Sumbu Borneo

RINDU KAMPUNG HALAMAN MAJENE

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh: Muh. Arsalin Aras

Ada tiris hujan mengetuk jendela, rinainya pelan menepi di kaca kamar.
Di tanah rantau, jauh dari rumah, setiap tetesnya seperti membawa kabar dari laut Majene—lembut namun dalam, menggugah rindu yang tak kunjung reda.

Merantau tak pernah sederhana.
Hidup jauh dari orang tua dan saudara mengajarkan arti kesepian yang tenang, juga keteguhan untuk bertahan.
Di tengah jarak, ada niat mulia yang menumbuhkan tegar, menukar manja dengan keyakinan bahwa doa orang tua selalu sampai, sejauh apa pun langkah berpijak.

Dalam kesunyian di sela tugas kampus dan rutinitas harian, rindu pulang sering datang tanpa permisi.
Terkadang ingin bercerita tentang lelah dan sepi, namun bibir cukup berkata:
“Alhamdulillah, di sini semuanya baik-baik saja.”
Sebab tak ingin resah itu ikut menyeberang hingga Majene.

“Maaf, Bapak–Mama… kiriman bulan ini sedikit terlambat.”
Kalimat sederhana itu kerap terdengar, tapi justru di situlah semangat tumbuh—menyemai tekad tuk segera menamatkan studi, agar kerja keras ini tak sia-sia.

Pagi datang perlahan, cahaya menembus tirai, menepuk pundak dengan lembut.
Segelas teh hangat menenangkan hati, seolah berkata :
Majeneku, aku akan pulang membawa rasa yang utuh untukmu.

Pantai Dato’ memantulkan sinar lembut sore hari, ombaknya bening seperti lembar puisi yang tak habis dibaca.

Anak-anak pantai Pangali-ali berlari menyambut nelayan yang menepi; tawa mereka seindah deburan ombak di kaki karang Batu Cincin Parappe.

Malam di Buttu Salabose turun perlahan, membawa kesejukan yang menenangkan.

Dari kejauhan, kecapi Mandar terdengar samar, seperti bisikan masa kecil yang dulu berlari di halaman rumah.

Sepanjang Lutang hingga Maliaya, pohon kelapa berdiri tegak dan gagah, berbaris menatap laut, daunnya berdesir lembut, seolah tahu siapa saja yang sedang rindu pulang.

Di antara aroma minyak kelapa dan tanah basah selepas hujan, terselip kedamaian yang sulit dicari di kota mana pun.
Majene adalah ruang teduh yang melahirkan ketabahan.
Setiap jalan, setiap tebing, setiap semilir anginnya adalah doa yang diam-diam menjaga anak-anaknya di perantauan.

Sungai Saleppa masih setia mengalir,
Pantai Rewata’a tetap berkilau di bawah cahaya senja,
Pulau Taimanu tak kehilangan kejernihannya,
dan harum kaweni Malunda masih tercium di sepanjang jalan.
Di Ulumanda, udara tetap sejuk memeluk, dan Buttu Adolang menebar aroma damai di bawah langit Mandar yang biru.

Majene bukan sekadar tanah kelahiran.
Ia rumah bagi jiwa yang ingin tenang, tempat setiap rindu akhirnya berlabuh.

Majene, negeri yang tak lekang oleh waktu—
di sanalah kenangan menunggu,
dan di sanalah langkah akan kembali,
menemukan dirinya sendiri.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!