Sumbu Borneo

MAKAN BERGIZI GRATIS

Ilustrasi
Opini-SumbuBorneoID
Bagikan :

Oleh : Muslimin.M

Saya masih ingat betul ketika pertama kali mendengar istilah itu. Makan bergizi gratis. Rasanya seperti mimpi. Sesuatu yang terlalu indah untuk menjadi nyata di negeri ini. Negeri yang kadang lebih pandai berjanji daripada menepati.

Minggu lalu, saya menyaksikannya sendiri.
Di sebuah SD negeri. Anak-anak berbaris.Tidak untuk menerima vaksin. Tidak untuk menunggu pembagian buku. Tapi menunggu nasi, sayur, tempe, dan telur. Gratis.

Saya tertegun. Betapa sederhananya.Tidak ada menu mewah. Tidak ada daging impor.Tapi wajah anak-anak itu bersinar. Menyambut makan siang itu seperti sebuah pesta.

Para pejabat mungkin sibuk berdebat di Jakarta. Tentang anggaran.Tentang defisit. Tentang prioritas. Tentang korupsi. Semua masuk akal. Semua ada benarnya. Tapi di desa itu, perdebatan itu tidak terdengar.Yang terdengar hanya suara sendok bertemu piring.

Banyak yang khawatir program ini tidak berumur panjang. Ada yang pesimis, akan tumbang di tengah jalan. Ada yang sinis, ini hanya proyek politik.

Saya juga khawatir.Tapi wajah anak-anak itu membuat saya ingin menunda sinisme. Karena
di balik semua keraguan, ada satu kebenaran sederhana, otak tidak bisa bekerja kalau perut kosong.

Mungkin benar, ini investasi besar.Tapi apa yang lebih besar daripada menyiapkan generasi sehat ?
Kita sudah terlalu sering kehilangan masa depan hanya karena mengabaikan hal-hal kecil yaitu gizi, kesehatan dan kebersihan.

Hari itu, saya menyaksikan anak-anak pulang dengan perut kenyang. Mereka berlari, tertawa, bercanda. Masa depan setidaknya untuk hari itu terlihat sedikit lebih cerah.

Saya jadi ingat masa kecil saya sendiri. Berangkat sekolah dengan perut kosong. Kadang hanya sarapan air putih.
Lauk ? Ikan asin. Kadang hanya nasi putih sepotong telur. Itu pun kalau ada.

Di zaman itu tidak ada yang bicara soal gizi. Tidak ada program makan gratis. Tidak ada APBN yang disisihkan khusus untuk perut anak sekolah.

Sekarang, anak-anak itu bisa duduk makan bersama. Gratis dan Bergizi.

Saya tahu, diluar sana perdebatan sengit berlangsung. Ada yang bilang program ini tidak realistis. Anggaran negara sudah megap-megap. Defisit di mana-mana. Makan gratis hanya akan menjadi beban baru.

Ada yang lebih sinis, ini hanya proyek politik. Sebentar lagi menjadi ladang korupsi. Aroma sedapnya lebih terasa di meja birokrat daripada di dapur sekolah.

Saya tidak menyangkal. Semua kemungkinan itu ada. Negara ini sudah terlalu sering mengubah niat baik menjadi bencana anggaran.

Tapi wajah anak-anak itu membuat saya ikut optimis. Anak-anak itu tidak pernah minta dihitung-hitung defisit, tidak peduli siapa presidennya. Anak-anak itu hanya butuh makan hari ini.

Terus terang saja bahwa pertanyaan sebenarnya, bukan apakah negara sanggup membiayai ?
Tetapi apakah pejabatnya sanggup jujur ?

Karena anak-anak itu tidak bisa menunggu.
Dan perutnya tidak bisa menunda.(*)

Berita-Terkait

Leave a Comment

error: Content is protected !!