SULSEL.SUMBU BORNEO.ID– Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Gunung Bulusaraung Pangkep, Sabtu (17/01), pukul 12.23 Wita, sedikit demi sedikit mulai terkuak.
Disebutkan pada Pengatur Lalu Lintas Udara (Air Traffic Control/ATC) Makassar Area Terminal Services Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk bersiap menempuh jalur penerbangan tertentu sebagai persiapan guna mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Namun, ATC mengidentifikasi bahwa pesawat ternyata tidak berada pada jalur yang seharusnya.
Mengutip BBC new Indonesia, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono mengungkap bahwa prosedur sebelum menempuh jalur penerbangan yang diminta ATC dimulai dari poin bernama Araja.
Dari Araja, pesawat harus terbang menuju ke poin Openg, kemudian Kabip.
Namun, pesawat ATR 42-500 itu tidak terbang ke poin Araja.
Ketika diminta langsung memotong jalur ke poin Openg pun, pesawat tetap keluar jalur.
“Kami juga belum bisa menyampaikan kenapa alasannya,” tutur Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (20/01).
Karena poin Openg sudah terlewat, menurut Soerjanto, pesawat diminta untuk menuju ke poin Kabip supaya ATC bisa menyalakan Instrumen Sistem Pendaratan (Instrument Landing System/ILS) secara otomatis pada pesawat.
ILS berfungsi memandu pesawat untuk mendarat dengan aman dalam kondisi jarak pandang buruk, bahkan dalam kabut atau kegelapan.
Akan tetapi, pesawat terus terbang keluar jalur.
“Nah, terakhir komunikasinya bahwa ATC menanyakan apakah dia [pesawat] berbelok ke kanan dengan heading 245. Diharapkan dia heading 245 itu bisa memotong ILS itu sehingga alat pandu pendaratan otomatisnya bisa bekerja,” jelas Soerjanto.
“Nah, tapi di situ keburu pesawatnya sudah crash [jatuh],” pungkasnya.(*)
