Bagaimana mungkin kita berharap lahir *generasi emas* dari fondasi yang seperti ini ?

Di Finlandia, semua guru ditempatkan pada posisi terhormat. Menjadi guru adalah kebanggaan nasional. Syaratnya pun berat yaitu hanya lulusan terbaik yang bisa mengajar. Tapi setelah itu, negara menjamin kehidupannya. Guru tidak perlu mencari pekerjaan sampingan biar bisa fokus mendidik.

Di Jepang, guru tidak dibebani administrasi berlapis-lapis, tidak perlu membuat laporan yang akhirnya hanya menumpuk di meja birokrat. Hanya fokus mendidik murid. Tidak heran, disiplin dan etos kerja menjadi ciri khas bangsa itu.

Di kita Indonesia ?
Guru kita sibuk mengisi formulir. Sibuk mengutak-atik kurikulum yang setiap ganti menteri berubah. Sibuk menyesuaikan dengan kebijakan baru.

Sekolah kita pun lebih banyak diukur dari nilai ujian, bukan dari karakter murid. Kita terlalu sibuk memoles angka, tapi melupakan manusia.

Padahal esensi sekolah bukanlah sekadar ruang kelas. Esensinya adalah suasana, guru yang bersemangat, murid yang berani bermimpi, dan masyarakat yang percaya pada pendidikan.

Kita bisa membangun ribuan gedung sekolah baru. Kita bisa mencetak jutaan lembar buku. Tapi kalau gurunya tetap tidak dihargai, sekolah itu hanya akan jadi museum.

Pendidikan tidak bisa ditipu.
Kalau fondasinya rapuh, hasilnya juga rapuh.
Kalau gurunya terus dibiarkan bergaji kecil, kalau sekolah di desa terus dibiarkan ketinggalan, jangan harap generasi kita bisa bersaing.

Sudah saatnya kita berhenti menulis slogan besar. Dan mulai mendengar suara kecil, suara guru yang tetap setia mengajar, meski dompetnya kosong.

Karena ditangan merekalah, masa depan bangsa ini sebenarnya sedang dipertaruhkan.

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!