Oleh : Muslimin.M
Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang korupsi, baik yang OTT maupun yang dijemput dengan tangan terborgol. Mulai dari kementerian sampai desa. Dari pejabat teri sampai yang sudah pensiun.
Seolah tidak ada habisnya.
Padahal hukuman sudah cukup berat. Penjara bertahun-tahun. Harta disita. Nama tercemar.Tapi tetap saja ada yang tergoda.
Kenapa ?
Karena korupsi itu bukan soal uang. Itu soal budaya. Soal mental. Soal ketamakan. Dan soal cinta dunia yang berlebihan
Kalau melihat orang lain kaya mendadak, merasa biasa.
Kalau mendengar proyek pasti ada *fee*, dianggap wajar.
Kalau kenalan cerita dapat *jatah*, kita hanya tersenyum.
Itulah masalahnya.
Korupsi sudah dianggap normal. Dan dianggap biasa saja.
Saya sering mendengar perkataan banyak orang, “Kalau tidak korupsi, tidak hidup.”
Bahaya sekali. Itu artinya negara ini sedang kalah perang. Perang melawan dirinya sendiri.
Solusinya bukan sekadar menambah KPK, memperpanjang hukuman.
Solusinya mengubah cara pikir. Mengubah mindset. Bahwa uang banyak tidak berarti bahagia.
Bahwa kaya mendadak itu justru mencurigakan.
Bahwa pejabat bersih harus dihormati, bukan diejek.
Kalau itu tidak terjadi, berita korupsi akan terus seperti sekarang, setiap hari, setiap minggu, setiap tahun. Bahkan menjadi berita yang tidak berarti.
Ada yang berpandangan bahwa korupsi sekarang seperti profesi tambahan. Bahkan lebih menjanjikan daripada profesi lainnya.
Kenapa?
Karena gajinya bisa miliaran.
Cepat kaya.
Dan kalau ketahuan ? Paling lima sampai enam tahun di penjara. Itu pun sering dipotong remisi.
Coba bandingkan.
Guru 30 tahun mengabdi, pensiun dengan uang pas-pasan.
Koruptor 3 tahun menjabat, pensiun dengan tabungan ratusan miliar.
Koruptor tidak takut lagi.
Karena hukuman kurang memberi efek jera.
Dan masyarakat ? Tidak benar-benar marah.
Paling hanya heboh seminggu. Setelah itu lupa.
Makanya korupsi semakin ramai.
Semakin ke atas, semakin besar.
Bahkan kadang satu keluarga. Satu dinasti.
Seakan jabatan itu bukan amanah.Tapi mesin ATM.
Lucunya, setelah tertangkap, masih ada yang bilang,
“Beliau orang baik. Hanya khilaf.” Atau, “Itu bukan untuk pribadi, tapi untuk yang lain. ”
Begitu gampangnya dosa dibungkus alasan.
Begitu murahnya akal sehat dijual. Begitu rendahnya hati nurani.
Kalau begini terus, negeri ini tidak butuh musuh dari luar.
Musuhnya ada didalam.
Di kursi kekuasaan.
Di balik meja rapat.
Di tanda tangan anggaran.
Dan yang lebih mengerikan, kita sudah mulai terbiasa.
Terbiasa mendengar pejabat ditangkap.
Terbiasa mendengar kata suap.
Terbiasa menganggapnya wajar.
Kalau rasa biasa itu sudah merata, tamatlah kita. Selesailah kita. Kita benar-benar terpuruk.(*)
